The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Arkananta dan Minion


__ADS_3

Mahasiswi yang dibentak oleh Arkananta menatap garang ke pria itu. Selama ini dirinya sudah suka dengan Arka yang dikenal supel dan ramah kepada siapa saja tapi seperti ada jarak dengan para teman perempuannya.


Dan baru kali ini Arkananta tampak marah membela seorang mahasiswi baru? Ada hubungan apa Arka sama gadis culun itu?


"Arka! Kamu kan bukan panitia! Minggir!"


"Eh kampret! Elu sebagai ketua panitia, matamu picek apa ya? Sudah jelas dilarang hukuman fisik, tapi si cumi sok kecantikan ini main jambak rambut anak baru! Fisik atau bukan?!" bentak Arkananta ke ketua panitia yang merupakan saingannya dalam pembuatan maket.


"Halah! Paling anak baru itu buat kesalahan!"


"Jawab dulu kampret! Apa harus dijambak rambutnya? Elu mau gue jambak? Fisik atau bukan? Hah!"


Ketua panitia melirik ke arah belakang Arkananta dimana ada Valentino Reeves yang pernah berurusan dengannya karena masalah mobilnya menabrak Audi milik putra Hoshi Reeves. Dia masih ingat bagaimana Valentino mengata-ngatai nya begitu pedas. Dan sekarang, ini kali kedua dia dibilang matanya picek!


"Salsabila, kamu juga tidak boleh tarik rambut adik kelas. Alasannya apa?" tanya ketua panitia bernama Kevin itu.


"Dia melihat Arka."


Kevin melongo. "Hanya karena melihat Arka? Absurd banget alasan kamu! Sudah kamu ke kelompok lainnya!"


Arka melirik ke arah Arabella dan hanya tersenyum samar membuat gadis itu tahu kalau Abangnya akan melindunginya.


"Kamu! Anak baru! Kembali ke kelompok kamu!" perintah Kevin yang membuat Arabella bergegas ke kelompoknya.


"Kevin!" Dua teman Kevin datang menghampiri pria itu.


"Kevin, Stuart dan Bob!" ucap Arkananta asal.


"Lu kira kita Minion, Ka?"


"Kan mirip lu bertiga !"


"Brengsek lu!" Salah satu teman Kevin mau menghajar Arka tapi ditahan Kevin.


"Sudah! Nanti dipanggil dekan kita!"


"Lu jadi ketua panitianya yang benar Kev! Jangan mentang-mentang naksir si cumi Salsabila, elu lunak macam bandeng presto! Tegas kalau ada yang main fisik!"


"Memang cewek tadi siapa nya elu?" Kevin bertanya dengan angkuhnya.


"Adiknya Valentino! Mau elu adu mulut lagi sama dia?" balas Arkananta. Nggak salah kan? Memang adiknya si kampret satu itu juga.


Kevin menatap ke arah Valentino yang bersedekap dengan wajah dingin bersebelahan dengan seorang pria berdarah Jepang.


"Brengsek! Kenapa juga dia adik Valentino!"


Arkananta menyeringai.


***

__ADS_1


"Elu ngomong apa sama Kevin Minion?" tanya Valentino saat Arka berjalan menuju sepupunya.


"Gue bilang si Ara adik elu."


"Eh kampret! Dia adik lu juga cumii!" Valentino mendelik. Untung gedung arsitek dan IT berbeda.


"Kan si Kevin Minion masih utang sama elu kan? Perbaikan Audi lu? Masih di bengkel Oom Kareem kah?"


"Masih! Brengsek tuh bocah! Gaya doang punya duit, di dompet cuma ada 300ribu sama rekening kagak sampai 10jt padahal biaya benerin bemper Audi aku ga sampai 5jt tapi dia baru bayar 2jt. Masih kurang tuh cumi! Tapi songongnya! Kalau mau songong itu harusnya sumbut! Tampang ada, otak encer, duit ada! Lha dia apa kabar? Sama Gru ajah masih cakepan Gru!" omel Valentino.


Romeo tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan judes sahabatnya. "Kalau yang ngomong elu mah patut, V."


"Lha iya. Lupa dia diatas langit masih ada atmosfer" kekeh Arkananta. "Dah gue mau pulang. Mau lanjut persiapan skripsi gue!"


***


Seminggu Kemudian...


Hasil lamaran menjadi asisten dosen yang dikirim oleh Arkananta, hanya satu yang dijawab dan bagi putra Bima Baskara itu sudah oke. Apalagi yang menjawab lamarannya adalah salah satu dosen pengampu skripsinya besok.


