
Ruang Kerja Arkananta di PRC Group New York
Arka dan Mamoru tampak asyik membuat desain untuk shelter hewan - hewan yang terbuang. Ide antara Arka dan Mamoru membuat mereka kompak dengan desain yang menjadi kebun binatang.
"Wah, Moru, jadi keren deh!" ucap Arka yang tampak puas dengan hasil akhir desain dirinya dan sepupunya yang cerdas. "Yakin kamu jadi dokter hewan nggak jadi arsitek?"
"Dokter hewan macam mbak Mintang lah..." ucap Mamoru yakin.
Suara ponsel Arkananta berbunyi dan wajahnya tampak bingung melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum, Ara. Ada apa?" tanya Arka ke Arabella, sang kekasih.
"Wa'alaikum salam. Mas Arka, aku sudah selesai sidang skripsi!" seru Arabella yang membuat Arkananta melongo.
"Ya Allah Gusti, aku lupaaaa!" pekik Arkananta membuat Mamoru menoleh bingung.
"Tidak apa-apa, mas Arka kan banyak kerjaan disana. Tante Arimbi yang bilang."
"Bagaimana hasilnya?" tanya Arka yang merasa bersalah karena melupakan sidang skripsi kekasihnya.
"A dong!"
"Awesome! Kamu memang cerdas!" puji Arkananta.
"Ya iyalah! Aku tidak mau membuat malu mas Arka. Oh mas, aku kan masih nunggu wisuda sekitar tahun depan terus aku minta ijin ke papa dan mama untuk pergi ke New York..."
"Terus? Pak Dapid kasih ijin?"
"Ya iyalah! Pak Dapid kasih ijin soalnya aku pergi ke tempat yang banyak keluarga, plus ada mas Arka juga."
"Memangnya kapan kamu berangkat?" tanya Arka. "Biar aku bisa jemput."
"Aku besok berangkat sendiri. Jemput ya."
"Oke. Hati-hati."
Mamoru hanya tersenyum mendengar percakapan antara dua kakak sepupunya yang sedang pacaran. Bocah berusia sebelas tahun itu malah asyik mempercantik desain kakaknya.
***
Kediaman Keluarga Bradford
"Kasus pembunuhan apa Oom?" tanya Arka yang mengantarkan Mamoru pulang karena tadi Alea dan Reana masih ada meeting dengan klien.
Kini mereka sedang menikmati pizza setelah Mamoru merengek meminta pizza favoritnya. Chris sendiri langsung pulang setelah berkoordinasi dengan anak buahnya yang bertugas memecahkan masalah pembunuhan berantai.
"Orang ini mengincar wanita yang berras Asia dan sudah ada empat orang korbannya. Korban diculik lalu disiksa, dilecehkan terus dibunuh dengan cara dicekik." Chris melirik ke arah Mamoru yang mengenakan headphone sambil mengerjakan tugas sekolahnya. Chris dan Alea sudah sepakat untuk meluangkan waktu untuk Mamoru, jadi siapa yang bisa pulang cepat, harus ada untuk putra semata wayang mereka.
__ADS_1
"Unsub nya menculik para wanita dari mana Oom?"
"Tempat umum. Terakhir saat si korban baru keluar dari Starbucks dan tampak akrab dengan si unsub. Hanya saja, wajahnya tertutup topi dan masker. Korban-korban sebelumnya keluar dari perpustakaan, halte bus dan keluar dari kapal Ferry."
"Oom Benji belum bisa recognize wajahnya?"
"Belum Ka. Oom pusing sekarang karena korban berasal dari wilayah berbeda di New York tapi modus operandi nya sama. Semua precinct sudah alert akan segala sesuatu."
"Semua mati karena dicekik? Tangan telanjang atau pakai sarung tangan?" tanya Arka.
"Semua dicekik dengan tangan yang tertutup sarung tangan lateks. Semua detektif sudah mencari tapi kamu tahu sendiri kan, unsub pasti membuangnya di tempat yang jauh dari lokasi kejadian. Bagaikan mencari jarum dalam jerami." Chris menyesap kopinya dan Arka bisa melihat gurat lelah akibat tekanan masyarakat terutama yang ras Asia untuk segera mendapatkan pembunuhnya.
"Semoga segera tertangkap Oom. Apakah FBI sudah ikut?" Arka teringat jika iparnya Pedro Pascal, sudah masuk ke tim BAU ( Behavioral Analysis Unit ) di Quantico.
