
Massachusetts Institute of Technology
Kedasih keluar dari ruang kuliah usai memberikan kuliah umum dan diskusi bersama dengan para mahasiswa fisika baik yang mengambil gelar bachelor maupun master of science. Meskipun Kedasih baru lulus strata satu tapi karena dia terjun langsung di penelitian Shinichi, pengetahuan nya setara dengan mahasiswa S2 seperti putra Hideo Park.
Gadis itu masih tampak sibuk dengan isi tas selempang nya ketika seseorang berdiri di hadapannya, membuatnya berhenti berjalan. Kedasih pun mendongakkan kepalanya dan wajahnya tampak terkejut tidak percaya melihat orang yang seminggu ini dirindukannya.
"Mas Shin?"
"Halo Dashboard... Senang jadi dosen?" senyum Shinichi membuat Kedasih memeluknya.
"Ya ampun! Beneran mas Shin!" ucapnya yang mendapatkan balasan pelukan dari Shinichi. "Tunggu!" Kedasih melerai pelukannya dan menatap judes ke Shinichi. "Mas Shin ngapain kesini? Bikin alasan apalagi ke kampus bisa kabur ke Boston? Jempol kaki mana lagi yangb harus dioperasi plastik?"
Shinichi terbahak. "Yuk sambil jalan." Pria imut itu lalu merangkul bahu Kedasih.
"Mas Shin, bikin alasan apa lagi?" tanya Kedasih yang sangat senang bertemu dengan pria yang sudah membuatnya nyaman selama ini.
"Yang sebenarnya lah. Mengawasi kamu di MIT."
Kedasih melongo. "Shut up! ( Yang benar )!"
"Eh serius burung unta. Aku bilang apa adanya dan pihak kampus kasih ijin."
"Kok rasanya jadi aneh ya mendengar mas Shin kasih alasan yang jujur..." gumam Kedasih. Rasanya lebih masuk akal kalau mas Shin kasih alasan yang nggak masuk akal.
"Lha daripada kasih alasan yang aneh, mending jujur kan Hedwig?" cengir Shinichi.
"Ini kita mau kemana mas Shin?" tanya Kedasih bingung karena mereka menuju parkiran mobil dimana sudah menunggu Valentino dan Arkananta disana.
"Ke kantor polisi. Kamu sudah selesai kan acara perkuliahannya?" tanya Shinichi.
"Sudah sih... Mas Shin bikin perkara apalagi sampai harus ke kantor polisi?" selidik Kedasih tanpa menyadari rangkulan Shinichi masih melekat di bahunya.
"Bukan aku, tapi ada kasus. Sudah yuk masuk!"
"Halo mas Arka, mas Valentino" sapa Kedasih ramah.
"Halo Dasih. Dah masuk deh, daripada si Kungkang nanti manyun" kekeh Valentino.
***
Boston Police Department
Keempat orang berdarah Asia itu pun memasuki kantor polisi Boston dan disana mereka bertemu dengan Nadya yang sedang menunggu diluar karena sudah dihandle oleh Nelson.
"Lho? Kedasih? Kamu di Boston?" tanya Nadya bingung.
"Iya Nadya. Aku ada tugas di MIT" senyum Kedasih.
__ADS_1
"Pantas Kungkang langsung terbang ke Boston. Rupanya ada Kedasih disini" goda Nadya sembari mengerlingkan mata birunya ke Shinichi.
"Shut up Nad..." ucap Shinichi manyun
"Sebenarnya ada apa kita ke kantor polisi?" tanya Kedasih bingung.
"Membantu sepupu kami yang mengalami plagiarisme dan pencurian" jawab Valentino.
"Siapa?" Sedikit banyak Kedasih mulai hapal para sepupu Shinichi yang juga pengusaha tapi kalau Keluarga Boston dia tidak tahu.
"Dari keluarganya mbak Blaze O'Grady. Namanya Shane O'Grady pemilik pabrik bir O'Grady di Dublin Irlandia dan Boston sini serta pabrik baja" jelas Shinichi.
"Apakah pelakunya sudah diketahui?" tanya Kedasih ke Nadya dan trio kampret.
"Sudah. Makanya mas Nelson sekarang di dalam bersama Bang Shane buat menghadap Chief Dylan O'Donahue" jawab Nadya.
