The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Cerita Sekarang Atau Ada Twister


__ADS_3

Mansion Keluarga Giandra


Hari Minggu ini membuat para pria generasi keenam yang stay di Jakarta berkumpul. Mereka sengaja tidak mengajak para kaum wanita karena tahu bakalan melarang mereka ikut campur.


Valentino, Arkananta, Radyta dan Romeo berkumpul di ruang gym. Kebetulan Romeo sedang tugas di sebuah rumah sakit dekat mansion Giandra jadi bisa datang kesana saat Valentino mengajak bertemu.


Semenjak Juliet hamil besar dan masuk usia tujuh bulan, mereka tinggal di kediaman keluarga Reeves karena Romeo tidak mau istrinya sendirian disaat dirinya semakin sibuk studi dan prakteknya. Juliet sendiri tidak keberatan kembali ke rumah orang tuanya karena kedua mertuanya sudah pindah ke Jepang.


"Kalian mau bahas apa?" tanya Romeo yang masih lelah karena dia mendapatkan shift malam berjaga di rumah sakit.


"Bang Luke, Jayde, Wira dan Radeva" jawab Valentino. "Wira katanya mau balik ke Singapura tapi Aku tahan dia supaya nggak pulang."


"Apa kamu mencurigai sesuatu V?" tanya Romeo sambil menyesap kopinya.


"Yes. Aku dan Valentino merasa demikian" sahut Radyta Yung yang blasteran Turki, Jawa. China itu.


"Apa yang terjadi diantara mereka berempat? Apa ada masalah di PRC Group Manchester?" Romeo menatap para iparnya.


"Kalau soal perusahaan, pasti pak Bima dan Oom Hoshi sudah kemana-mana ributnya dan pasti PRC Group pusat Jakarta tidak akan tinggal diam. Tapi aku sudah memeriksa kondisi PRC Group Manchester, baik-baik saja bahkan surplus setelah proyek mereka di Wales dan Irlandia berhasil." Arkananta menjawab sambil membuka MacBook nya.


"Kalau bukan perusahaan, berarti personal" gumam Valentino.


"Wira sudah perjalanan ke mari. Dia batal naik pesawat pagi ke Jakarta" lapor Arkananta. "Nih GPS dia."


"GPS nya Wira dimana?" tanya Romeo yang semenjak masuk keluarga Juliet, juga harus terpasang GPS dan disetting pada cincin nikahnya.


"Jam Hublot nya. Anak itu kan fans berat jam tangan harga aduhai, sama dengan Radhi dan Damian" jawab Radyta.


"Radhi dan Damian wajar lah, kan mereka anak Emir. Wira tuh yang main bongkar celengan demi beli jam limited editionnya" kekeh Arkananta.


Tak lama terdengar suara ramai di ruang tengah dimana para opa Oma eyang Kakung dan eyang putrinya pasti heboh melihat cucunya batal pulang. Keempat pria di dalam ruang gym itu pun keluar dan tampak Sadawira datang bersama Jayde yang membuat semua orang melongo.


"What the hell are you doing?" hardik Valentino melihat wajah dingin dua sepupunya itu.


***


Ruang Gym Mansion Giandra ( Kalau sudah baca My Rey, pasti tahu kejadian apa yang terjadi disini )


"GPS mu kenapa tidak kamu pasang, Jay?" tanya Arkananta.


"Biar jadi surprise" jawab putra Taufan Abisatya dan Natasha Neville itu kalem. Jayde mewarisi kulit bule ibunya dan opanya.


"Kalian, ada apa?" Valentino menatap Jayde dan Sadawira.


"Nothing..." jawab Jayde sambil merokok.


"Bull!" hardik Arkananta. "Look, Wira, kita sepupu kandung, juga sepupu kandung dengan mas Bayu, Raveena dan Radeva. Oke kita singkirkan Raveena tapi kalian berdua, bang Lukie dan Radeva kemarin saat acara lamaran aku, tampak sibuk sendiri. Hati-hati, mas Bayu itu macam anjing hound, hidungnya bisa mencium masalah."

__ADS_1


"Kami baik-baik saja..." jawab Sadawira mengambang sedangkan Jayde menatap arah jendela sambil merokok.



