The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Gemintang dan Mamoru


__ADS_3

Laboratorium Fisika Tokyo University Jepang


Kedasih masih tidak percaya dirinya bisa berbicara dan suaranya yang sempat menghilang di semesta, kembali lagi. Apakah traumanya sudah menghilang karena pria yang selalu bilang dirinya adalah pria paling imut sejagad raya Todai?


"Dash-dash, coba kamu bicara lagi, ingin tahu kamu sudah bisa bicara seperti aku atau nggak." Shinichi menatap serius ke Kedasih yang duduk di hadapannya.


"Apaan sih mas Shin?" jawab Kedasih dengan wajah memerah.


"Yaaaayyyyy, pahala aku tambah banyak!" teriak Shinichi senang membuat Kedasih bingung.


"Pahala?" tanya Kedasih sambil menatap pria yang sedang jingkrak-jingkrak.


"Kata Opa ku, kalau aku bisa membuat kamu bisa melawan traumamu dan berbicara lagi, aku akan mendapatkan pahala. Bukankah itu bagus?"


Mulut Kedasih menganga mendengar ucapan Shinichi yang Membagongkan. "Astaghfirullah..."


***


Professor Takeda adalah orang yang paling berbahagia mendengar cucunya bisa berbicara lagi dan pria paruh baya itu langsung memeluk Shinichi.


"Terimakasih Park, terimakasih membuat cucuku berbicara lagi" ucap Professor fisika itu.


"Sama - sama Prof. Ini namanya simbiosis mutualisme. Dash-dash bisa berbicara, aku dapat pahala" cengir Shinichi.


Professor Takeda menoleh ke arah cucunya. "Apa maksudnya, Dasih? Grandpa tidak paham."


"Cukup iyain saja daripada Grandpa pusing" kekeh Kedasih.


***


Beberapa hari kemudian, Shinichi menghubungi sepupunya Gemintang Lexington yang berada di Brussels Belgia. Shinichi, Arka dan Valentino benar-benar dilarang masuk Belgia oleh sepupu iparnya yang juga Raja Belgia, Sean Léopold karena tidak mau putranya, Arsyanendra, semakin lebay macam tiga Oomnya.


"Mintaaannggg... tolong dong!" rayu Shinichi melalui panggilan video di laboratorium nya sedangkan Kedasih yang duduk di sebelahnya hanya mengacuhkan rengekan kakak kelasnya itu.


"Aku harus ngapain, Shinchaaannn... Merayu Bang Sean supaya membuka larangan itu?" balas Gemintang gemas. "Eh, siapa itu? Manis lho Shin. Apa dia yang namanya Kedasih?" tanya Gemintang yang melihat Kedasih sedang memeriksa prototipe.


"Iya itu si Hedwig. Bukan Mintang, kamu rayu via Arsya. Pasti deh bang Sean mau nurutin maunya mini me nya. Itu plan A dulu, aku masih ada banyak plan termasuk yang dibuat sama Oom Jin."


Gemintang menatap judes ke sepupu kandungnya itu. "Makanya tho jangan bikin Arsya sama lebaynya sama kamu!"


"Maaf mbak aku interupsi. Mas Shin, kalkulasi di listrik, mas Shin ada yang salah sedikit" potong Kedasih sambil menatap Gemintang yang melongo.


"Mas Shin?" tanya Gemintang.

__ADS_1


"Lho dia kan seperti kembang Kamboja, jadi wajar dong manggil aku mas Shin" jawab Shinichi cuek.


"Shin, kamu hitung dulu, aku mau bicara dengan Kedasih" perintah Gemintang yang sebenarnya lebih tua dua tahun dari Shinichi tapi tetap saja sulung Hideo Park itu menganggap si kembar sebaya.


"Hedwig, kamu ngobrol dulu sama Mintang, aku urus kelistrikan si PW-9" ucap Shinichi yang langsung menuju prototipe mesin roketnya.


Kedasih pun duduk di hadapan iMac milik Shinichi. "Salam kenal mbak Mintang. Saya Kedasih Jayanti, asistennya mas Shin."


"Salam kenal Dasih. Tak apa kan aku panggil begitu?"


"Iya mbak, setidaknya masih namaku daripada mas Shin yang manggil aku suka-suka dia, semaunya dia..." gerutu Kedasih sambil melirik judes ke arah Shinichi yang masih serius mempelajari sistem elektrik roketnya.


