
Parkiran Mobil Gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia
"Aduh, aku sudah janji sama papa nggak bikin ulah tapi terpaksa... Gimana ini mas Arka?" rengek Arabella ke Arka yang hanya memegang pelipisnya. Keduanya kini berada di dekat mobil Mini Cooper milik Arabella. Bernard sibuk menelepon David untuk laporan dan bersiap jika Arabella harus dipanggil dekan.
"Ya bukan salah kamu sih Anabelle..." gumam Arka.
"Arabella! Ih, mas Arka njelehi!" Arabella manyun setiap namanya dipelesetkan oleh Arka.
"Kamu nggak papa?" Valentino memindai tubuh adiknya. Pria itu mendengar Arabella membanting seniornya membuat dirinya harus bergegas menemui Arabella.
"Kamu dengar dari siapa?" tanya Arka ke Valentino.
"Ada teman SMA ku yang masuk arsitektur, kirim pesan sama aku."
"Mas Valentino, Ara gimana ini? Ara nggak bermaksud tapi refleks dan dia menyerang duluan. Kan aku membela diri." Arabella memeluk Valentino. "Ara takut dikeluarkan padahal baru masuk kuliah."
"Sudah nggak papa." Valentino mengusap rambut hitam Arabella. "Lagian kan dari CCTV kelihatan siapa duluan yang buat perkara."
"Nona Arabella Satrio, dipanggil ke ruang dekan." Seorang pegawai administrasi fakultas teknik mendatangi Arabella yang masih memeluk Valentino.
"Mas V, mas Arka... Gimana ini?" rengek Arabella.
"Ayo, kita temani." Arka mengajak Arabella bersama dengan Valentino. "Tapi Ara, sampai di dalam, kamu harus bercerita sejujurnya. Disini kamu tidak salah, kamu hanya membela diri kamu."
"Iya mas." Tanpa sadar Arabella mencengkeram jaket Valentino.
"Kamu kan anaknya pak Dapid dan Bu Dhita. Be strong Kunti!"
Arabella menatap judes ke Arka. "Mas Arka nyebelin! Tapi aku sayang!"
Arka hanya memasang wajah sok bergidik. "Kok gue merinding ya?"
"Iiiihhh!"
Tak berapa lama, mereka tiba di ruang dekan dan tampak Salsabila yang masih pucat dan kesakitan, menatap ke arah Arabella dengan wajah marah tapi juga ketakutan.
"Kami tunggu diluar Ara" ucap Valentino. Gadis itu mengangguk.
***
"Nona Arabella Satrio, apa benar anda membanting nona Salsabila Syihab dengan teknik judo?" tanya Dekan itu.
"Benar pak."
__ADS_1
"Alasannya?"
"Saya reflek pak. Soalnya nona Sasa binti micin ini sejak ospek sudah membully saya termasuk menjambak rambut saya waktu orientasi, mengganggu saya setiap bertemu saya dan puncaknya tadi. Saya mau pulang kuliah, dihadang sama dia dengan gerombolan si beratnya dan dia menyerang saya... Saya reflek lah pak."
Dekan fakultas arsitektur itu hanya terbengong mendengarkan ucapan Arabella yang amburadul itu.
"Apakah anda tahu nona Salsabila itu putri siapa?"
"Mana saya tahu? Memang harus ya bawa-bawa nama orang tua?" Arabella menatap judes ke Salsabila. "Memang siapa orang tuanya?"
"Dia putri direktur BUMN."
"Oh dari BUMN mana pak? Siapa tahu papa saya kenal" sahut Arabella cuek. Mau bawa-bawa orangtua, hayuk aku jabani!
"Bank ... " ucap Dekan itu menyebutkan nama sebuah bank pemerintah.
"Oh."
Dekan dan Salsabila hanya melongo melihat ekspresi Arabella yang cuek bebek.
"Kamu bawa-bawa jabatan orang tua kan? Apa bapakmu namanya Rudi Syihab?" Arabella menatap datar ke Salsabila.
"Iya. Kenapa? Takut kamu?" tantang Salsabila sombong.
"Pernah. Kenapa. Papaku memakai pengawal dari sana!"
"Well, itu milik keluarga aku" jawab Arabella kalem. "Papaku, David Hakim Satrio, adalah CEO Ramadhan Securitas. Jika kamu cerdas, silahkan mengurutkan Ramadhan Securitas berkaitan dengan perusahaan mana saja! Sebenarnya saya tidak mau pamer siapa saya tapi karena kamu bawa-bawa orangtua, terpaksa deh..." Arabella mengedikkan bahunya.