Sadawira Yustiono



Jayde Neville


"Seriously, aku tidak mau ada masalah sebelum acara pernikahan! Dengar dua Minggu lagi aku akan menikah, jangan sampai ada kekacauan!" Arkananta menatap dua orang itu.


"Tidak akan ada masalah. Tenang saja" jawab Jayde.


"Jayde, kamu pilih bilang sama kita atau kita cari tahu sendiri atau ketambahan si angin lisus panasan itu main tabrak macam Twister?" ancam Valentino ke sepupunya itu.


Jayde dan Sadawira saling berpandangan dan keduanya memilih untuk bercerita dengan keempat orang di sana daripada Bayu harus datang dan mengobrak-abrik Hongkong.


Keduanya lalu bercerita bagaimana mereka bisa terlibat dengan kasus yang membuat keduanya tidak bisa lepas dari para Triad Hongkong dari klan Wong. Keempat sepupunya menahan nafas mendengar bahwa gerak gerik mereka juga diawasi hingga keluarga mereka.


"Lalu, apakah mereka juga datang kemari?" tanya Romeo.


"Ohya... mereka bagaikan kutu yang susah di basmi meskipun sudah pakai peditox" seringai Sadawira.


"Astagaaa! Kok ya ingat shampo kutu itu?" gelak Romeo.


"Lalu apa rencana kalian?"


"Masih menunggu langkah selanjutnya. Kami masih mengumpulkan semua bukti dan berkomunikasi dengan kapten Lee, salah satu agen HKSS pemegang area Asia Timur dan Tenggara." Sadawira menyalakan rokoknya.


"Apakah dia bisa dipercaya? Kapten Lee maksudnya?" tanya Valentino karena baginya yang bisa dipercaya dari Law enforcement hanya Oom Chris, Bang Pedro dan Bang Omar Zidane.


"Justru dia yang ditunjuk oleh pemerintah Hongkong untuk membantu kami" jawab Jayde.


"Kapan HKSS ikut campur dengan kalian?" tanya Arkananta.


"Saat Terry Wong tewas dibunuh bulan lalu."


Keempat sepupu menatap Jayde. "Uangnya dimana?"


"Di sebuah tempat yang hanya aku dan Wira yang bisa mengaksesnya." Jayde tidak mengatakan bahwa sahabatnya Inggrid Pascale juga terlibat.


Arkananta dan Valentino saling menatap.


"Jangan sampai acaraku ada masalah!" ucap Arkananta final.


***

__ADS_1


Laboratorium Fisika Tokyo University Jepang hari Senin


"Dash-dash!" panggil Shinichi yang datang dengan mantel tebal karena Tokyo sedang musim salju.


Kedasih menoleh dan melongo melihat dandanan pria imut itu yang diluar kebiasaannya. "Astagaaa, mas Shin! Kenapa pakai mantel bulu sih? Punya siapa itu?"


"Punya mommy. Aku pinjam. Dingin soalnya" senyum Shinichi.



Kungkang tuh memang ya


"Ya ampun mas Shin. Ini bulu apa?" tanya Kedasih sambil memegang bulu mantel Shinichi.


"Bulu ketek singa" jawab Shinichi asal membuat tangan Kedasih melepaskan pegangannya di mantel bulu itu.


"Ya Allah mas. Mana ada bulu ketek singa..." keluh Kedasih merasa kesal mendengar jawaban paling asal yang pernah dia dengar.


"Ada. Jadi tho Dash, itu singa dibius dulu terus dicabuti lah tuh bulu keteknya dan taraaaa... Jadi deh mantel ini."


"Bau dong mas. Kan dari bulu ketek, mana Singa kan gak pernah pakai deodorant dan hewan mamalia tidak memiliki kelenjar keringat macam kita jadi kenapa singa atau anjing suka menjulurkan lidahnya seperti terengah-engah itu buat mengeluarkan hawa panas dari dalam tubuhnya... " Kedasih terdiam. "Mas Shin kenapa?"


"Kedasih ..."


"Ya mas Shin?"


"Kok kamu sekarang jadi ikutan receh sih? Mana ada deodorant buat singa, burung bulbul..." Shinichi memegang pipi asistennya yang menurutnya makin menggemaskan.


"Kan Mas Shin yang ngajarin..."


Shinichi mencium kening Kedasih. "Terimakasih mau menjadi sama-sama absurd."


"Sama-sama mas Shin..."



Kedasih Dash-dash Jayanti


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2