The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Rahasia Arabella


__ADS_3

Ruang kelas mahasiswa Arsitektur


Arabella tampak serius mengikuti perkuliahan perdananya ditambah dengan hadirnya Arkananta, semakin membuatnya bersemangat supaya tidak membuat malu pria itu.


Meskipun wajahnya tampak serius, tapi diam-diam Arabella melirik ke arah Arka yang juga serius menatap semua mahasiswa disana. Sesekali Arka tampak menimpali penjelasan pak Jos setelah dosen itu memberikan contoh proyek yang dibuat Arka awal kuliah dulu.


Arkananta melihat ke arah dosennya yang ternyata masih ingat desain awal rumah pertama dibuatnya. Bukan sesuatu yang aneh karena Arka memakai desain rumahnya sebagai contoh.


Pak Jos memperlihatkan bagaimana desain yang dibuat Arka awal membuat pria itu melongo. Buset! Masih disimpan ajah?


"Arka awal membuat desain dari yang sederhana. Rumahnya sendiri yang kebetulan sudah estetik. Saya suka gambar rumahnya meskipun masih belum sempurna cara membuatnya. Lihat ini! Tapi Arka mampu membuat saya bisa membayangkan 'Oke. This house is beautiful and have value'. Yang membuat saya kaget saat saya bertanya pada Arka, ternyata ayahnya yang mendesain padahal saya tahu ayahnya bukan arsitek. See, semua orang bisa membuat denah, tapi tidak semua orang mampu mengimplementasikan dengan baik. Ayah Arkananta, bukan arsitek tapi bisa keduanya, desain dan implementasi. Jadi pola pikir empat dimensi yang dimiliki ayah Arka, tidak semua orang memilikinya. Itu karena otak dan logika main selain sense of art. Awalnya saya merasa Arka tidak bisa seperti ayahnya tapi saya salah. Arka jauh dari ayahnya. Gambar awal ini hanyalah one step before he shows his talent."


Arkananta melongo mendengar penjelasan doesnnya yang terkenal killer itu bisa memuji dirinya sedemikian rupa. Gue ngimpi apa semalam? Apa ngimpi gampar si Minion jadi gue dapat lotere pagi ini?


"Jadi, kalian semua punya talent dan sense masing-masing. Find it and explore it!"


Kuliah hari ini pun selesai lalu Arka mengikuti dosennya itu dengan banyak pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.


"Kamu penasaran bagaimana saya bisa berkata demikian di forum?" tanya Pak Jos saat Arka menjejeri jalannya.


"Iya pak. Saya tidak tahu bapak sampai segitunya..."


"Arka. Saya adalah langganan bengkel papa kamu. Papamu itu kan Bimasena Baskara tho? Yang punya bengkel Bim's Garage. Nah, saat saya memasukkan mobil saya, bertemu langsung dengan papa kamu."


"Pak Jos ketemu papa saya? Kok papa nggak cerita ya?"


"Karena saya meminta agar kamu tidak tahu. Papa kamu dengan bangganya bercerita bagaimana kamu mendesain bengkel papamu satu lagi di area PIK serta dua toko milik keluarga kalian. Dan saya kagum dengan cara prespektif kamu menuruti bayangan papamu. Your designs were awesome."


Arka melongo. Dosen yang biasanya irit bicara dan judes, bisa ngobrol banyak dengannya. "Pak, bapak kok bisa ngomong banyak begini? Biasanya medit..."


Pak Jos menghentikan langkahnya. "Soalnya saya suka mahasiswa pintar. Kamu salah satu mahasiswa favorit saya, tidak pernah macam-macam tapi otak jalan."


"Aduh pak, saya jadi tersandung gunung Fuji."


Pak Jose tersenyum smirk. "Jangan bilang-bilang kalau kamu saya puji."


"Oh tidak pak. Suatu kehormatan bagi saya itu."


"So, kita bicarakan skripsi kamu. Apa kamu sudah ada bayangan?"


"Kantor cabang bank Artha Jaya di PIK. Direktur Utamanya sudah meminta saya mendesainnya yang lebih estetik dan Indonesia."


"Apakah kamu kenal baik dengan direktur utama nya?"

__ADS_1


"Sangat baik. Soalnya Oom saya sendiri" cengir Arka.


"Alasannya?"


"Oom Bagas melihat desain saya di bengkel papa dan meminta saya untuk membuatnya di PIK karena cabang disana hendak pindah lokasi."


"Tunggu. Bukankah direktur utama nya Bagas Hadiyanto ?"


"Iya."


"Itu Oom kamu?"


"Iya pak."


