The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Pembunuh Berantai


__ADS_3

Bandara JFK New York


Chris Bradford mendatangi TKP karena mendapatkan laporan kalau Arka dan Arabella terlibat dalam kasus percobaan penculikan seorang wanita Asia. Pria yang selalu tampil kalem itu tampak mengeraskan rahangnya karena tidak menyangka dua keponakannya berada di tempat yang salah dan waktu yang salah.


Suami Alea Hamilton yang notabene adalah pewaris kerajaan bisnis Hamilton, datang ke ambulans tempat korban, Arka dan Arabella dirawat. Chris merasa lega melihat kedua keponakannya baik-baik saja.


"Kalian berdua baik-baik saja?" tanya Chris ke kedua keponakannya.


"Alhamdulillah baik-baik saja Oom. Untung ada bang Pedro" jawab Arka sambil salim ke Chris begitu juga dengan Arabella.


Chris menoleh ke arah Pedro yang sedang berkoordinasi dengan pihak NYPD. "Kalian disini dulu, Oom ke Pedro dulu."


"Baik Oom."


Chris menghampiri Pedro yang tersenyum ke arah Oomnya. "Oom Chris eh... Kapten Bradford."


"Agent Pascal." Chris tersenyum karena panggilan Pedro seperti di luar pekerjaan. "Apakah itu suspect nya?"


"Sepertinya karena dilihat dari CCTV sebelumnya postur tubuh hampir sama."


"Tapi... " Mata biru Chris menatap Pedro yang tahu wajah keponakannya seperti tidak yakin. "Kamu merasa bukan dia unsub nya?"


"Iya Kapten. Ada sesuatu yang aneh. Dan aku merasa... lebih dari satu unsub dan ada koordinatornya."


Chris mengangguk. "Macam Siccarius?"( Criminal Minds Evolution ).


"Short of. Hanya bedanya Siccarius mengambil korban sesuka nya tanpa ada persamaan ras atau jenis kelamin, kalau yang ini spesifik wanita ras Asia." Pedro menatap serius ke semua jajaran task force yang menangani kasus ini. Bahkan media massa sudah menyebut sang pelaku dengan panggilan 'Asian Ladies Killer'.


"Oke, kamu temui SSA Reid di gedung FBI bersama para tim kasus ini dan berkoordinasi dengan FBI New York. Aku akan mengurus Arka dan Arabella" putus Chris Bradford.


Kapten itu masih mengatur semua anak buahnya lalu menghampiri Arkananta dan Arabella yang sudah selesai memberikan keterangan tambahan.


"Ayo pulang. Mana mobilmu Ka?" tanya Chris ke Arkananta yang menunjukkan mobilnya.


"Simpan Ruger kamu, Ka. Oom akan tanggungjawab karena kamu membawa senjata untuk membela diri. Mobilmu biar dibawa officer Zicco dan kalian berdua ikut Oom" perintah Chris.


"Oom, apa pak Dapid tahu?" tanya Arka.


"Iya Oom. Apa papa tahu?" sambung Arabella.

__ADS_1


"Tentu saja tahu. Dan asal kalian tahu, kalau tidak ditahan Oom, malam ini bakalan berangkat ke New York." Chris tersenyum smirk.


"Gaswat kalau pak Dapid sampai datang... Bisa rusuh!" gumam Arkananta.


***


Mobil Dinas Chris Bradford


"Bang Pedro merasa itu bukan pelaku utamanya?" tanya Arka bingung.


"Iya karena modus operandi nya berbeda dengan penculikan sebelumnya di Starbucks Manhattan" jawab Chris. "Meskipun postur sekilas mirip tapi dengan detail nanti bisa dilihat perbedaannya."


"Oom, sebenarnya kenapa sih pada mengincar wanita Asia? Usianya sepantaran atau random? Apa ada ciri khas spesifik lainnya?" tanya Arabella.


Chris Bradford tersenyum. "Dasar anaknya David yang mantan polisi pasti pola pikirnya berbeda. Rentang usia rata-rata Diatas tiga puluh tahun dari empat korban dan tadi korban kelima yang nyaris kehilangan nyawanya, juga berusia 31 tahun."


