The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Trio Kampret dan Romeo


__ADS_3

Jakarta, Indonesia


Valentino menerima telepon dari Hoshi yang mengatakan bahwa semua sepupunya termasuk Sadawira, harus masuk hotel prodeo tanpa bisa diawasi oleh mereka.


"Apa tidak bisa disusupkan CCTV nya Tante GM? Minimal satu atau dua kancing itu lah macam yang dipakai papa macan?" tanya Valentino.


"Ini Tante GM mu baru datang sama Oom bontot mu. Dan dua hari ini pasukan hajar bleh ditahan di gedung pengadilan V, belum kembali ke penjara Federal."


"Gimana caranya deh papa macan. Kacau nanti kalau tidak bisa terpantau. Aku yakin mereka pada tidak terima kalian bongkar aib dan boroknya" ucap Valentino.


"Kamu tenang saja V. Kami semua sudah memikirkannya dan kita memang berada di Hongkong, daerah kekuasaan pemerintah Hongkong tapi skandal ini sudah mendunia dan banyak yang mendukung kami sih."


"Papa macan, apa kalian tidak khawatir jika tidak ada yang mau bekerjasama dengan perusahaan - perusahaan kalian?"


"Mereka yang rugi! Soal bisnis dan personal memang tidak bisa dicampur adukkan tapi jika mereka tahu bagaimana profesional nya kami, mereka akan tahu jika kami tidak akan bersikap aneh-aneh kalau tidak ada pasal. Toh semua orang akhirnya tahu kalau Jayde dan Wira adalah korban keserakahan oknum-oknum kepolisian dan agensi HKSS" jawab Hoshi.


"Thanks for the publicity team ya pa..." kekeh Valentino.


"Ohya, kalian memang gedubrakan tapi kami para ayah sudah mempersiapkan jauh-jauh hari."


"Sejak kapan papa macan tahu?"


"Dua bulan sesudah pernikahan Deya dan Raveena. Sebenarnya kami sudah mencium ada sesuatu yang tidak beres tapi kami masih menunggu kalian ngomong dan tidak ada yang ngomong! Kalian itu memang deh!" omel Hoshi.


"Lho papa macan jangan marah sama aku dong! Aku saja baru tahu sebelum acaranya Arka jadi sebenarnya kalian tahu lebih dulu dari aku" protes Valentino.


"Hhhhmmm."


"Papa macan, apakah masih lama buat bawa mereka semua keluar dari Hongkong?"


"Semoga tidak lama lagi, kami semua keluar dari Hongkong."


***


Dua Hari Kemudian...


Arkananta dan Valentino memutuskan makan siang bersama di sebuah cafe dekat gedung PRC. Keduanya menunggu Romeo datang dari rumah sakit untuk mengobrol karena sejak memiliki Aizen, Romeo dan Juliet jarang bertemu kecuali saat weekend.


Tak lama ipar dan sahabat mereka pun datang. Romeo tampak lelah tapi senang melihat Valentino dan Arkananta.


"What's up bro." Valentino dan Arka saling menyapa dan memeluk Romeo bergantian.


"Kamu tampak lelah, Rombeng" goda Valentino.


"Well, punya bayi itu memang melelahkan apalagi Jules tidak mau memakai jasa baby sitter" senyum Romeo. "Dia ingin full parenting Ai."


"Jules akhirnya cuti lama dong Rom?" tanya Arkananta.

__ADS_1


"Akhirnya resign" gelak Romeo. "Aku masih bisa menghidupi istri dan anakku kok boys."


"Jules nggak usah kerja juga dapat duit kok. Maaf Rombeng, bukannya mengecilkan hatimu..."


"Aku tahu itu V. Tapi itu uang Jules jadi aku tidak akan utak Atik. Kewajiban aku sebagai suami masih bisa aku penuhi kok lagipula Jules kan lebih mementingkan kebutuhan Aizen daripada dirinya. Kata Jules, dia sudah cukup lama senang-senang sama aku jadi sekarang ingin menikmati untuk Aizen" Romeo menyesap es choconya. "Kamu kan tahu sendiri Jules bukan tipe cewek sosialita."


"Yup. Katya pun tidak padahal kalau dirunut masih ada hubungan dengan keluarga kerajaan Spanyol tapi kita lebih suka hidup apa adanya."


"Apalagi Ara. Yang penting dia dapat es Dino Milo jumbo, sudah bahagia meskipun sempat ngambek..." kekeh Arkananta.


