
Pagi ini trio kampret memutuskan berangkat ke Indramayu menggunakan Mercedes G-Class warna hitam milik Arkananta. Mereka membawakan ikan salmon yang diminta Zinnia dan disimpan di dalam cooler.
"Gasendra sudah di Indramayu?" tanya Arka yang menyetir.
"Sudah. Ini sudah di rumah sama Mbak Zee dan Jasmine." Shinichi membaca chat di ponselnya. "Ini Damian laporan kalau bang Sean ke Dubai lagi."
"Masih kekeuh tuh bang Sean?" Valentino menoleh ke arah Shinichi yang duduk di belakang.
"Masih lah V. Kan bang Sean sebenarnya cinta mati sama mbak Zee tapi kan kita tahu sendiri, mereka masih belum bisa rekonsiliasi apalagi Oom Ayrton dan Opa Karl masih mode marah."
"Wajar lah..." ucap Arka.
Valentino membuka ponselnya untuk mencari tahu seseorang yang dicarinya usai lulus SMA tidak ada kabar. Kemana anak itu? Katanya ke Barcelona tapi orang yang aku suruh cari tidak ketemu. Pria tampan itu memandang ke arah luar jendela.
Mana nomer ponselnya juga tidak aktif. Valentino menghela nafas panjang berulang kali membuat Arkananta menoleh.
"Elu kenapa Parkir Valet?"
"Nggak papa." Valentino melihat ponselnya lagi.
"Mbak Zee katanya masak lodeh sama ikan asin. Ada sambal dan kerupuk plus tempe goreng" lapor Shinichi.
"Enak tuh!" ujar Arka.
"Ah elu mah semua makanan cuma ada enak dan enak sekali kecuali kayu dan batu" kekeh Valentino.
"Nikmat mana yang kau dustakan? Ikan asin, nasi panas, sambal, tempe goreng, kerupuk plus sayur lodeh. Uuuuhhhh aku sudah ngeceesss!" Arka mengelap mulutnya.
"Jorok ih!" sungut Valentino.
"Biarin!"
***
Tiga jam kemudian mobil mewah itu tiba di rumah dengan gaya Amerika bertembok batu warna krem setelah dipersilahkan masuk oleh penjaga rumah keamanan Al Jordan dan Ramadhan Securitas.
Shinichi langsung heboh melihat pemandangan sawah luas yang tampak dari kisi-kisi pagar tembok. "Wah, mbak Zee panen raya lagi ini!"
"Alhamdulillah lah, Shin. Rejeki anaknya mbak Zee" ucap Arka sambil membuka bagasi mobil.
"Assalamualaikum" sapa Valentino dan tampak seorang remaja seumuran trio kampret keluar dari pintu utama yang terbuka.
"Wa'alaikum salam." Gasendra menghampiri ketiga sepupunya.
"Kenapa sih anak-anak Dubai pada gelontor tingginya? Bikin gerhana tahu nggak!" umpat Valentino yang kesal kalah tinggi dengan Gasendra.
"Bukannya itu ucapannya Oom Hoshi ke papa dan para Oom Emir" kekeh Gasendra.
"Kan gue anaknya, Sendra!"
"Sudah pada datang?" Zinnia keluar dengan perutnya yang membuncit.
__ADS_1
"Mbak Zeeeee!" Shinichi langsung menghambur memeluk kakaknya.
"Woooiii! Ini dibawa dulu kampret! Shinchaaannn!" teriak Arka yang terpaksa menahan cooler dengan pahanya gara-gara Shinichi main lepas pegangannya.
"Aku mau berpelukan sama keponakan aku dulu, Arkaaaa. Halo keponakan Oom Shinichi yang yakin Solihin madarun pasti ganteng dan imutnya macam Oomnya ini. Boy, ingat-ingat ajaran Oom Shinichi. Memelaslah kalau ingin sesuatu karena pasti berhasilnya."
Ketiga pria tampan itu hanya melongo sedangkan Zinnia cekikikan mendengar ucapan absurd adik sepupunya.
"Jangan diajarin kayak gitu, kungkang!" hardik Valentino yang membantu membawakan cooler bersama Arkananta sedangkan Gasendra membawa duffle bag mereka.
"Lho itu ajaran yang bagus daripada nangis guling - guling model tantrum begitu, kan nggak elok" sahut Shinichi cuek sambil memeluk Zinnia.
"Ya ampun mbak, si Shinchan disuruh pulang aja! Bikin sepet mata!" omel Gasendra.