Salsabila melongo. "Kamu..."
"Apa kamu tidak pernah berpikir, Valentino Reeves adalah kakakku. Papanya CEO Giandra Otomotif Co. So?" Arabella menatap dekan itu dengan wajah dingin. "Pak, apakah disini diperbolehkan bullying? Karena posisi disini dia yang salah dan saya sebagai korban. Apakah korban bullying tidak boleh melawan? Saya posisinya diserang! Banyak saksi, ada CCTV. Jadi kalau kalian bawa-bawa jabatan orang tua, so childish! Duh tapi aku kok ya kebawa ya. Tapi sudahlah, sudah terjadi."
"Tapi kamu tetap membanting aku! Mikir nggak kamu! Tulang punggungku memar dan kamu harus ganti rugi!"
"Coba kita balik posisinya. Apa kamu juga akan diam saja kalau kamu di posisi aku?" Arabella menatap tajam ke Salsabila. "Pasti kamu akan melakukan hal yang sama bukan?"
"Pak, saya tidak terima kalau dia dibebaskan dari segalah tuduhan!"
"Silahkan dilihat dari CCTV. Kamu boleh bilang saya memang keterlaluan membanting kamu tapi kalau kamu tidak memancing, saya pun akan diam saja."
Dekan itu pun melihat CCTV sesaat sebelum kejadian dan bisa dibilang Arabella memang sudah mengacuhkan Salsabila sebelumnya tapi tetap saja putri David Hakim Satrio itu diserang secara verbal. Puncaknya ketika Salsabila hendak menyerang secara fisik dengan gerakan seperti hendak mencekik leher Arabella yang kemudian dicekal oleh Arabella yang membanting tubuh Salsabila diatas paving parkiran.
"Salsabila, jika saya melihat ini, gerakan kamu itu seperti hendak mencekik Arabella dan itu tindakan kriminal. Arabella bisa saja menggunakan rekaman CCTV ini untuk menuntut kamu ke ranah hukum."
__ADS_1
Salsabila menatap tidak percaya ke dekan itu. "Pak, dia yang memancing emosi saya! Bukan saya!"
"Tapi saya lihat ini, Arabella tidak menghiraukan kamu tapi kamu tetap memancingnya. Apakah kamu tahu CCTV disini juga bisa menangkap audio? Salsabila, saya tahu kamu suka dengan Arkananta Baskara dan saya mendapatkan banyak laporan bahwa kamu tidak suka jika ada mahasiswi yang dekat dengan Arka. Seriously, semakin kamu seperti itu, semakin Arka jijik sama kamu! Saya laki-laki, Salsabila. Saya akan seperti itu jika ada cewek yang obsesinya macam kamu! Memangnya cowok cuma Arka doang?"
Arabella menoleh ke arah Salsabila. Mas Arka hanya milik aku, cewek micin!
Salsabila hanya menatap tajam ke arah Arabella. "Kamu..."
"Apa? Pak, anda lihat kan! Bagaimana dia sikapnya hendak mengancam saya?" Arabella mendrama. Kata mas Shin, jika ada yang menyerang kamu, meskipun kamu bisa mengatasinya, beraktinglah menjadi korban teraniaya. Wajah gadis imut manis itu seolah ketakutan.
"Salsabila, jika bapak mendengar kamu mengancam, membully atau apapun itu sekali lagi, kamu saya DO!"
***
Arabella keluar dari ruang dekan dengan wajah tersenyum. Apalagi dirinya tidak mendapatkan hukuman karena kesalahan Salsabila jauh lebih rumit karena dari sudut pandang manapun, dia tidak memulai perkelahian terlebih dahulu.
Arka dan Valentino yang menunggu di luar menyambut Arabella dengan kepo.
"Sudah?! Kamu bisa membela diri kamu kan?" tanya Valentino.
"Alhamdulillah. Sekali lagi dia membully, kena DO."
"Kan UI memang gencar berkampanye No Bullying jadi dia ketangkap basah lah." Arka melihat Salsabila keluar dari ruang dekan dengan wajah marah dan menatap ketiganya tajam.
"Tahu nggak, tadi di dalam, dia bawa-bawa orang tuanya yang direktur sebuah bank BUMN. Padahal bapaknya suka pakai pengawalan dari perusahaan papa. Gimana coba?" kekeh Arabella.
"Kaget dong!" kekeh Arka.
"Lupa dia, diatas langit masih ada awan kinton" gelak Arabella.
"Untung bukan awan cumulonimbus" celetuk Valentino.
"Itu mah film UP" timpal Arka.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1