The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Ramen


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat


Zinnia dan Shinichi tampak asyik mengobrol di halaman belakang sambil memeriksa pekerjaan bumil cantik itu.


"Bang Zaidan cekatan ya mbak pekerjaannya" ucap Shinichi ketika memeriksa laporan manajer utama pabrik beras milik AJ Corp yang selama ini di bawah pengawasan AJ Corp Dubai beserta Hoshi, Bima dan Travis.


"Alhamdulillah mbak dibantu banyak orang-orang baik, Shin."


"Soalnya mbak Zee orang baik."


Zinnia tersenyum kecut. "Mbak bukan orang baik Shin. Apalagi main pergi meninggalkan suami tanpa ijin."


"Tapi kalau mbak Zee nggak pergi, nyawa mbak Zee yang terancam."


Zinnia hanya mengangguk.


"Mbak Zee kangen bang Sean ya?"


"Kangen banget Shin, tapi mbak masih belum bisa menerima Sean. Apalagi mbak kondisi hamil begini, pasti inginnya ada suami di sisi mbak tapi situasinya tidak memungkinkan..."


Shinichi memeluk kakaknya. "Mbak, kalau mbak galau, bilang sama Shin. Nanti Shin terbang kemari."


"Kamu tuh! Kuliah kamu gimana? Susah-susah masuk Todai lho!" Zinnia menepuk kepala adiknya pelan.


"Iya sih. Mana mommy pakai acara suudzon aku nyontek pula" ucap Shinichi sambil manyun. "Kok pada nggak percaya sih aku tuh bisa."


"Soalnya gaya kamu yang diragukan kemampuan otakmu. Tapi mbak Zee tahu semua adik-adiknya mbak Zee cerdas dan pintar-pintar."


"Tuh, dengar Boy. Kamu harus cerdas dan pintar macam Oom Shinichi yang imut paripurna ini" ucap Shinichi di perut Zinnia.


"Aduh..."


"Kenapa mbak? Ditendang sama boy ya?! Eh boy, jangan nendang dong, kasihan mommymu."


Zinnia tertawa mendengar ucapan adiknya yang paling absurd.


"Kalian ngapain?" tanya Arkananta yang datang sambil membawa semangkuk ramen.


"Ya ampun Arka! Tadi kan elu habis makan? Ini makan ramen lagi?" Shinichi melongo melihat kakak sepupunya makan dengan lahap.

__ADS_1


"Ga usah cerewet! Kamu pengen kan?"


"Yo mesti! Masih ada kan?"


"Ada banyak di dapur noh! Kata Jasmine itu stok buat para penjaga kalau tengah malam kelaparan."


"Bikin aaaahhh! Mbak Zee nggak boleh ya?" Shinichi menoleh ke arah kakaknya.


"Nggak boleh sama sekali sama Oma Gendhis."


"Shin, bikin nggak papa kan?"


"Nggak papa. Lagian mbak Zee masih kenyang."


Shinichi langsung pergi menuju dapur untuk membuat ramen.


"Ada kabar apa di Jakarta, Ka?" tanya Zinnia.


"Kemarin si Kunti dipanggil dekan."


Zinnia mengernyitkan keningnya. "Kunti? Arabella maksudmu?"


"Memang Ara kenapa Ka? Kasihan ah kamu panggil dia Kunti" kekeh Zinnia. "Bisa ngamuk tar Oom David."


"Habis..."


"Arka, nggak boleh ya."


"Oke mbak."


"So, ada apa Arabella dipanggil dekan? Mbak harap nggak buat ulah deh." Zinnia merasa bingung melihat saudara sepupu perempuannya hampir semuanya bar-bar dan panasan.


"Kemarin banting orang."


"Astaghfirullah! Kenapa?"


Arkananta bercerita tentang Arabella sejak masa orientasi hingga masuk ke perkuliahan, kena bully teman seangkatannya yang naksir dirinya.


"Bagus lah kalau sudah dihajar sama Ara. Mbak setuju itu. Pembullyan memang harus dihentikan karena jangan jumawa jadi orang karena belum tentu orang di hadapan kamu itu dibawah kamu. Mana kita tahu jika ternyata lebih dari kita. Ya kan?"

__ADS_1


"Iya sih mbak. Eh mbak, kata Damian, bang Sean ke Dubai cari mbak sama berusaha membuat Oom Ayrton dan Opa Karl memaafkannya."


"Sean ke Dubai?"


Arka mengangguk.


"Mbak Zee!" panggil Valentino yang baru ikut bergabung. "Mbak alumni University of Geneva kan?"


"Memang kenapa V? Apa ada kenalan disana?" tanya Zinnia.


"Nggak ada cuma ini tadi aku browsing kampus buat rencana ambil S2 nanti, eh muncul nama kampusnya mbak."


"Kalau mbak boleh kasih saran, mending kamu ke Cambridge, Oxford atau Princeton deh. Soalnya di Geneva tidak seramai tiga tempat tadi."


"Aku malas masuk Ivy League meskipun aku yakin aku mampu."


"Atau kamu ke Todai atau ke Aussie? Kan juga bagus disana. Oom Fathir kuliah di Aussie kan?"


"Yang jelas aku ogah ke Tokyo. Bisa ribut terus sama Shinchan dan bang Lukie." Valentino menatap layar MacBook milik Zinnia. "Ini laporan pabrik mbak?"


"Iya. Alhamdulillah ya?" senyum Zinnia sambil mengelus perutnya. "Rejekinya si boy."


"Oom Ayrton nggak salah taruh Bang Zaidan disana."


"Aku makan ramen duluuuu!" seru Shinichi heboh sambil membawa mangkok ramennya dan duduk di sofa.


"Kok ngga dibuatin akunya?" Valentino menatap Shinichi sebal.


"Lha meneketehe kalau elu mau. Bikin sendiri Sono!"


"Isshh! Kungkang nyebelin!" Valentino pun berdiri menuju dapur sedangkan Shinichi langsung menikmati ramennya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2