The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Yay, Kasus Lagi!


__ADS_3

Bandara Narita Jepang


Shinichi mengantarkan Kedasih dengan wajah cemberut karena hari ini asisten merangkap partner kerja dan tukang kasih makan, harus terbang ke Massachusetts untuk menjadi spoke person perwakilan proyek mesin roket fakultas fisika Tokyo University atau Todai.


"Aku masih tidak terima burung nazar, kok kamu yang dikirim?" sungut Shinichi sambil manyun. Tadi dia menawarkan diri untuk mengantarkan Kedasih ke profesor Takeda dan dosen pembimbingnya pun mengijinkan.



Jangan manyun lah Shin...


Kedasih hanya tersenyum dibilang macam burung bangkai itu. Selama Kedasih bersama Shinichi, dia sampai menghitung hampir semua nama burung di dunia sudah disebut oleh putra Hideo Park dan Fayza Sky itu.


"Mungkin karena mas Shin kan diperlukan disini jadi aku yang dikirim sebagai perwakilan. Bukankah aku dan mas Shin sama-sama paham luar dalam proyek mas Shin?" Kedasih menatap serius ke pria tinggi yang masih mode ngambek. "Iiiisshhhh kalau ngambek begini baru kelihatan mirip Arsya" gelaknya sambil mencubit pipi Shinichi gemas.


Shinichi terkejut ketika Kedasih mencubit pipinya membuat Kedasih panik. "Aduh, sakit ya mas Shin?"


Shinichi menggelengkan kepalanya. "Kamu mirip mommy kalau gemas."


"Haaaaahhh? Ohya ampun Mas Shin, semua cewek bakalan seperti itu kalau gemas."


"Memangnya kamu akan melakukan itu kalau sama Arka atau V pas gemas?"


Kedasih tertawa. "Ya aku nggak berani mas, kan ada Ara dan Katya. Bisa gelut nanti kita. Aku cuma berani sama mas Shin..." Setelahnya Kedasih terdiam.


"Kenapa?" tanya Shinichi.


Kedasih menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mungkin karena kita sudah biasa bersama. Hampir setiap hari ketemu, ribut, diskusi, jengkel... jadi ya... cuma bisa sama mas Shin gemasnya..." Kedasih menutup mulutnya. Duh kok jadi ambigu sih! Duh Dash-dash, mbok yang cerdas gitu ngomongnya.


Cup!


Kedasih melongo ketika pipinya dicium Shinichi. "Gemasnya sama aku saja ya. Yang lain bayar royalti dulu dan itu nggak murah!" ucap Shinichi.


"Haaaaahhh? Mas Shin ngomong apa sih?"


"Dah berangkat sana! Tuh sudah dipanggil!" Dan Kedasih mendengar panggilan untuk para penumpang jurusan Boston agar masuk ke ruang tunggu. Shinichi harus memakai nama keluarganya untuk bisa masuk area keberangkatan agar bisa menemani Kedasih di dalam.


Kedasih mengangguk.


"Besok Arka lamaran, kamu sudah pulang kan?" tanya Shinichi.

__ADS_1


"Mas Shin, aku awal Desember sudah sampai di Tokyo jadi insyaallah bisa. Kenapa?"


"Temani ya? Gabut kalau nggak ada yang aku usilin."


Kedasih melongo. "Iyain aja deh biar cepat." Gadis itu berjinjit dan mencium pipi Shinichi. "Pergi dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Shinichi melambaikan tangannya saat Kedasih berjalan masuk ke dalam ruang tunggu.


Setelah gadis itu masuk, Shinichi pun berbalik berjalan menuju keluar area keberangkatan dan petugas disana mengangguk hormat ke pria imut itu. Siapa yang tidak tahu cucu Yakuza dan pengusaha Sky serta keponakan keluarga Bianchi. Shinichi membungkuk hormat kepada petugas yang sudah mengijinkan dirinya masuk. Para petugas bandar sudah banyak mengenal keluarga besar mereka yang dikenal memiliki manner bagus.


Sesampainya di parkiran mobil, Shinichi tercenung. Tunggu, tadi kenapa aku sama Dash-dash main cium pipi? Shinichi menutup mulutnya dan wajahnya memerah.


"Mommmyyyy! Aku cium anak orang!!! Duh hamil nggak ya?"


***


Boston, Massachussetts...


