
Apartemen Zinnia Di Geneva
"Apakah kamu pacar Valentino?" tanya Zinnia dengan tatapan super kepo.
"Ah, maafkan saya mbak Zinnia. Nama saya Katya D'Angelo, tapi Val biasa memanggil saya Kay." Katya mengulurkan tangannya ke Zinnia yang masih menggendong Arsyanendra.
"Senang bertemu dengan pacar Valentino. Ayo masuk Katya" ajak Zinnia sambil menyambut tangan gadis itu.
"Halo boy. Kamu pasti Arsyanendra, keponakannya Oom Valentino. Ya ampun, mata kamu sama lho sama Tante warnanya" senyum Katya yang membuat Arsyanendra menatap gadis itu tanpa berkedip.
"Tampaknya Arsya tahu deh cewek cantik" kekeh Zinnia. "Jangan jadi Casanova ya nak."
Arsyanendra menatap mommynya. "Kenapa Sya? Minta gendong sama Tante Katya?"
"Aku cuci tangan dulu ya boy." Katya berjalan menuju wastafel. "Hai Valentino. Sebentar ya, aku gemas dengan keponakan kamu."
Valentino melongo. Really?! Gue dikacangi?
Katya sudah cuci tangan dan Arsya tampak ingin minta digendong gadis itu.
"Perasaan kamu itu pacar aku tapi kenapa kamu selingkuh di depan mataku..." gerutu Valentino. "Selera kamu memang bule ya?"
Zinnia terbahak mendengar ucapan Valentino yang absurd dengan nada cemburu yang tidak ditutupinya sedangkan gadis yang menjadi obyek omelannya malah asyik bermain denga Arsyanendra yang menyentuh wajah Katya.
"Maaf Val, tapi bule memang menggoda" kerling Katya ke Valentino yang manyun.
Zinnia masih tertawa mendengar pasangan kacau itu lalu menuju ke dapur untuk memasak sarapan.
"Mbak Zinnia..."
"Mbak Zee saja Katya."
"Mbak Zee, mau buat apa?" tanya gadis itu sambil menghampiri Zinnia seraya menggendong Arsyanendra.
"Mau buat sarapan. Kenapa?"
"Aku bantu ya. Arsya, Tante mau buat sarapan dulu. Arsya sama Oom Val ya di karpet. Mau ya ganteng?" bujuk Katya. "Kan kelihatan tuh..."
"Sini, Arsya aku gendong saja. Kamu bantu mbak Zee." Valentino mengulurkan tangannya ke Arsya yang mau pindah ke pelukan oomnya.
"Bikin yang gampang saja, Katya. Kamu goreng nugget, mbak Zee buat scrambled egg. Sama nanti tolong siapkan cereal dan susu. Val, mau waffle atau pancake?"
"Waffle aja mbak. Ini aku ambil buah-buahan dari kulkas." Valentino mengambil kotak berisikan blueberry dan raspberry yang sudah disiapkan pengawal Ayrton.
Pagi itu Katya menikmati acara sarapan bersama Valentino dan Zinnia. Meskipun sarapan sederhana, tapi bagi Katya ini sangat membuat dirinya bahagia. Apalagi dia tahu kalau Zinnia istri seorang pangeran tapi tampak humble dan ramah.
***
"Sudah berapa lama kalian kenal?" tanya Zinnia saat mereka sudah selesai sarapan dan sedang di atas karpet tebal bermain bersama Arsyanendra.
__ADS_1
"Sejak SMA mbak" jawab Valentino yang duduk di sebelah Katya.
"Aku dulu anak pindahan mbak dari Barcelona karena Daddy ku bekerja di konsulat Spanyol di Jakarta. Dan aku sekelas dengan Valentino serta Romeo."
"Terus bisa sama Valentino?"
Katya menoleh ke Valentino. "Aku suka cewek pintar. Dan Kay masuk ke dalam kriteria cewek yang aku suka."
"Valentino itu mirip papanya, selalu cari yang perfect versinya" senyum Zinnia sambil heboh mensupport Arsya yang hendak merangkak dan berusaha untuk duduk.
