
Rumah Zinnia di Indramayu Jawa Barat
Malam ini Zinnia dan Jasmine memanjakan keempat adik prianya yang datang demi menemani dirinya. Bik Minah dan para pelayan lainnya memasak untuk para pengawal yang ditugaskan Ayrton berjaga-jaga di sekitar rumah sedangkan Zinnia dan Jasmine memasak khusus keluarga inti.
Zinnia dan Jasmine membuat sup buntut dan iga goreng yang merupakan favorit keempat adiknya plus dengan emping yang dibawakan oleh Rina Kareem Reeves.
"Huwaaaaa... makanan favoritnya Shinichi bukan Kudo!" seru Shinichi heboh melihat menu di meja makan. "Mbak Zee, makin sayang mbaaaakkk" ucapnya sambil memeluk kakaknya itu.
"Kamu mah kalau ada yang disenangi langsung deh sok iye, sok imut!" sungut Arkananta sambil duduk di sebelah Valentino. Seperti biasa Shinichi duduk di sebelah Zinnia sedangkan Gasendra duduk di sudut meja mewakili kepala keluarga Schumacher.
"Yeeee itu namanya menghargai" jawab Shinichi yakin.
"Yuk makan, jangan ribut di meja makan" senyum Zinnia.
Semua pria-pria tampan itu lalu mengambil nasi dan lauk masing-masing sembari bercerita banyak hal di kampus. Zinnia seperti biasa mendengarkan cerita mereka dengan antusias. Bumil cantik itu sangat senang melihat keempat adiknya tampak akur meskipun sering menistakan satu dengan lainnya tapi semua orang tahu kalau mereka saling sayang dan care satu sama lain.
***
"Huwaaaaa, perutku penuh!" ucap Shinichi sambil menepuk perutnya yang tampak besar.
"Gimana nggak kenyang, kamu tambah dua kali!" sungut Gasendra.
"Lha enak kok! Lagian itu namanya menghargai mbak Zee dan Jasmine yang sudah capek-capek masak. Kata mommy, hargailah makanan diatas meja meskipun gosong sekalipun. Berarti tandanya dia belum berhasil memasak dengan benar tapi sudah ada usaha..."
Semua orang disana melongo. "Siapa yang memasak gosong, Shin?" tanya Zinnia bingung.
"Kembang kantil lah! Dia masak tofu telur asin itu gosong mbak. Tapi karena mengingat ucapan mommy ku yang cantiknya tiada Tara, akhirnya tetap aku makan dengan susah payah menelannya dan harus menggunakan bantuan air putih yang banyak."
Sontak semua orang terbahak. Zinnia langsyng memeluk Shinichi. "Ya ampun, Shin, kamu memang kakak yang baik."
"Padahal si kembang melati sudah bilang nggak usah dipaksakan makan kalau memang tidak enak. Tapi aku kan menghargai usahanya mbak. Sejak itu Sakura memasak tidak gosong lagi. See, cara halus malah membuat seseorang berusaha lebih baik lagi" senyum Shinichi dengan wajah songong.
"Terserah kamu deh Kungkang!" gerutu Arkananta. "Aku ke kamar dulu mbak. Mau lanjut buat skripsi aku." Putra Bima dan Arimbi itu pun berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"V dan Dik Sendra?"
__ADS_1
"Aku paling main game sama V diruang tengah. Kamu ikut nggak Shin?"
"Ikutan lah!" Shinichi menoleh ke Zinnia. "Mbak Zee mau ikutan main?"
Zinnia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Mbak ke kamar saja deh. Pegal ini boyok." Zinnia berdiri dari duduknya dan hendak berjalan ke kamarnya.
"Saya bantu nona Zinnia" ucap Jasmine yang langsung sigap berdiri. Pengawal setia Zinnia itu tadi ikut makan bersama dengan Zinnia dan adik-adiknya.
"Ayo, Shin bantu." Dengan telaten, Shinichi membantu Zinnia menuju kamar miliknya.
Valentino menoleh ke Gasendra. "Kayaknya mbak Zee mau lahiran sebentar lagi."
"Kita siap-siap saja V. Bisa jadi besok atau lusa, kita ke Jakarta." Gasendra menatap kamar kakaknya yang terbuka dan Shinichi membantu Zinnia duduk di tempat tidurnya.
