
Laboratorium Fisika Tokyo University Jepang
Shinichi tampak manyun dengan meletakkan pensil diatas bibirnya yang dimanyunkan. Biasanya ada yang cerewet...
"Mas Shin, aku belikan makanan..."
"Mas Shin, salah ini inputnya ... "
"Mas Shin, mbok jangan jahil tho..."
"Mas Shin nyebeliiin !"
Shinichi menghembuskan nafas panjang. Sepi juga tidak ada si burung bulbul yang cerewet... Semenjak sudah bisa bersuara, ternyata sama cerewetnya dengan kembang kantil...
"Haaaaahhh... Padahal baru ditinggal dua hari kok sudah sepi ajah rasanya... Dash-dash, pulang dong... Nggak ada yang bisa aku usilin..." gumam Shinichi sambil meletakkan kepalanya diatas meja kerjanya.
"Iiiisshhhh ternyata aku tergantung sama Dash-dash..." Shinichi masih manyun. Dua hari ini dirinya seperti tidak ada semangat bekerja dan meneliti. Meskipun Shinichi tetap berusaha bekerja tapi hanya 20% saja.
Suara panggilan FaceTime di MacBook Shinichi membuat pria itu ogah-ogahan menerimanya. Tampak di layar MacBook nya wajah Valentino dan Arkananta.
"Kungkang! Kamu bisa nggak ke Boston?" tanya Valentino tanpa basa-basi.
Wajah Shinichi langsung cerah. "Ada apa di Boston?"
"Bantu mecahin kasusnya Shane O'Grady, sepupunya mbak Bee" jawab Arka.
"Berapa lama aku di Boston?" Yes, dekat burung prenjak.
"Seminggu bisa?" balas Valentino.
"Aku ajukan dulu ke kampus kalau aku hendak pergi seminggu."
"Apa alasanmu kali ini? Jangan bilang operasi jempol kaki lagi!" omel Valentino.
"Nggak, operasi kela*min" balas Shinichi cuek.
Valentino dan Arkananta melongo. "Astaghfirullah Al Adzim..."
***
Boston Massachussetts
Tiga hari kemudian Shinichi sudah tiba di apartemen milik Shane O'Grady selama trio kampret bekerja. Sengaja mereka hanya berempat disana agar tidak ketahuan oleh para pencuri itu.
"Kamu pinjam satelitnya Oom Benji lagi?" tanya Shinichi yang sudah siap di depan MacBook nya.
"Nope. Aku pinjam dari berbagai satelit supaya tidak ketahuan Oom Benji dan Opa Bryan. Bisa berabe kita usil begini..." kekeh Valentino.
__ADS_1
"Shin, elu bilang apa ke Todai bisa dikasih ijin ke Boston?" tanya Arkananta.
"Bilang apa adanya. Mengawasi Kedasih di MIT."
Valentino dan Arkananta menoleh ke arah pria imut itu. "Kedasih di MIT?"
Shinichi menatap bingung ke kedua sepupunya. "Memang aku belum bilang?" tanyanya polos.
"Belum Kungkang!" hardik Valentino dan Arkananta.
"Oh berarti tersilap" balas Shinichi cuek.
"Siapa itu Kedasih?" tanya Shane O'Grady.
"Asistennya si Kungkang tapi hubungan nya, Wallahu alam..." kekeh Valentino.
"Sekarang kamu baru kerasa kan ditinggal sama burung Kedasih mu... Makanya nggak usah sok gak butuh dan care sama gadis manis itu! Lagian elu tuh lola banget!" gerutu Valentino.
"Shut up Parkir Valet!" sungut Shinichi.
"Elu tuh perlu dikasih kompor biar panas jangan macam mesin diesel, lamaaaaa baru panas!" sambung Arkananta.
"Reseh lu semua! Gue dah dapat nih aibnya!" Shinichi langsung menampilkan hasil hack nya ke tv layar lebar yang berada di ruang tengah.
Shane O'Grady membaca hasil hack Shinichi ke keduabelas orang yang dia curigai selama ini. "Shin, kok jadi ada empat belas orang ? Ini kan asisten aku?" Shane menunjukkan ke orang Irlandia yang tampak cupu.
"Aku juga sudah menghack semua gadget milik mereka semua tanpa ketahuan dan mereka ini memang berhubungan dan semuanya berkomunikasi dengan pesan terenkripsi" jawab Arkananta.