"Aku rasa itu bisa jadi dia pernah patah hati atau punya dendam pribadi dengan wanita Asia yang umur segitu..." gumam Arabella. "Begitu yang aku tonton di Crime Investigation. Biasanya pembunuh berantai melakukan karena untuk kepuasan s3ksual akibat disfungsi s3ksual. Macam Dennis Rader pembunuh BTK, dia tidak puas dengan hidupnya jadi meskipun dia punya pekerjaan tetap dan jemaat di gereja, tapi keinginan membunuh itu ada. Seperti yang diucapkan para pembunuh berantai, sekalinya kamu bisa membunuh dengan mudah, maka selanjutnya lebih gampang."


Chris dan Arkananta serta sopir Chris yang juga seorang officer NYPD hanya melongo mendengar ucapan Arabella.


"Hei, ayahku mantan letnan polisi yang juga nyaris tewas oleh pembunuh berantai jadi wajar lah kalau aku jadi penasaran dengan jalan pikir orang-orang psycho itu" kekeh Arabella. ( *Baca My Boyfriend is Not A Trans*gender* ).


"Ara, apa kamu yakin tidak salah jurusan masuk arsitek, nggak ambil kriminologi?" goda Chris.


***


Kediaman Abiyasa dan Gandari O'Grady


Chris membawa Arka dan Arabella ke rumah Abiyasa yang dianggap aman bagi keduanya apalagi wajah keduanya terlihat dari CCTV. Bukan tidak mungkin unsub bisa menghapal wajah Arabella meskipun dari modus operandi, usia Ara tidak sesuai dengan korban-korban sebelumnya.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Gandari sambil memindai keduanya.


"Tidak apa-apa Tante" senyum Arabella.


"Kamu tuh beneran anaknya David, cuek banget!" kekeh Abiyasa.


Suara ponsel Arka berbunyi membuat putra tunggal Arimbi Giandra dan Bimasena Baskara mengangkatnya karena tahu siapa yang menelpon.


"Assalamualaikum pak Bima" sapa Arka dengan nada malas.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Arkaaaa! Kamu tidak apa-apa nak?! Arabella calon mantu juga tidak apa-apa? Itu kenapa si Ruger tidak kamu pakai buat tembak? Harusnya di dor dong!" cerocos Bima tanpa jeda membuat Abi mendengus kesal.


"Ara, kamu tidak apa-apa sayang?" terdengar suara David Hakim Satrio disana.


"Ara tidak apa-apa pa. Kan ada bang Pedro yang sudah menembak pelakunya" jawab Arabella tenang.


"Aku kesana malam ini Chris. Ini kalian dimana?" tanya David.


"Aku di rumah mas Abi. Arka dan Arabella biar menginap disini dulu, bukan di apartemen Radeva sampai semuanya terungkap" jawab Chris.


"Jangan bilang pelakunya yang sebenarnya bukan dia!" ucap David dan Bima bersamaan.


"Menurut Pedro yang di BAU begitu, aku pun merasa demikian." Chris menatap Abiyasa dan Gandari serius.


"Fix, aku berangkat malam ini ke New York tidak perduli kamu melarang aku Chris! Nyawa anakku nyaris melayang di kotamu dan aku akan mencari dalang pelakunya meskipun harus mengobrak-abrik New York!" ucap David tegas.


Abiyasa hanya memegang pelipisnya. Datang lagi manusia panasan ke New York!


***


FBI Building Plaza Manhattan New York


Pedro berkoordinasi dengan tim NYPD dan tim Omar Zidane untuk mencari tahu siapa dalang dari unsub itu. Sayangnya, pelaku yang di JFK Airport sudah tewas ditembak oleh Pedro tapi mereka mendapatkan ponselnya.


Ahli IT FBI sedang berusaha membongkar isi ponsel itu dan ketika sudah bisa diupload di layar lebar, mereka semua tercengang.


"Oh my God... berapa Cell yang mereka punya?" gumam Omar sambil mengusap dagunya melihat jaringan pembunuh berantai itu.


"So far aku lihat ada sepuluh Cell. Sudah tewas satu, dan kita harus mencari sisanya." Pedro menghela nafas panjang. "Kita punya banyak pekerjaan."


"Sembilan lagi..." timpal Billy Boyd. "Tidak, sepuluh dengan pemimpinnya."


"Damn..." umpat Pedro dan Omar bersamaan.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2