"Jadi kamu bahan skripsi sudah ada?"


"Iya pak."


"You're so lucky."


"Alhamdulillah. Karena saya awalnya hendak memilih proyek membuat rumah tapi ketika Oom Bagas menawarkan, why not. Ini suatu tantangan bagi saya yang anak bawang meskipun sudah biasa ditraining di perusahaan mama."


"Bukankah ini sedikit nepotisme?"


"Oke. Saya akan membimbing kamu. Karena tidak hanya nama kamu yang dipertaruhkan, tapi juga nama saya sebagai dosen pembimbing kamu."


***


Pak Jos tahu siapa keluarga Arka meskipun mahasiswa nya itu lebih suka menutupi jati dirinya. Dan Pak Jos mengakui, desain Arka out of the box, memadukan antara gaya retro dan modern hingga menjadi kombinasi yang balance.


Sebagai orang yang bekerja di dunia desain arsitektur, siapa yang tidak mengenal Arimbi Giandra Baskara, ibu Arkananta, yang terkenal sebagai desainer interior di PRC Group. Arsitek cakap dan memiliki jiwa artistik tinggi bekerja di perusahaan kontraktor dan arsitektur tertua di Indonesia.


Perusahaan yang dibangun oleh Arga Pratomo yang kemudian dilanjutkan oleh ketiga anaknya hingga ke generasi kelima yang memimpin sekarang, malah semakin diakui kwalitasnya. Pak Jos tersenyum smirk. Tidak heran jika Arkananta mendapatkan talent seperti itu karena kedua orangtuanya adalah orang yang memiliki talent yang sama.


Gen itu tidak bohong. Kwalitasnya bisa dibawah atau diatas generasi sebelumnya dan Arka dikaruniai gift yang awesome.


Pak Jos merasa terhormat menjadi dosen pembimbing Arka karena dia bisa bertemu langsung dengan orang-orang hebat di lingkungan keluarga Arka.


Anggap saja simbiosis mutualisme.


***


"Heh cewek centil!"

__ADS_1


Arabella yang sedang berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya hanya menghela nafas panjang. Apalagi si cewek micin itu? Arabella memilih tidak meladeni Salsabila yang mengganggunya sejak ospek.


"Heh! Culun! Arabella!"


Arabella menoleh. "Are you talking to me?" tanya Arabella dengan gaya Robert DeNiro di film klasik Taxi Driver.


"Iya! Ga usah sok kamu! Mentang-mentang dibela sama Arka jadi ngelunjak kamu!" bentak Salsabila di parkiran yang membuat banyak orang melihat mahasiswa senior itu bersama teman-temannya mengeroyok Arabella.


Arabella melihat pengawal merangkap sopirnya hendak maju tapi gadis itu memberikan kode agar diam di tempat. Pengawalnya yang bernama Bernard, hanya diam tapi sambil tetap mengawasi nonanya.


"Mau kamu apa?" tantang Arabella dingin.


"Jauhi Arka!"


"Hah? Ya nggak bisa! Aku kan kuliah disini! Gimana mau jauhi Kak Arka? Aneh lu!"


"Eh berani ya kamu!"


"Lha masa aku harus ketakutan? Terus teriak, tolong... tolong... aku mau Dikeroyok... Gitu? Situ yang nggak berani! Masa mendatangi cewek imut macam aku seperti ini dengan bawa lima bodyguard... Iiiihhh takut aku!" ucap Arabella yang membuat orang-orang yang melihatnya tertawa.


Arka yang hendak menuju ke mobilnya melihat kerumunan itu, penasaran. Dan pria itu menepuk jidatnya melihat Arabella dengan santainya menghadapi Salsabila.


"Kamu itu junior! Harusnya menghormati kakak kelas dong!"


"Lha kalau kakak kelasnya modelan elu, apa yang harus dihormati? Kagak ada neng! Sebelum elu minta dihormati, harusnya kamu menghormati orang dulu. Nanti seiring berjalannya waktu, akan saling menghormati. Bukan begitu gaeesss?" Arabella meminta pendapat orang-orang yang berkerumun.


"Bener tuh!" ucap orang-orang disana.


"Kamu itu..." Salsabila langsung menyerang Arabella yang sudah siap dan langsung menggunakan teknik membanting judo, gadis imut itu membanting Salsabila dengan telak membuat semua orang terdiam.


"Aduh, kebablasan" ucap Arabella. "Duh, apa aku lupa bilang kalau aku sudah sabuk coklat judo? Juara nasional SMA?"


Arkananta memegang pelipisnya. Kejadian lagi deh!


Salsabila hanya bisa meringis kesakitan.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2