"Bro, nggak ada kasus yang lebih berat dari ini? Ini dalam waktu sehari dengan tiga otak trio kampret, sudah dapat semua bukti-bukti kejahatan mereka. Semua pesan terenkripsi dan semua bukti-buktinya baik dari transaksi, pertemuan dan pencurian di pabrik keluarga O'Grady, sudah aku dapatkan semua. Mereka ini merasa pintar tapi kalah licik dengan trio kampret!" sambung Valentino.
Shane tersenyum. "Justru karena itu aku minta tolong pada kalian yang benar-benar diluar circle jadi bisa diselidiki sungguh-sungguh. Aku diberitahu oleh Bee kalau mau cari pelaku kejahatan via cyber, bisa minta tolong kalian."
"Bro, kagak murah bayaran kita" cengir Shinichi.
"Tahu lah. Nanti aku transfer ke rekening kalian masing-masing" senyum Shane. "Berkat kalian, aku tidak akan kehilangan sekian juta dollar. Padahal kami sudah berusaha bangkit usai kena resesi, kok ya masih saja ada yang mengacaukan..."
"Kalau orang sudah serakah, mana mikir kesana bro" ucap Arkananta.
"Kita langsung ke Boston PD ( Police Department ) setelah memberikan semua bukti. Dan bang Shane, kamu harus didampingi pengacara. Apa bang Shane sudah ada pengacara?" tanya Valentino.
"Kami ada pengacara perusahaan tapi mengingat ini menyangkut orang dalam, aku takut ada yang membocorkan." Shane menatap trio kampret.
"Tenang... Kami ada" senyum Valentino yang langsung mengambil ponselnya. "Nadya, kamu dimana?"
***
Keesokan harinya, Nadya dan Nelson Blair mendatangi ruang kerja Shane O'Grady. Dua kakak beradik pengacara itu tampak santai dan tidak terlihat bahwa mereka adalah pengacara karena berpakaian casual.
__ADS_1
"Terimakasih kalian berdua datang kemari. Valentino merekomendasikan kalian untuk mengurus kasus ini" sapa Shane usai berjabat tangan dengan dua kakak beradik itu.
"Valentino sudah mengirimkan semua bukti hasil kejahatan yang ternyata sudah berjalan setahun ini ya?" ucap Nelson sambil membuka iPadnya usai mereka semua duduk di sofa ruang kerja Shane.
"Iya Nelson. Bagaimana menurut kalian?"
"Bisa langsung diajukan sih ke Boston PD dan kami kenal chiefnya karena teman kuliah Daddy dulu" senyum Nadya yang membuat Shane terpana dengan kecantikan putri bungsu Travis Blair itu.
"Nad, kamu bisa hubungi Oom Dylan O'Donahue? Aku rasa sesama Irish pasti cepat deh urusannya" pinta Nelson sambil tersenyum. "Kalau kita kan keturunan Scottish biarpun sudah campur aduk dengan Irish dan Indonesia."
"Ah iya, Blair kan akarnya dari Skotlandia sama dengan McGregor kan? Blair masih berhubungan saudara dengan klan itu?" celetuk Shane.
"Ohya, berawal dari Opa Duncan McGregor yang mengangkat anak opa Edward dan opa Stephen Blair" senyum Nelson sambil melirik ke arah Nadya yang berjalan menjauhi dua pria itu untuk menelpon chief Boston PD.
"Kalian dari Blair yang mana?" tanya Shane.
"Stephen Blair."
"Nelson, boleh aku tanya pribadi?"
"Soal?"
"Apa adikmu sudah punya pacar?"
Nelson melongo. "Seriously bro!" gelak Nelson yang tidak menyangka kalau Shane langsung blak-blakan bertanyanya. "Ah aku lupa, Irish selalu ngomong apa adanya beda sama British yang harus pakai bahasa kalbu. Belum Shane. Why? Adikku itu tidak ada anggun-anggunnya. Gualak minta ampun! Bahkan dia berani melawan agen FBI."
Shane menoleh ke arah Nadya yang masih tampak serius menelpon. "Aku suka wanita yang bersemangat."
"Good luck for that. Karena saingan kamu banyak" seringai Nelson.
Shane tersenyum smirk. "Tidak heran jika banyak yang naksir."
Introducing Shane O'Grady
( Cerita Nelson dan Nadya Blair bisa dibaca di novel Love In Justice sekitar bulan Juni 2023 ).
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1