
Kediaman Keluarga Reeves Jakarta
Pagi ini Zinnia dan Arsyanendra menghabiskan malam tahun baru di rumah keluarga Reeves atas permintaan Levi dan Yanti yang kangen dengan batita tampan itu.
Menjelang pergantian tahun, Arsya bersama keempat Oomnya bermain kembang api dan petasan di halaman belakang. Suara gelak tawa khas bayi terdengar hingga ke ruang makan.
"Meskipun Arsya tidak ada Sean, tapi Oom-oom nya heboh mengasuh dia" kekeh Yanti.
"Apaan Oma, kalau trio kwek-kwek itu datang, buyar semua ajaran aku" keluh Zinnia. "Kemarin malah Arsya diajari oleh mereka kalau mau merengek, lakukanlah yang elegan..."
Hoshi dan Levi melongo. "Apa maksud nya yang elegan?" tanya Hoshi bingung. Pasti makin nggak beres tuh trio kampret!
"Arsya bilang harus memasang muka melas, jangan nangis guling-guling, dan tetap bilang dengan anggun tapi sedikit merengek" jawab Zinnia yang membuat semua orang di sana bingung.
"Lho piye tho mbak? Aku bingung lho sama ajarannya trio kampret" celetuk Juliet, adik Valentino.
"Dipraktekkan lho sama Arsya. Kayak gini nih..." Zinnia menirukan bagaimana putranya merayu dirinya untuk diperbolehkan membeli kembang api saat mereka jalan-jalan ke pasar.
Sontak semua orang disana tertawa terbahak-bahak membayangkan batita bermata biru itu memasang wajah merayu sambil memajukan bibirnya dan mata dikerjap-kerjapkan.
"Astaghfirullah! Dasar trio Kampret!" umpat Hoshi gemas. "Benar kamu Zee. Ajaran kamu langsung rusak!"
"Lha iya Oom Hoshi. Aku tuh capek-capek ngajari Arsya sekian bulan, langsung buyar dalam waktu sehari!" adu Zinnia yang membuat Yanti dan Rina tertawa keras.
"Biasanya tho mbak, yang suka ngacoin didikan itu para Oma tapi ini malah para Oom. Wis jiaaannn!" gelak Juliet gemas dengan kakak-kakak lelakinya yang wajah paripurna kelakuan bobrok.
"Zee, kayaknya besok lebaran, kamu harus jauh-jauh deh dari trio kampret. Bahaya" kekeh Levi.
"Mommmyyyy! Ayo main kembang api! Tante Juliet juga!" teriak batita tampan yang menjadi obyek ghibah.
"Iya sayang. Opa, Oma, Oom, Tante, Zee ke belakang dulu. Yuk Jules..." ajak Zinnia sambil berdiri.
"Hayuk. Bentar ya Opa, Oma, Papa macan dan mama macan." Dua wanita cantik itu pun berjalan menuju halaman belakang.
"Setidaknya Arsya tidak merasa bingung tidak ada daddynya selama ini" ucap Levi.
"Semoga Ayrton dan Karl bisa memberikan kesempatan pada Sean, ya mas Levi" senyum Yanti sambil menggenggam tangan suaminya.
"Aamiin" ucap Hoshi dan Rina.
***
Jam sebelas malam pun tiba dan Arsya yang tidak sabar untuk berteriak 'Happy New Year', terpaksa harus menunggu sambil menonton tv bersama dengan para Oomnya. Kali ini Valentino memilih nonton animal planet yang menceritakan tentang kehidupan gajah.
__ADS_1
Tanpa diduga, dalam kisah itu juga ada kisah gajah senior yang sudah merasa akan mati. Oleh para kawanannya, gajah itu mereka lindungi hingga nyawanya tercabut dan Valentino tanpa sadar menangis melihat tayangan itu. Pria itu langsung terisak membuat semua orang menengok ke arah sulung Hoshi Reeves.
"Kamu kenapa nangis V?" tanya Rina bingung. "Putus sama pacar?"
"Bukaaann" Isak Valentino.
"Lha terus kenapa?" tanya Hoshi bingung.
"Gajahnya matiiii" jawab Valentino sambil menunjuk ke arah tv membuat Arsyanendra melongo melihat Oomnya nangis kejer macan dirinya saja.
"HAAAAAHHH?" seru semua orang disana.
"Astaghfirullah! Aku kira ada apaan!" sungut Gasendra kesal.
"Tapi kan, tapi kan... Ini bikin sediiiihhhh!" Valentino semakin durjana menangisnya.