"Bang Sean ke Dubai lagi aku dengar tapi ke istana Al Azzam" ucap Valentino sembari berbisik.
"Kamu dengar dari siapa?" tanya Gasendra.
"Duo R dan Damian laporan sama aku pas tahu ke Indramayu."
"Tante Nura langsung meng cut bang Sean. Dan kata Raine, mukanya bang Sean benar-benar patah hati."
Gasendra mendengus kasar. "Aku tidak perduli V. Bagi aku, Sean tidak memiliki kepercayaan yang sama tingginya dengan mbak Zee. Apapun alasannya, belalah pasangan kamu, meskipun dia salah! Itu ajaran yang diberikan papa ke aku. Mau mama salah pada saat berdebat dengan Oma, papa pasti belain mama. Setelah di kamar berdua, baru papa menegur mama.
Itu seharusnya komunikasi yang baik. Soalnya apa, posisi mama itu menantu, dan dia sendirian di keluarga papa. Jika papa ikut menyalahkan mama, otomatis mama akan merasa terluka karena dipermalukan di depan keluarga banyak dan dia akan merasa insecure. Untuk apa kamu menikahi aku kalau aku tidak bisa mendapatkan perlindungan dari imam aku." Gasendra menatap Valentino serius.
"Ajaran Oom Ayrton membuat aku semakin memahami namanya hidup bersama pasangan itu ada unggah ungguhnya" ucap Valentino.
"Benar V. Mau kamu atau pun pasangan kamu, jika ada sesuatu, jika kalian memang saling cinta, pasti membela tanpa tapi. Sebisa mungkin kita melindungi pasangan kita karena hanya mereka yang lebih memahami kita lahir batin."
"Emir Dubai kalau soal beginian mah pintar."
Gasendra tertawa kecil. "Nggak V. Aku hanya belajar dari pengalaman mbak Zee yang kita lihat depan mata. Bagaimana pun kita itu laki-laki, yang nantinya akan meminta anak gadis orang yang sudah dirawat dan dibesarkan dengan baik. Dosa kalau kita tidak bisa melindunginya dari apapun apalagi menyiksanya. Kasarannya begini, aku punya kakak dan adik perempuan, kamu juga punya Juliet. Apa kamu ikhlas melihat Juliet disakiti Romeo atau Garvita disakiti oleh calon pacarnya?"
"Bisa aku gantung di pohon mangga!" umpat Valentino.
__ADS_1
"Itu yang aku rasakan pada saat tahu mbak Zee difitnah dan Sean tidak membela sama sekali."
"Aku juga merasakan hal yang sama saat mendengar nya Sendra..."
"Kita memang bukan saudara kandung, tapi jika ada orang yang tega menyakiti keluarga kita, tentu saja kita membelanya kan?"
Valentino menoleh. "Dan kita tidak hajar bleh lho. Maksudku, meskipun elu sodara gue sendiri, kalau elu salah ya salah ajah!"
"Exactly. Kita juga memilah. Elu berbuat apa dulu? Perlu dibela atau tidak."
Shinichi datang menghampiri dua pria yang masih asyik bercakap-cakap. "Boys, aku rasa mbak Zee mau lahiran besok deh!"
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Valentino.
"Tadi mbak Zee sempat tercetus pegalnya beda daripada tadi siang dan aku tadi telpon mommy dan mommy bilang kita semua harus siap-siap semua barang bawaan..."
Suara pintu kamar Arkananta terbuka terdengar ketiga cowok tampan itu. "Ada apa?" tanya Arkananta.
"Besok kita harus bersiap-siap jika mbak Zee sudah mulai tidak nyaman. Kata mommy, itu tanda-tanda mau lahiran. Soalnya tadi sambat punggung bawahnya mulai tidak enak" ucap Shinichi.
"Mbak Zee sama siapa di kamar?" tanya Gasendra.
"Sama Jasmine. Tadi aku minta Jasmine tidur di kamar mbak Zee, jaga-jaga."
"Ya sudah, koper kita langsung kita pak lagi, berjaga-jaga kalau memang besok mbak Zee harus ke Jakarta" putus Arkananta.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1