The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Keluarga Park Galau


__ADS_3

Coffee shop Chiyoda Tokyo


Shinichi menatap tajam pria Italia yang hanya beda sekitar dua tahun darinya tapi muka lebih boros dari usianya yang katanya mau 21 tahun.


"Lu kira buah apa matang?" sungut Shinichi kesal ke Alessandro.


"Look Shinichi, bentuk fisik aku akan membuat adikmu tertarik padaku. So..."


"Sakura tidak melihat fisik seseorang meskipun itu juga menunjang. Dengar, kembang melati itu lebih melihat personality, karakter bukan cuma fisik!"


"Tapi aku yakin pasti adikmu akan jadi milikku, Park."


"Dadi wong kiie Ojo kemaki ( Jadi orang itu jangan sombong )!" omel Shinichi sebal.


"Hah?" Alessandro menatap Shinichi bingung.


"Googling saja sendiri!" balas pria imut itu judes.


"Itu bahasa apa?" tanya Alessandro.


"Bahasa kungkang!"


***


Pertemuan antara Shinichi dan Alessandro berakhir dengan kejudesan Shinichi plus tidak ada ijin dari pria imut itu ke Alessandro untuk mendekati adiknya.


Shinichi pun memilih pulang sendiri daripada diantar oleh Moretti Uno dan menjurus modus ingin bertemu dengan Sakura di rumah karena tahu adiknya pasti sudah pulang ke rumah.


Pria imut itu memilih naik kereta pulang ke rumahnya dan dirinya merasa lega melihat adiknya asyik makan.


"Sudah di rumah kembang Mayang?" sapa Shinichi.


"Lha mas Shin tuh gimana? Aku sudah kelihatan wujudnya begini masih ditanya pula?" gerutu Sakura yang sedang makan ramen.


"Hehehehe. Gimana sekolah hari ini?"


"Morotin ketemu appa."


"Haaaaahhh? Terus?"


"Ya appa pasang muka dingin lah dan dengan pedenya bilang ke appa kalau dia sayang sama aku."


"Appa nggak hajar?"


"Belum sempat mas Shin, bel sekolah sudah bunyi."


"Alamat deh! Sakura, Desember besok mas Shin mau ke Jakarta. Kamu berhati-hatilah karena duo Morotin lagi kampanye diri mereka ke kita."


"Apa maksudnya mas Shin?"


"Tadi si manusia spidol ngajak bertemu dengan mas Shin. Intinya, dia ingin mendekati kamu via mas Shin."


Sakura melongo. "Apa benar aku punya susuk?"


Shinichi hanya mengedikkan bahunya. "Kamu tidak pakai susuk tapi kamu memang punya daya tarik tersendiri."

__ADS_1


Sakura hanya melongo.


***


Usai pertemuannya dengan Raffa Moretti, Hideo tampak termenung di ruang kerjanya di sebuah toko emas terbesar di distrik Roppongi yang dekat dengan salah satu markas Yakuza Takara.


Hideo tampak galau melihat bagaimana gigihnya Raffa mengejar putrinya dan hal itu membuatnya gusar hingga dia menelepon Fayza untuk datang ke toko emasnya.


"Ada apa Hideo?" Fayza masuk ke ruang kerjanya dengan tatapan bingung karena tidak biasanya suaminya meminta dia datang dengan nada aneh. "Apa Sakura berkelahi di sekolah? Atau Ichi ketiduran lagi di ruang kuliah?"


Hideo tersenyum melihat istrinya lebih panik anaknya nakal daripada yang lain.


"Duduk sini Fay" pinta Hideo sambil menunjukkan pahanya dan Fayza pun langsung duduk di pangkuan suaminya.


"Ada apa Hideo? Apa toko mu ada masalah?"


"Sayang, kita menikah sudah berapa lama?"


Fayza mengerenyitkan alisnya. "19 mau 20 tahun. Kenapa?"


"Fay, tadi aku bertemu dengan remaja yang mengejar Sakura."


"Raffa Moretti? Wajar lah kalau kamu bertemu, kan mereka satu sekolah meskipun Raffa lebih tua setahun" ucap Fayza.


"Dia bilang padaku kalau sayang dengan Sakura." Hideo menatap Fayza yang terkejut.


"Dia berani bilang gitu kepadamu?" tanya Fayza tidak percaya.


"Iya dan aku jadi teringat saat aku berjuang mendapatkan kamu dari papa Ashley."