Valentino sedang berada di pabrik bir O'Grady untuk memeriksa virus yang menyerang sistem komputerisasi penyulingan gandum hingga membuat produksi mereka terhambat dua hari. Para tim IT pabrik bir itu sudah berjibaku tapi tidak mampu menemukan sumber virusnya.


Shane O'Grady, sepupu Valentino dari klan O'Grady yang juga cucu Kieran O'Grady, tampak serius melihat bagaimana putra Hoshi Reeves itu berusaha mengutak Atik main computer disana.


"Bagaimana V? Sudah ketemu?" tanya Shane.


"Bro, kayaknya ini yang bermasalah pabrik mu yang di Dublin deh! Lihat ini terjadi koneksi antara pabrikmu disini dan di Dublin." Valentino memperlihatkan jaringan koneksi yang saling berkaitan dengan pabrik Boston dan Dublin.


"Kok bisa?"


"Aku tidak bisa melihat dari sini bro, harus ke mainframe yang disana. Karena kalau aku lihat, permasalahan bukan disini, so far sini aman." Valentino menatap sepupunya yang memiliki wajah khas Irlandia rambut hitam dan mata biru, mirip Opanya Rhett O'Grady.


"Apakah ini disengaja?"


"Nope. Nampaknya ini salah input yang mengakibatkan semua jaringan yang terkoneksi jadi berantakan. Coba kamu hubungi bagian IT di Dublin."


Shane langsung mengambil ponselnya dan bersama dengan Valentino, tim IT Dublin mulai meneliti kesalahan di mainframe pusat sana. Dan semua orang di dalam ruangan mainframe Dublin langsung melongo tidak percaya jika pengacau semua jaringan adalah seekor tikus yang menggigit kabel utama.


"Tikus? Tikus? Bagaimana bisa masuk sana?" hardik Shane kesal. Satu sisi dia bersyukur bukan akibat sabotase kompetitor tapi sisi lain gemas pelakunya yang seharusnya bisa dicegah!


"Ada kasa yang bolong digigit Mr O'Grady..."

__ADS_1


"Saya tidak mau tahu! Hari ini kalian operasi tempat mainframe! Saya tidak mau ada kekacauan macam ini!" Shane menutup panggilan FaceTime nya. "Seriously! Tikus!"


Valentino tertawa. "Setidaknya pelaku sudah tewas dan sayang, tidak bisa dibawa ke pengadilan."


Shane terkekeh mendengar ucapan Valentino. "You're right Vale. Thanks God semua berakhir baik."


"Untung aku belum balik ke Jakarta. Tapi sebenarnya Shane, anak buahmu bisa lho mencari sumber permasalahannya." Valentino melirik tidak ada seorang pun di ruangan main computer.


"Aku hanya ingin kita saja yang tahu sebab sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu."


"Apa itu?"


Mata biru Shane menatap serius ke Valentino. "Ada orang yang hendak memplagiat rasa bir kami, dan aku ingin kamu mencarinya."


"Maksudmu, ada orang dalam yang terlibat?! Apa kamu sudah tahu siapa?"


"Aku mencurigai dua orang. Tidak hanya disini, tapi juga di pabrik baja O'Grady. Mereka otaknya dan anak buahnya ada sekitar sepuluh orang. Aku ingin kamu mencari tahu apakah benar kecurigaan aku dan setelahnya aku akan membawa ke ranah hukum." Shane mengeluarkan iPadnya dan memperlihatkan siapa saja yang dia curigai.


"Kirim semua ke email aku. Biar trio kampret beraksi. Rada gemas juga nggak ada aksi yang gimana gitu..." kekeh Valentino.


"Thanks Vale. Kamu kapan balik ke Jakarta?"


"Mungkin dua Minggu lagi sekalian bareng Arka. Aku juga menunggu Katya mendapatkan ijin kerja di Jakarta karena masih diajukan dan lamaran dia di PRC Group diterima."


"Val, bukannya Katya calon istri kamu, calon menantunya Oom Quinn tapi kok pakai test segala?"


Valentino tersenyum. "Meskipun kasarannya kita ada jatah, tapi tetap di keluarga kami harus sesuai prosedur. Aku masuk Giandra saja pakai lamaran lengkap CV dan wawancara."


"Benar-benar deh keluarga kalian itu" kekeh Shane.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2