Tak lama pintu ruang kerja chief Boston PD itu terbuka dan tampak Nelson bersama dengan Shane keluar sambil bersalaman dengan pria berambut hitam yang sudah beruban tapi masih tampak tampan.
"Bagaimana mas?" tanya Nadya saat dua pria itu datang menghampiri kelima orang yang menunggu.
"Sudah beres. Tinggal nanti pihak kepolisian dengan tim audit menindak mereka" jawab Nelson. "Lho Kedasih? Ngapain kamu di Boston?"
Kedasih hanya tersenyum kikuk.
***
Shane sendiri mengajak trio kampret bersama dengan Katya dan Kedasih yang masih ada di Boston untuk makan malam. Arabella sudah berada di Jakarta usai kasus pembunuhan berantai itu dan bekerja di PRC Group Jakarta.
"Jadi Kedasih sekarang seperti dosen tamu di MIT untuk membahas mesin roket yang digagas oleh Shinichi?" tanya Shane.
"Iya, saya yang dipilih sebagai spoke person untuk sharing penelitian bersama dengan peneliti di MIT sebab mas Shin ada pertemuan juga dengan pihak ilmuwan badan antariksa di Jepang" jawab Kedasih.
"Tapi hebat lho kamu, Dasih. Masih muda sudah menjadi spoke person perwakilan dari Todai ke MIT. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu" puji Shane.
Kedasih menunduk dengan wajah sedikit memerah. Meskipun otaknya cerdas, tapi Kedasih sebenernya anak introvert. Menjadi asisten Shinichi, membuat sedikit demi sedikit gadis itu bisa menggali potensinya.
Shinichi menepuk kepala Kedasih pelan, semakin membuat gadis itu memerah wajahnya.
"Sayang duo Blair harus mengurus kasus dulu di New York jadi tidak bisa mengawal sampai tuntas" ucap Valentino.
"Eh Nadya sudah punya pacar belum sih?" tanya Shane tanpa basa basi.
Ketiga sepupu Nadya itu melongo mendengar pertanyaan tanpa Tedeng aling-aling itu.
"Kamu naksir Nadya, bro?" tanya Valentino.
"Iya. Dia cantik dan cerdas."
__ADS_1
"Sainganmu banyak bro..." kekeh Arkananta.
"Siapa saja?" tanya Shane.
"Ada Omar Zidane agen FBI yang memang dekat dengan Nadya tapi apakah mereka pacaran atau tidak, kami tidak tahu. Lalu ada Phoenix Hamilton calon pengacara yang hampir lulus dari Harvard Law School dan salah satu pewaris kerajaan bisnis Hamilton" jawab Valentino.
"Tapi ... Nadya dekat yang mana?"
"Nadya sangat dekat dengan Omar Zidane tapi sekali lagi, apakah mereka sudah resmi pacaran atau belum kita tidak ada yang tahu. Kalau ketemu saja macam Tom and Jerry" kekeh Arkananta.
"Apakah Omar Zidane tampan?"
"Well dia jangkung, 195 atau 196 cm, keturunan Mesir, cerdas dan kalau dibilang tampan... Dia maskulin" jawab Katya yang membuat Valentino menoleh.
"Kamu tuh..." sungut Valentino sambil manyun.
"Lho itu kan kesan yang aku tangkap Vale..." bela Katya.
"Sainganku lebih berat ke Omar ya?" tanya Shane.
"Yes!" ucap kelima orang disana.
"Sebaik nya aku cari tahu dulu siapa yang bakalan jadi pesaingku..."
"Kebalik Shane. Kamu yang menjadi pesaing bang Omar sebab Nadya sudah dekat duluan dengannya" potong Katya.
Shane tersenyum. "You're right Katya. Kapan kalian akan pulang ke Jakarta?"
"Minggu depan karena semua sudah beres kan disini?" jawab Arkananta.
"Semoga acara lamarannya lancar ya Ka. Jadi kalian menikah akhir tahun?"
"Insyaallah jadi. Kami sudah pacaran lama jadi sudah waktunya untuk lebih serius."
"Kalau kamu Val?"
"Insyaallah kami tahun depan" senyum Valentino sambil menatap Katya. "Oh, jangan tanya kapan Kungkang menyusul kami. Dia masih piyik!"
Shinichi hanya memanyunkan bibirnya.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️