
Geneva Switzerland
Hampir seminggu Valentino dan Katya bersama tapi apa yang diharapkan tidak sesuai dengan realita. Keinginan Valentino untuk bisa berduaan dengan gadisnya harus berantakan akibat kehadiran seorang pria berusia hampir tujuh bulan yang membuat gadisnya berpaling.
Setiap hari Katya memang datang ke apartemen Zinnia tapi lebih sering mengajak Arsyanendra untuk mengobrol maupun bermain sedangkan Valentino merasa diacuhkan pun manyun.
"Kay, aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk berduaan denganmu, tapi kamu langsung berselingkuh di hadapan aku..." gerutu Valentino kesal sambil meletakkan kepalanya di bahu Katya yang sedang memangku Arsyanendra diatas karpet.
"Val, apa kamu tidak bisa melihat?" Katya menoleh ke arah Valentino sambil mencium rambut hitam pria itu.
"Lihat apa?"
"Kita seperti keluarga kecil ya? Aku, kamu dan anak kita?" kekeh Katya.
"Haaaaahhh?" Wajah Valentino sontak kesal. "Masih kuliah Kay!"
"Eh tapi kata Katya benar juga. Kalian mirip keluarga kecil dengan anak Nemu" gelak Zinnia yang langsung mengambil foto mereka bertiga dengan ponselnya.
"Mbak, jangan ditaruh di grup keluarga ya. Kirim ke aku saja. Mbak kan sudah janji nggak bakalan bilang-bilang..." pinta Valentino dengan muka melas.
"Iya iya. Kamu masih belum siap dengan para kaum julid kan?" kekeh Zinnia yang mengirimkan foto itu ke akun WhatsApp Valentino.
"Tahu kan mbak..." Valentino menatap hasil foto yang diambil Zinnia. "Wah, Kay, benar kata mbak Zee. Jadi keluarga kecil dengan bayi Nemu."
Katya tertawa. "Tapi bagus lho ambilnya mbak." Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi dan Katya melongo tidak percaya membaca pesan di sana. "Lha alat test aku akhirnya disetujui?"
"Kamu pinjam ala test, Katya?" tanya Zinnia.
"Iya mbak. Kan aku harus mengetes testee Minggu depan tapi alat test nya harus ijin dulu dan tidak bisa sembarangan."
"Benar itu. Ini kamu mau ambil?" tanya Zinnia.
"Iya mbak. Val, bisa temani aku ke kampus?" Katya menoleh ke Valentino.
"Tentu saja. Ayuk aku temani. Naik apa?"
"Naik trem lah. Nggak papa kan?" tanya Katya.
"No problem! Yuk!" Valentino mengambil jaket dan memakai sneaker nya.
"Sini, Arsya biar sama mbak Zee. Sya, Tante Katya dan Oom V mau ke kampus dulu. Kamu sama mommy ya" bujuk Zinnia ke Arsyanendra.
__ADS_1
Arsya pun berpindah ke gendongan ibunya dan Valentino lalu menggandeng Katya keluar dari apartemen setelah berpamitan dengan Zinnia dan Arsyanendra.
***
Valentino menikmati jalan berdua dengan Katya menuju tempat perhentian bis lalu mereka akan pindah naik trem yang melewati jalur kampus Katya. Dari sana, mereka jalan kaki atau bisa memakai bis meskipun waktunya hanya beda sedikit. Bis harus menunggu tapi lima menit sampai, sedangkan jalan kaki memang membutuhkan waktu 15 menit.
"Kamu nanti habis turun dari trem, mau nunggu bis atau jalan kaki?" tanya Katya ke Valentino yang menikmati pemandangan kota.
"Jalan kaki saja lah. Sekalian olah raga. Memang kenapa?" balas Valentino.
"Kan kamu anaknya pak Quinn Reeves yang biasa mendapatkan fasilitas lengkap."
"Memang tapi papa dan mama macan tetap membuat aku dan Juliet harus humble dan santai dalam situasi apapun. Cuma jalan kaki aja kok diributkan?" gerutu Valentino. "Mbak Zee tuh yang jelas-jelas putri Emir waktu kuliah juga lebih suka naik kendaraan umum disini padahal bisa saja kan minta mobil keluaran terbaru tapi nggak. Kadang malah naik sepeda kalau cuacanya mendukung untuk berangkat ke kampus."