"Allahuakbar! V! Kamu itu sudah sarjana kok kelakuan macam Arsya saja!" hardik Hoshi gemas.
"Huwaaaaa, aku sediiiihhhh!"
"Aku kok jadi melihat Toyib senior di Valentino ya? Apa dia kerasukan?" Levi menatap Yanti bingung.
"Hush! Mas Levi tuh apa-apaan sih! Enak saja bilang Valentino kerasukan Papa Eiji!" omel Yanti sebal.
***
Shinichi akhirnya menyelesaikan studinya di fakultas fisika Tokyo University Jepang atau biasa disebut Todai. Dan sekarang pria imut itu pun langsung masuk ke program magister jurusan yang sama.
Dan pagi ini, Shinichi masuk ke dalam laboratorium fisika untuk menyelesaikan mesin roket rancangannya. Roket yang menjadi bahan penelitian dan skripsinya adalah sekarang dalam finishing.
Saat Shinichi sedang memasukkan data, dia baru menyadari bahwa bahan bakar yang dia gunakan, mengalami salah kalkulasi dan rocket buatannya langsung berasap. Shinichi pun panik karena mengingat adanya bahan yang bisa meledak disana. Tanpa berpikir panjang, sulung Hideo Park itu pun bergegas membawa roket buatannya keluar dari laboratorium dan segera memencet tombol lift khusus area barang. Shinichi meletakkan roket itu dan segera menutupnya.
Tak lama...
BOOOOMMMM!
Suara getaran dan lift jatuh dari lantai empat pun terdengar. Shinichi hanya bisa melongo melihat hasil perbuatannya.
"Aduh! Mati aku! Bisa disuruh ganti lift ini..." gumam si imut itu.
***
Ruang Dekan Fakultas Science
__ADS_1
Hideo dan Fayza menatap judes ke arah putranya yang hanya tersenyum kecut melihat kedua orangtuanya datang.
"Astaghfirullah Ichiiiii! Apa yang kamu lakukan?" pekik Fayza gemas dengan putra sulungnya.
"Shin salah kalkulasi mommy jadinya rocketnya sudah tidak sabar mau terbang tapi malah mau meledak..."
Hideo memegang pangkal hidungnya sampai dirinya tidak bisa marah pada putranya. Bukan soal uang untuk menggantikan lift yang dirusak anaknya, tapi malunya itu.
"Park-san, saya tahu Shinchan adalah mahasiswa yang cerdas dan ini memang salah kalkulasi saat saya teliti tadi dan Shinchan berusaha meminimalisir kerusakan dan korban jiwa dengan cerdasnya dimasukkan ke dalam lift yang jarang dipakai" ucap Dekan itu demi tidak membuat menantu mantan Yakuza marah padahal Hideo lebih marah ke Shinichi.
"Lalu, apa hukuman dari kampus untuk putra saya yang sudah merusak lift. Saya tidak masalah menggantikan kerusakan dengan memberikan lift baru, tapi putra saya harus mendapatkan hukuman juga karena akibat ulahnya juga yang tidak teliti dalam berhitung" ucap Hideo sambil menatap dekan itu serius.
"Sementara Shinichi Park, kami skors tiga Minggu tidak boleh masuk kuliah."
Hideo dan Fayza menoleh ke arah Shinichi yang santai-santai saja mendapatkan hukuman skorsing tiga Minggu.
"Baik, sensei. Saya terima" senyum Shinichi.
Hideo dan Fayza hanya menggelengkan kepalanya. Ini anak dihukum malah senang!
***
Mobil Hideo perjalanan pulang ke rumah keluarga Park
"Kamu itu gimana sih? Kok bisa bikin perkara macam itu, Ichiiiii!" Fayza mencubit pipi putranya gemas.
"Aduuuhh mommmyyyy! Sakit!" jerit Shinichi mendrama. "Yah namanya juga musibah mommy kan kita tidak tahu kapan itu akan terjadi."
"Astaghfirullah!" Fayza semakin menjadi mencubit pipi Shinichi.
"Kok kamu bisa punya ide menaruh di dalam lift barang?" tanya Hideo yang duduk di depan bersama Jin yang hanya tersenyum mendengar ulah putra bossnya.
"Ternyata hasil menonton The Big Bang Theory itu berguna. Mereka kan juga mengalami hal yang sama terus masukin ke lift. Dan aku belajar dari situlah! Kebetulan lift yang aku ledakan itu jarang dipakai. Kan daripada mubazir, ledakin saja lah!" jawab Shinichi santai.
Hideo dan Fayza menatap judes ke putra mereka sedangkan Jin sudah tertawa terbahak-bahak.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️