The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Trio Kampret Beraksi


__ADS_3

Universitas Indonesia, Fakultas Arsitektur


Arabella dengan sabar menunggu Arkananta yang sedang maju sidang skripsi. Gadis itu lebih sering memainkan ponselnya dan membaca berbagai cerita dari grup chat sepupu perempuannya.


Kakaknya Leia dan Blaze sama-sama memamerkan perutnya yang mulai sedikit membuncit karena adanya janin disana. Juliet memamerkan dirinya sudah di pesawat hendak pulang ke Jakarta usai ujian semester, Gemintang memamerkan hasil operasi tumor pada seekor anjing great Dane. Garvita sudah berada di London sekarang untuk kuliah disana.


Arabella hanya memamerkan dirinya manyun menunggu Arkananta.


📩 Leia Bianchi : Kamu dimana Ara?


📩 Arabella Satrio : Nunggu mas Arka ujian skripsi.


📩 Blaze Bianchi : Ohya salah satu trio kampret sudah mau selesai kuliahnya ya.


📩 Juliet Reeves : Kamu sama siapa Ara?


📩 Arabella Satrio : Sendirian. Tadinya mas Romeo mau Nemani tapi nggak jadi. Katanya ada quiz dadakan di fakultas kedokteran.


📩 Garvita Schumacher : Memang mas V belum pulang dari Geneva?


📩 Arabella Satrio : Belum.


Arabella mendongak ketika pintu ruang sidang Arkananta terbuka dan tampak pria itu keluar dengan wajah datar.


"Bagaimana?" tanya Arabella kepo.


Arkananta hanya tersenyum. "A."


Arabella langsung memeluk Arkananta tanpa memperdulikan pandangan orang lain. "Congratulations!"


Arkananta membalas pelukan gadisnya. "Terimakasih Anabelle..."


Arabella hanya tertawa mendengar panggilan khas Arkananta. "Kali ini aku maafkan mas Arka manggil aku seenaknya!"


***


Tokyo University, laboratorium fisika.


Shinichi tampak serius dengan penelitian mesin roket miliknya. Sebelumnya pria imut itu banyak berkonsultasi dengan Abiyasa dan Bayu O'Grady tentang mesin. Meskipun Shinichi ingin membuatnya sendiri tapi setidaknya dia tahu basicnya.


"Kamu serius sekali Park" ucap dosen nya saat melihat Shinichi sedang melakukan kalkulasi perhitungan pembuatan roketnya.


"Tentu saja, sensei. Saya kan mau lepas dari bayang-bayang keluarga saya."


"Tapi keluarga kamu dari opa buyut kamu sudah punya nama disini ya. Dari Kenzo Kim, Joshua Akandra, Joey dan Luca Bianchi, Leia dan Luke Bianchi sekarang kamu, Park."


"Tapi mereka tidak ada yang mengambil jurusan fisika dan baru saya yang mengambilnya" cengir Shinichi bangga.

__ADS_1


"Benar. Kamu baru yang masuk di jurusan fisika, lainnya di matematika, kedokteran, arsitektur dan IT." Dosen itu menatap Shinichi yang masih berkutat dengan perhitungannya di layar monitor. "Memangnya alasannya apa kamu ambil fisika?"


"Supaya aku bisa membuat mesin X-Wing atau millenium Falcon atau malah Enterprise buat ke planet Namec."


Dosen itu hanya melongo mendengar ucapan Shinichi. "Seriously, Park, tidak ada planet Namec! Itu hanya khayalannya Akira Toriyama saja!"


"Kalau sudah bisa bikin mesin ala enterprise atau millenium Falcon yang bisa warp, yakin ada planet itu!" eyel Shinichi dengan wajah yakin.


Dosen itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


***


University of Geneva, Switzerland


Valentino dan Katya berjalan sambil bergandengan menuju kampus tempat gadis itu menimba ilmu psikologi anak. Tak heran jika Valentino merasa diacuhkan karena percakapan antara gadisnya dan Zinnia memyambung apalagi sama-sama mengambil bidang studi yang similar.


Beberapa teman Katya melihat gadis itu bersama dengan seorang pria Asia langsung kepo.


"Katya, Ist er dein Liebhaber ( apakah dia kekasihmu )?" tanya seorang temannya.


"Ja, er ist mein Liebhaber ( Iya, dia kekasihku ). Ich gehe zuerst, will ein Testkit nehmen ( aku pergi dulu, mau mengambil alat test )" jawab Katya.


"Wir entschuldigen Sie ( Kami permisi dulu )" senyum Valentino yang membuat teman - teman Katya heboh.