"Tapi kamu kan bukan mbak Zee."
"Tapi kan tetap adiknya mbak Zee. Kami sama saja didikannya. Si Arka malah jadi asisten dosen, Romeo mengambil jalur bea siswa padahal dia cuma iseng bisa atau nggak, Si Shinchan ke kampus juga naik kereta. Terus kenapa aku harus kamu ributkan jalan kaki atau naik bis?"
Tanpa diduga Katya tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Valentino bingung.
"Seorang Valentino Reeves ternyata bisa ya ngobrol panjang lebar. Soalnya setahuku, selama di SMA, ngomong cuma seperlunya. Kalau nggak jawab ya dan tidak, pasti ngata-ngatain orang sampai sakit hati."
Katya merangkul lengan Valentino. "Terima kasih Vale, sudah mau menjadi pacar aku meskipun seminggu ini aku berselingkuh dengan bayi bule tujuh bulan."
"Untung saingan aku keponakan sendiri dan masih bayi pula. Kalau itu orang dewasa..."
"Eh sorry ya Valentino. Aku selingkuh kan juga lihat - lihat. Aku hanya tidak tahan untuk tidak menduakanmu dengan Arsya tapi aslinya aku tetap setia sama kamu."
"Kenapa kamu berani selingkuh dengan Arsya?" tanya Valentino gemas.
"Dia lebih gemoy dari kamu" senyum Katya sambil mengerjap-ngerjapkan mata birunya yang indah.
"WHAAAATTTT! Itu alasannya? Aku kurang gemoy?" desis Valentino tertahan.
"Lho iya Val. Arsya tuh gemoy banget!"
"Tapi Arsya kan belum bisa begini kan Kay..." Valentino mencium bibir Katya lembut membuat gadis itu membeku. Seriously! Kenapa ciuman pertama aku malah di trem, Valeeee!
"Valentino..." panggil Katya dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Apa? Kurang enak ciumannya? Mau diulangi lagi?" goda Valentino.
"Bukaaann! Kamu mengambil ciuman pertama aku di trem! Kagak romantis Vaaleee!" sungut Katya kesal.
Valentino terbahak. "Nanti kita ulangi di tempat yang romantis..."
"Dasar nggak peka! Nggak syahdu!" omel Katya gemas untuk menghilangkan debar jantungnya.
Valentino hanya tertawa lalu merangkul bahu Katya dan mencium pelipisnya. "Love you Katya D'Angelo."
"Love you too Valentino Reeves."
***
Tokyo Jepang
Shinichi hanya melengos melihat ruang laboratorium fisika yang super sunyi senyap bagaikan kuburan yang kemungkinan besar akan muncul ju on ataupun Sadako disana.
"Kenapa juga jadwal aku pratikum harus hari ini sih?" gerutu si imut dari trio kampret itu.
Shinichi memutuskan mengambil semester pendek di musim panas ini daripada harus membantu sang appa dan sang mommy di toko emas maupun PRC Group.
Sulung Hideo Kojima Park itu memang tidak tertarik untuk meneruskan bisnis keluarganya karena dia lebih suka bereksperimen membuat mesin roket yang akan membawanya pergi lebih jauh dari mesin roket yang sudah ada. Syukur-syukur bisa membuat pesawat model X-wing Star Wars atau USS Enterprise macam Star Trek.
Shinichi pun celingukan mencari teman kuliahnya yang sama-sama akan mengambil semester pendek dan tak lama, teman-temannya pun mulai berdatangan.
"Lha si Park malah sudah duluan datang" celetuk salah satu rekannya.
"Kan aku dikenal sebagai anak yang selalu on time" balas Shinichi kalem.
"Selamat pagi semuanya" sapa dosen pengampu yang masuk ke dalam laboratorium fisika itu. "Kita mulai percobaan yang sudah kalian buat sebelumnya ya."
Shinichi pun tersenyum lebar karena sebentar lagi, proses pembuatan mesin roketnya akan segera dimulai.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️