"Sogokannya murah amat!" celetuk Valentino dan Romeo.


"Iyeee murah, tapi tempat belinya yang spesifik! Harus dekat rumah sakit PRC. Kan muter tuh kalau dari apartemen aku!" gerutu Arkananta. "Untung sayang."


Romeo dan Valentino terbahak mendengar keluhan Arkananta.


"So, ada apa ini ipar-iparku mengajak makan siang?" tanya Romeo.


"Sudah mendengar kejadian di Hongkong?" tanya Valentino.


"Iya. Bagaimana sekarang mereka?" Romeo menatap Arkananta dan Valentino.


"Well, semalam terjadi tawuran di penjara" jawab Arka.


"Whaaattt?" Romeo melongo. Dokter jantung itu tampak tidak percaya. "Tawuran? Kok macam film-film saja."


"Tapi memang terjadi. Rupanya semua itu anggota kepolisian dan beberapa preman yang direkrut untuk menghajar anak-anak di penjara."


"Exactly!" cengir Arka. "Disana isinya anak-anak hobi tarung dan kamu tahu, agen senior Mossad adalah pemegang sabuk tertinggi krav maga. Eli Yaqub itu rupanya trainer semua agen Mossad di Tel Aviv."


"Mampoos!" celetuk Romeo. "Tapi tidak ada yang mati kan?"


"Nope. Dan hari ini akan dilakukan penyelidikan oleh pihak Kehakiman dan Kejaksaan..."


"Tapi V, mereka kan juga sama saja!" potong Romeo.


"Diviralkan tahu!" kekeh Arkananta.


"Hah?"


"Seluruh dunia sedang menyoroti kinerja kepolisian Hongkong ditambah dengan kasus pengeroyokan di penjara" senyum Valentino.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Romeo.


"Kamu tahu Rom, Damian mendapatkan CCTV kancing dari Tante GM dan menyempatkan menempelkannya di tembok penjara sebelum terjadi tawuran. Dan oleh Oom Benji dibuat viral, ditambah dengan publicity dari keluarga, Bang! Viral!" kekeh Arkananta.


"Kita memang biasanya lebih suka low profile tapi ini tidak bisa dianggap remeh, Rom. Mereka berusaha menjatuhkan kami, mental kami tapi mereka lupa kita siapa" senyum Valentino.

__ADS_1


"Duh semoga saat Garvita dan Gabriel menikah, kalian semua sudah keluar Hongkong."


"Aamiin!"


***


Tokyo Jepang, Taman JAXA... Jam makan siang


Shinichi dan Kedasih menahan nafas saat melihat semua sepupunya berkelahi di lorong sel penjara. Keduanya tidak habis pikir kenapa masih pada nekad melakukan penyerangan ke para generasi keenam.


"Mas Shin, kok mereka tetap nekad ya?" ucap Kedasih.


"Mereka belum tahu aja kalau kakak dan adikku hobinya berantem di Dojo."


"Mas Shin, itu Ken dan Bang Omar kenapa nggak boleh ikutan berantem?" tanya Kedasih.


"Well, Gasendra tahu Ken dokter bedah dan tidak mau tangannya cidera jadi dilarang berantem... Oh kamu nggak paham ya soalnya Gasendra ngomong sama Ken pakai bahasa Arab."


"Iya. Aku nggak ngerti tadi mas Sendra teriak apa."


"Kalau bang Omar, kan bahunya cedera jadi takut sobek jahitannya."


"Mas Shin, sebenarnya mas Shin itu bisa bahasa berapa sih?" Kedasih menatap kekasihnya.


"Kenapa gitu?"


"Kok paham omongan Mas Sendra dan Ken?"


"Well, aku bisa banyak bahasa termasuk bahasa burung..." Shinichi menatap Kedasih serius.


"Hah? Serius?" Kedasih melongo. Apa lagi kemampuan pria imut ini? Jujur Kedasih sangat tidak bisa memprediksi apa yang ada di otak kekasihnya.


"Serius.. Nih dengar ya... Tekukur... Tekukur... Tekukur..."


Kedasih menatap tidak percaya ucapan itu keluar dari mulut Shinichi.


"Mas, bukankah itu bahasa universal burung merpati?"


"Setidaknya aku bisa bahasa burung Dash!" cengir Shinichi.


Kedasih menutup wajahnya gemas.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2