Pagi ini Arkananta menemui dosen bernama pak George yang biasa dipanggil pak Jos oleh para mahasiswanya. Pria imut itu pun menuju ruang dosen apalagi dia sudah janjian dan Pak Jos dikenal dengan dosen yang on time.


"Selamat pagi pak" sapa Arkananta sambil mengetuk pintu.


"Pagi. Masuk Arka."


"Duduk."


Arka pun duduk di depan meja kerja pak Jos yang dipenuhi dengan berkas-berkas dan kertas blueprint.


"So, kamu mau menjadi asisten saya?" tanya pria kurus berkacamata dengan wajah mirip dengan detektif Misao Yamamura yang merupakan detektif dari perfektur Gunma.



Bayangkan ditambah kacamata deh!


"Benar pak Jos. Saya sudah masuk skripsi dan saya rasa waktu luang saya lebih banyak karena semua mata kuliah sudah saya penuhi, hanya tinggal skripsi saja."


Pak Jos menatap layar monitor komputernya yang menunjukkan transkip nilai Arkananta yang hampir semuanya A kecuali agama yang mendapatkan B.


"Kenapa semuanya dapat A tapi mata kuliah agama kamu B. Apa alasanmu?"


Arka menggaruk kepalanya. "Saya ketiduran di pertanyaan terakhir karena malam sebelumnya lembur membuat maket dan coding."


Pak Jos tertawa. "Make sense. Oke, Arka, kamu juga skripsinya sama saya ya?" Ucap dosen itu sambil melihat berkas pengajuan skrips pria imut itu.


"Iya pak."


"Jadi kamu sengaja menjadi asisten saya agar mudah begitu skripsinya?" Pak Jos memicingkan matanya.

__ADS_1


"Salah satunya itu pak tapi saya tahu bapak sibuk, jadi kalau saya menjadi asisten bapak kan lebih mudah bertemunya kan pak?" cengir Arka sok imut.


"Kamu benar. Oke. Kita mulai sekarang saja. Kebetulan jam kuliah pertama adalah pengenalan arsitektur ke mahasiswa baru. Kamu siap Ka?"


"Insyaallah siap pak."


***


Pak Jos dan Arkananta pun berjalan menuju kelas perkuliahan yang sekarang penuh dengan banyak mahasiswa semester satu. Suara riuh sebelumnya langsung menghilang begitu salah satu dosen killer itu masuk.


Arabella yang berada di ruang kelas itu menatap tidak percaya kalau sepupunya yang juga cowok yang ditaksir sejak dia kecil, bersama dengan seorang dosen.


Apa mas Arka sekarang menjadi asisten dosen? Waduh ! Gawat! Sainganku semakin banyak! Sudah kemarin si cewek micin Sasa main hadang aku dan ngata-ngatain lagi, sekarang malah mas Arka disini sama dosen.


"Selamat pagi semuanya. Selamat datang di kampus UI, kampus yang banyak sejarah nya, kampus jaket kuning kebanggaan. Tanpa basa basi, saya adalah George William, ST, M.Ars. biasa dipanggil Pak Jos. Saya adalah dosen pengampu mata kuliah gambar bentuk dengan 4 SKS. Jangan main-main dengan mata kuliah ini karena dari dasar gambar bentuk ini, akan terbayang apakah bangunan yang saudara buat jadi wow atau jadi tai!"


Semua mahasiswa disana melongo. Jadi tai? Yang benar saja!


"Kenapa saya bilang begitu? Jika bangunan anda tidak memiliki nilai wow, useless! Jadi bangunan yang harus dibuat ulang. Kalau masih dari proses Autocad atau sketsa, masih bisa kalian hapus atau kertas kalian buang! Tapi kalau sudah jadi, tidak berguna, harus dibongkar ulang, biaya lagi! Paham?"


"Paham pak."


"Ohya. Karena ini mata kuliah yang membutuhkan prespektif dan persepsi, saya akan dibantu dengan asisten saya bernama Arkananta Baskara, yang sudah masuk skripsi. Kalian bisa bertanya pada kakak kelas kalian ini tapi jangan sekali-kali menaksir nya karena dia sudah punya tunangan!"


Arka melirik ke arah dosennya dengan wajah jutek. Kebiasaan deh selalu menutup akses biar tidak diganggu! Pak Jos memang dikenal suka bilang begitu ke para mahasiswanya tentang status asistennya agar tidak membuat drama.


Arabella tersenyum smirk. Wong tunangannya disini kok pak Jos.


Arka mengedarkan pandangannya dan melihat Arabella sedang menatap dirinya.


Lha? Si Anabelle disini?



Yang lihat si Anabelle eh... Arabella



Yang sumringah melihat mas Arkanya


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2