"Aku tidak tahu Fay. Ya ampun Sakura baru 16 tahun!"


"Hideo, anggap saja mereka cinta monyet dan aku lihat Sakura juga tidak menanggapi baik Raffa maupun kakaknya. Mereka paling hanya tertarik sesaat dan kalau Raffa sudah kuliah di luar Jepang, pasti akan melupakan Sakura."


Hideo memeluk Fayza yang juga membalas pelukan suaminya. "Aku harap begitu. Hanya sekedar rasa tertarik sesaat. "


***


Bulan Desember, Jakarta


Arkananta sudah mempersiapkan semua barang-barang yang hendak dibawanya ke Indramayu karena diperkirakan Zinnia akan melahirkan di bulan ini sekitar Minggu kedua atau ketiga.


Valentino sendiri sudah menyelesaikan ujian semester nya sedangkan Arka masih menyelesaikan skripsinya dan diperkirakan akan maju sidang di bulan April.


"Si kungkang sudah berangkat ke Jakarta?" tanya Valentino yang datang ke mansion Giandra tempat Arka menginap. Bara dan Arum meminta agar cucunya menginap disana karena Arum hendak memberikan banyak wejangan jika kakak mereka mau melahirkan.


"Sudah. Katanya sore ini sampai."


"Sudah datang kamu V?" tanya Arum.


"Sampun Oma." Valentino lalu mencium pipi Arum. "Opa Bara dimana?"


"Tuh di belakang lagi ngobrol sama Remy. Nggak tahu ngobrol apaan."


"V ke belakang dulu. Elu ga ke belakang Ka?"

__ADS_1


"Aku disini aja sama Oma sambil nunggu si Shinchan datang. Kalian kan kalau diajari Oma soal aneh-aneh kan auto dongok!"


"Enak saja bilang gue dongok!" cebik Valentino judes.


"Arka, nggak boleh bilang begitu!" tegur Arum gemas dengan cucunya.


"Njih Oma."


"Aku ke belakang ya Oma." Valentino pun berjalan menuju halaman belakang tempat Bara mengobrol dengan Remy.


***


Bandara Soekarno Hatta Jakarta


Shinichi tiba di bandara Soekarno-Hatta dan bertemu dengan Dewananda, putra Bagas Hadiyanto dan Safira Pratomo yang datang dengan pesawat British Airways.


"Lha tumben elu pulang? Memang dapat libur di Eaton?" ledek Shinichi yang datang dengan Japan Airlines.


"Nyokap nangis-nangis nyuruh aku pulang bro."


"Lagian ya cumi, elu juga pakai acara kabur ke Eaton. Kenapa kagak sekolah disini saja sih?" tanya Shinichi ke remaja yang lebih kuat darah Indonesia nya itu.


"Bah, kalau disini aturan ketat banget dari bokap!" cebik Dewananda yang seumuran dengan Sakura, Juliet dan Garvita.


"Yaaaa Oom Bagas kan jaga elu, Wa. Secara jiwa playboy bokapn lu kayaknya nurun deh di elu."


"Idiihhh. Masa jiwa playboy nurun? Eh elu ngapain bro ke Jakarta?" Dewa dan Shinichi berjalan keluar kedatangan setelah menyelesaikan urusan di imigrasi.


"Mau ke mbak Zee. Kan diperkirakan mbak Zee mau lahiran Minggu - Minggu ini jadi kita-kita jagain mbak Zee lah!"


"Jangan bilang trio kampret bakalan ke Indramayu..."


"Bingo!" cengir Shinichi.


"Ya ampun, bakalan jadi apa anaknya mbak Zee begitu lahir di dunia yang dilihat setelah mbak Zee, kalian!" kekeh Dewananda. "Semoga kalian ngajarinnya yang benar nanti!"


"Menghina! Kami itu bakalan mengajarkan anaknya mbak Zee menjadi anak yang tangguh, tidak sekaku bang Lukie tapi tetap cerdas!"


Dewananda hanya menggelengkan kepalanya. Keduanya pun melihat dua sopir masing-masing sudah datang menjemput.


"Aku duluan bro. Salam buat semua orang di Mansion Giandra" pamit Dewananda sambil memeluk Shinichi.


"Salam buat Oom Bagas dan Tante Safira. Elu jangan bikin perkara sama bonyok ( bokap nyokap ) elu!" balas Shinichi.


"Nggak janji kalau itu!" seringai Dewananda.


"Dasar!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2