"Pedro datang besok dari Quantico dan akan berkerja sama dengan FBI New York dan NYPD" jawab Chris.
"Alhamdulillah."
***
JFK Airport Dua Hari Kemudian
Arabella menunggu kedatangan Arka dan wajah gadis itu langsung sumringah melihat pria nya datang menjemputnya.
"Mas Arka" senyum Arabella terkembang sambil memeluk Arkananta.
"Yuk pulang... " Arka mengelus kepala Arabella dan berjalan menuju parkiran sambil menyeret koper besarnya.
"Mas..." bisik Arabella.
"Kamu ke depan, ambil Ruger di dalam dashboard" bisik Arkananta.
"Baik mas." Arabella berjalan menuju depan mobil Arka dan mengambil pistol Ruger, meskipun ada Glock disana. Semua keluarga Pratomo memiliki ijin menembak internasional.
Arkananta menghampiri wanita yang sedang ditarik.
"Hey man! Jangan seperti itu dengan wanita!" teriak Arkananta.
"Dia istriku! Jadi suka-suka aku lah!!" jawab pria yang mengenakan topi baseball dan masker sambil menodongkan pistol ke pelipis wanita berdarah Asia itu.
"Tolong... Dia mencoba menculik aku..." ucap wanita itu.
"Kamu orang Jepang? Korea? Malaysia? Singapura?" tanya Arka dengan bahasa campur aduk.
"Malaysia..." jawab wanita itu pelan.
"Makcik, apakah makcik hendak pulang?" tanya Arka dengan bahasa Melayu.
__ADS_1
"Kalian bicara apa?" bentak orang itu sambil masih tetap menodongkan pistolnya.
"Iye, saye hendak kembali ke rumah suami. Tadi saye pergi antar ke bandara... Tolong saye pakcik, saye tidak kenal orang ini..." jawab wanita Malaysia itu sambil menangis.
"Hey kamu! Lepaskan wanita ini! Dia tidak tahu apa-apa!" bentak Arka ke pria itu. Beberapa orang disana sudah memanggil 911 dan ditambah keamanan bandara datang dengan senjata di tangan.
"Dia harus mati! Begitu juga wanita di belakang kamu! Semua wanita Asia harus mati!" Pria itu menodongkan pistolnya ke arah Arabella membuat Arka bergerak untuk melindungi gadisnya.
DOR!
Sebuah suara tembakan terdengar dan tampak pria itu tergeletak sedangkan Arka posisi berada Diatas Arabella yang tadi didorong sambil dipeluk untuk melindungi dari tembakan orang itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arka sambil menatap Arabella yang masih berada di atas tanah.
"Aku tidak apa-apa... Mas Arka kena tembak nggak?" Arabella tampak panik dan memindai pria itu.
"Nggak, mas Arka nggak kena tembak..." Keduanya menoleh ke arah penjahat yang hendak menculik wanita Malaysia itu.
"Kalian berdua tidak apa-apa?" Sebuah suara yang sangat mereka hapal datang menghampiri mereka hingga membuat Arka dan Arabella bernafas lega.
"Bang Pedro!'"
***
"Jadi kamu tadi jemput Arabella dan melihat kejadian itu?" tanya Pedro sambil menyerahkan dua cup kopi ke Arka dan Arabella yang barusan dimintai keterangan.
"Iya bang. Aku jadi teringat cerita Oom Chris soal si unsub. Apakah dia orangnya?" tanya Arka sambil mengedikkan dagunya ke arah kantong mayat yang hendak dibawa ke koroner.
"Kemungkinan besar iya, Ka. Perawakannya dan pakaiannya juga sama" jawab Pedro.
"Mas Pedro ngapain di airport?" tanya Arka.
"Baru saja sampai aku soalnya harus menyelesaikan urusan dulu. Aku landing langsung mendengar kabar seorang wanita disandera dan sedang ditolong oleh seorang remaja yang sebenarnya kamu sudah bukan remaja lagi" kekeh Pedro.
"Motifnya apa sih? Kenapa dia benci wanita Asia?" gumam Arabella.
"Itu yang sedang kami selidiki, Ara."
Arabella mengangguk. "Ya ampun, belum ada sejam aku menginjakkan kaki di New York malah mendapatkan pengalaman aduhai begini..."
"Yang penting kalian selamat semua..." senyum Pedro.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️