"Er kann Deutsch sprechen. Sein Lächeln ist so süß ( Ternyata dia bisa berbahasa Jerman. Dan senyumnya manis sekali )" ucap teman-teman Katya yang masih terdengar saat pasangan itu berjalan meninggalkan mereka.


Katya hanya menggelengkan kepalanya. "Dan sekarang aku merasa cemburu karena teman-temanku heboh melihat kamu!"


"Tapi sepertinya masih mending aku deh. Saingan mu hanya bayi tujuh bulan tapi aku, saingannya teman-teman aku sendiri."


"Kay, aku bukan tipe orang yang gampang berpaling apalagi aku mencari kamu itu penuh perjuangan lho!" Valentino merangkul bahu Katya.


"I hope you are, Val."


"Hei, masa kamu tidak percaya aku sih?"


"Percaya." Katya mencium pipi Valentino. "Biarkan kita seperti ini ya Val?"


"Yes."


***


Zinnia dan Valentino menghabiskan dua minggu lagi di Geneva lalu kembali ke Jakarta dan Indramayu sebab Valentino persiapan masuk kuliah lagi dan begitu juga dengan Katya. Zinnia sangat menyukai gadis yang selalu ceria dan mampu menghadapi Valentino yang sama sulitnya dengan sang ayah, Hoshi.


Arka sendiri sudah memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan arsitektur selain di PRC Group tapi saat wawancara disana, ada beberapa yang membuatnya tidak nyaman. Akhirnya saat Freya dan Arimbi mewawancarai nya dengan profesional, Arka pun memutuskan masuk ke perusahaan keluarganya.


Memang harusnya balik kandang ya.

__ADS_1


Dan kini Arka berada di divisi yang dibawahi oleh Arimbi dan sang mama pun tetap profesional jika menyangkut pekerjaan tapi diluar jam kerja, Arimbi tetap sebagai mamanya Arka.


***


Dua Setengah Tahun Kemudian... Indramayu Jawa Barat


"Asya halus bilang gitu ke mommy?" tanya batita bermata biru itu ke ketiga Oomnya.


"Iya Sya. Kalau kamu mau dapat brownies coklat, kamu harus begini caranya. 'Mommy, Asya mau blonies totat, boleh tidak?' Jangan lupa matanya Arsya dikedip-kedip begini nih!" Shinichi memberikan contoh ke keponakannya.


Ketiga Oomnya sedang liburan akhir tahun di bulan Desember. Dibandingkan berkumpul dengan keluarganya, trio kampret memilih bersama dengan keponakannya di Indramayu. Mereka bukannya tidak sayang dengan Vicenzo anak Dante dan Leia, Rania anak Samuel dan Blaze ataupun Biana anak Pedro dan Nadira, tapi ketiganya ingin mendidik Arsya yang tidak ada figur ayah disana menjadi anak laki - laki yang tangguh meskipun maksudnya baik tapi di lapangan membuat Arsya semakin kacau ajarannya.


"Macam gini Oom?" Arsyanendra mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Nah benar tuh!" ucap Valentino.


"Ingat Sya, kalau kamu ingin sesuatu, jangan nangis. Nggak elit, itu cara kuno. Apalagi nangis guling-guling, beeeuuu sangat-sangat tidak elegan! Masa cakep-cakep kok kayak anak singgat reog begitu!" ucap Arkananta penuh keyakinan.


"Memangnya anak singgat macam apa?" tanya Shinichi. "Sebentar, aku Googling dulu!" Tak lama Shinichi pun teriak heboh. "Oh my God! Singgat itu belatung? Arkaaaaa masa keponakan kita yang cakep, imut cetar membahana kamu samain sama singgat! Sungguh tidak elok! Dia pangeran, dodol!"


"Singgat itu apa?" tanya Arsya.


"Nih kamu lihat sendiri!" Shinichi menunjukkan gambar di ponselnya membuat Arsya bergidik.


"Eeeuuuwwww!" jerit Arsyanendra.


"Makanya Sya, kamu harus elegan kalau merayu mommy mu. Apalagi kalau kamu pengen sesuatu yang agak susah dikasih sama mommy" kompor Arkananta.


Tak lama Zinnia dan Jasmine keluar dari dapur untuk membawakan makan siang. Arsya menatap ke ketiga Oomnya yang memberikan tanda semangat.


Perlahan batita itu menghampiri Zinnia. "Mommy..."


"Yes Arsya?"


"Boleh kah Asya minta blonies totat?" tanya batita itu sambil mengedipkan matanya.


Zinnia melongo melihat aksi putranya lalu menoleh ke arah ketiga adiknya. "Siapa ini yang mengajari Arsya seperti ini?"


Trio Kampret saling menunjuk satu sama lain. Zinnia hanya bisa menghela nafas panjang.


Kacau deh!


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2