"Eh sudah-sudah. Yuk makan siang dulu" ajak Zinnia sambil digandeng Shinichi.
"Mbak Zee terlalu manjain si kungkang!" sungut Valentino.
"Lho memang kenapa? Shinichi nggak salah kok" jawab Zinnia yang membuat Shinichi semakin mendongak sombong.
"Mbak, mbok sekali-kali Shinchan kamu marahi kenapa? Kacau deh!" pinta Gasendra.
"Lho kalau Shinchan nakal ya dimarahi tho dik" kekeh Zinnia yang sekarang sudah duduk di kursi makan. Kehamilannya ini memang lebih membuatnya cepat lelah apalagi bayinya termasuk aktif kalau mendengar suara para oomnya yang trio kampret.
"Mbak Zee masih fase ngidam nggak?" tanya Arkananta.
"Mbak pengen pretzel dengan resep asli Jerman."
"Lha, Jasmine nggak bisa buat?" Valentino menatap pengawal pribadi kakaknya.
"Coba aku hubungi Oom Rajendra, boleh nggak pinjam chefnya di RR's Meal buat kemari membuatkan pretzel." Arkananta melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas siang yang berarti New York pukul sepuluh malam dimana biasanya Rajendra masih ada di restoran.
"Kok mbak nggak bilang?" tanya Gasendra yang memang baru datang semalam dari Bandung.
"Mbak nggak mau repotin, dik."
"Namanya ngidam itu harus dituruti mbak. Aku nggak mau keponakan aku ngeces nanti" sahut Shinichi.
"Soalnya kamu tukang ngeces, Shin" gelak Valentino.
"Eh nggak yaaa! Enak saja! Tanya mommy, aku itu anak paling manis kalau tidur. Kata mommy aku tuh sangat menggemaskan, tahu nggak? Tanya mbak Zee!" balas Shinichi sebal.
"Iya, kamu memang imut kok, Shin" kekeh Zinnia.
"Nah kan! Mbak Zee saja mengakuinya dan berarti keponakan aku bakalan sama imutnya sama aku."
"Asal kelakuan nggak mirip kamu saja Shin. Bisa puyeng mbakku!" cebik Gasendra.
"Mbak, kata Oom Jendra nanti chef Alan akan disini buat bikin pretzel. Besok kita jemput saja pagi-pagi, mumpung Minggu pasti sepi lah." Arkananta laporan ke Zinnia.
"Eh jangan lupa ini long weekend lho, kan Senin libur" celetuk Valentino.
"Makanya kita pagi-pagi V. Nanti chef Alan disini sampai fase ngidam mbak Zee berkurang. Mbak Zee minta makanan Eropa, chef Alan ahlinya."
__ADS_1
"Duh, mbak Zee jadi nggak enak."
"Kata Oom Jendra demi cucu."
"Udah mbak, namanya orang ngidam kok" senyum Shinichi. "Yuk makan! Aku lapar nih!"
Lodeh ikan tempe sambal
***
Usai makan siang, Valentino masuk ke dalam kamarnya untuk membuka email dari tabnya. Dirinya sangat penasaran keberadaan gadis bermata biru yang menarik perhatiannya sejak SMA.
Serius amat lu bang
Suara ponselnya membuat Valentino mengambil dari tasnya dan mengangkat nya.
"Sudah ketemu?" tanyanya tanpa basa basi.
"Terakhir dia ada di Barcelona lalu pindah kuliah ke Swiss, Mr Reeves."
"Swiss?"
"Iya benar. Tepatnya di Geneva. Nona Katya kuliah di University of Geneva. Dia mengambil psikologi." Orang kepercayaan Valentino melaporkan.
Bukannya itu kampusnya mbak Zee dulu kuliah? Jadi si mata biru adik kelasnya mbak Zee?
"Oke. Terimakasih. Nanti aku kirim uang untuk bayaran kamu. Oh, setelahnya kamu pergi ke Geneva, awasi Katya karena aku tidak bisa kemana-mana selama masih kuliah di Jakarta."
"Baik Mr Reeves. Oh, maaf saya lancang tapi bukankah kakak anda Miss Zinnia Schumacher alumni University of Geneva juga?"
"Betul. Kenapa?"
"Saya bisa masuk kesana dengan alasan Miss Zinnia."
"Terserah kamu yang penting kamu berikan laporan ke saya."
"Baik Mr Reeves."
Panggilan itu pun selesai dan Valentino mulai berselancar mencari tahu kampus almamater Zinnia.
Akhirnya ketemu juga!
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️