"Dia itu sama adiknya saja juga manggil seenaknya, begitu juga dengan saudaranya yang lain. Eh? Kamu sudah bisa bicara?" seru Gemintang heboh.


Kedasih menggaruk pipinya. "Iya mbak, Alhamdulillah. Berkat mas Shin.. " Wajah Kedasih tampak memerah.


"Alhamdulillah... mbak ikut senang dengarnya. Kamu sudah berapa lama jadi asistennya si Kungkang?" tanya Gemintang.


"Kungkang?"


"Apa kamu tahu, Shinichi di keluarga kami dipanggil kungkang tapi dia senang - senang saja soalnya baginya itu panggilan kesayangan" senyum Gemintang.


"Mbak Mintang, ternyata mbak tuh cantik banget! Tapi kok adiknya koplak macam mas Shin ya?"


Gemintang tertawa. "Dia salah blueprint."


"Shinchan memang begitu, Kedasih."


"Mintang, tolong ya, bilang ke Arsya." Tiba-tiba Shinichi muncul di layar MacBook Gemintang.


"Iya, nanti aku bilang ke Arsya. Tapi nggak gratis lho , Shin."


"Kalau berhasil, aku bakalan nurutin kamu minta dibelikan apa" jawab Shinichi yakin.


"Memangnya blokiran tabungan dan kartu kamu, sudah dibuka sama Oom Hideo?" goda Gemintang.


Shinichi melongo lalu menepuk jidatnya. "Astagaaa! Appa belum bukain!"


***


New York, PRC Group Building


Arkananta masih sibuk membuat desain ketika ruangannya diketuk oleh seseorang. Pria berwajah tampan itu mendongak ketika melihat seorang bocah SD menatapnya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Mamoru!" senyum Arka melihat adik sepupunya datang. "Sama siapa?"


"Sama Daddy tapi lagi ketemu Oma." Bocah bermata biru itu pun mendekati Arka yang sibuk di tiga layar komputernya. "Mas Arka buat apa?"


"Ini desain untuk shelter binatang-binatang yang dibuang pemiliknya dan rata-rata binatang eksotis. Omamu minta mas Arka buat desain supaya semua binatangnya bisa ditampung."


"Oh yang di tanah milik Opa di Maine ya? Yang dipakai buat taruh kuda-kudanya mommy ya?" celetukan Mamoru.


"Iya Moru. Memangnya kamu sering kesana?" tanya Arka ke salah satu pewaris kerajaan bisnis Hamilton dan Al Jordan itu. Masih SD tapi bocah satu ini tajirnya melintir!


"Sering kalau liburan. Terus Oma bilang ingin nampung binatang-binatang banyak karena kasihan kalau tidak dirawat" jawab Mamoru yang namanya diambil dari nama opa buyut nya Mamoru Al Jordan, salah satu anggota keluarga Emir Al Jordan meskipun ayah Mamoru senior, Hiroshi Al Jordan melepaskan gelar Emirnya.


"Kamu kalau besar mau jadi apa? Bisnis man macam opamu atau polisi macam Daddy?" tanya Arkananta sambil menawarkan camilan ke sepupu imutnya.


"Dokter macam opa buyut Mamoru."


Arkananta melongo. "Bukannya kamu bakalan mengambil alih perusahaan Opa Ezra?"


"Mas Arka, aku tuh masih kecil. Mana paham bisnisnya opa?" cengir Mamoru.


"Iya sih. Memang kamu mau jadi dokter bedah macam Opa Mamoru?"


"Nggak mas Arka. Aku berubah pikiran. Aku ingin seperti mbak Mintang, jadi dokter hewan supaya hewan - hewan yang ditampung Oma, dirawat sama aku."


Arkananta menepuk jidatnya. "Anak jaman now."


"Lha dicariin, rupanya kamu disini..." sebuah suara membuat keduanya menoleh. Tampak Chris Bradford dengan seragam polisinya berdiri disana.


"Oom Chris." Arkananta berdiri dan Salim ke Oomnya yang kapten NYPD. "Tumben Oom kemari. Ada acara makan siang dengan Tante Alea?"


"Nggak Arka, Oom cuma mampir sebentar." Chris menatap putranya. "Moru, kamu disini dulu ya sama mas Arka, Daddy ada pekerjaan penting. Daddy mau bertemu dengan Oom Benji dulu."


"Iya Daddy" jawab Mamoru.


"Ada masalah Oom?"


"Iya. Ada pembunuh berantai berkeliaran di New York."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2