"Sya, kamu yang jelas dong! Mau mbrangkang atau mau duduk? Macam Oom Shinchan mu saja tidak jelas" goda Valentino ke keponakannya yang masih bingung ingin apa sambil memaju mundur b0k0ngnya.
"Biarin saja lah Val. Fasenya kan memang begitu..."
Tiba-tiba Arsya bisa duduk namun setelahnya oleng lagi. Ketiga orang dewasa disana tampak heboh melihat bayi enam bulan itu malah tertawa karena oleng.
"Fix hari ini kita mendukung Arsya bisa duduk!" gelak Katya.
***
Tokyo Jepang
Shinichi tampak manyun melihat hasil ujian semester genap nya yang lagi-lagi ada yang mendapatkan B.
Dan sekarang Shinichi merasakan bagaimana harus disidang oleh kedua orangtuanya. Hideo dan Fayza bukanlah orangtua yang mengagungkan sebuah nilai cuma karena Shinichi sendiri yang meyakinkan mereka akan mendapatkan nilai bagus.
Tapi sekarang dirinya tidak bisa menyombongkan diri dapat perfect score karena lagi-lagi yang mendapatkan B adalah mata kuliah yang menurutnya sangat unfaedah dan tidak relate dengan ilmu fisika.
"Kan sangat unfaedah, appa?"
Hideo dan Fayza hanya saling berpandangan. "Unfaedah buat kamu, Ichi tapi tidak buat kampus kamu."
"Ah mommy. Bagi Shin, yang unfaedah harusnya jangan dimasukkan dong. Bikin jelek transkip nilai saja" rengek Shinichi.
"Karena kamu ada B nya, jadi batal ya ke Jakarta" goda Hideo.
"Appaaaaaa..."
"Lho yang janji nilainya straight A siapa? Kan bukan appa atau mommy yang minta?" Hideo makin senang menggoda putra sulungnya.
"Mommmyyyy!" Shinichi menatap melas ke Fayza yang sudah tidak tahan menahan tawa.
"Hideo, gimana ini? Tapi percuma kan Ichi ke Jakarta? Valentino pergi ke Geneva sama Zee dan Arsyanendra. Arka sibuk persiapan ujian skripsi. So, kamu di Tokyo saja ya bantu Mommy dan appa?"
Shinichi semakin manyun.
"Shin, bantu pekerjaan appa saja. Lagipula, itu kan juga milik kamu juga." Hideo menatap putranya serius.
"Tapi appa, kalau aku nantinya jadi ilmuwan menemukan mesin ala starfleet enterprise dan aku terbang mencari planet Namec, nggak papa kan?"
__ADS_1
Hideo memegang pangkal hidungnya sedangkan Fayza sudah terbahak mendengar argumen Shinichi.
***
Jakarta Indonesia
Arabella siang ini membantu Arkananta untuk finishing skripsinya. Menurut rencana Arkananta akan sidang Minggu depan.
"Mas Arka, ini sudah benar tone warnanya?" tanya Arabella sambil melihat hasil desain 4 dimensi milik Arkananta.
"Sudah. Apa kamu ada ide lain?" tanya Arka yang akhirnya memutuskan untuk berpacaran dengan Arabella karena dirinya merasa sudah nyaman dengan gadis itu.
Arabella memang tidak secantik duo G atau Savrinadeya tapi yang membuat Arka mau bersama Arabella adalah gadis itu bukan tipikal neko-neko, apa adanya dan selalu mengungkapkan isi pikiran dan hatinya tanpa ditutupi.
"Kalau Ara sih lebih suka tone warnanya agak tua satu tingkat biar terlihat fancy dan classy."
"Coba kamu ganti."
Arkananta menatap hasil penggantian warna Arabella dan mengakui kalau gadisnya lebih benar dalam permainan warna.
"Nice Anabelle! Pintar kamu!"
"Ara dilawan. Kan sudah tahu kalau soal warna, Ara paling sensitif tahu mana yang cantik dan berkelas." Arabella tersenyum ke arah Arkananta.
"Besok kalau mas Arka sidang, kamu temani ya Ra."
"Ya iyalah! Edyan opo aku ora ngancani Kowe mas! ( gila apa aku tidak menemani kamu mas )."
"Lha malah metu jowone ( malah keluar jawanya )." Arkananta terbahak.
"Aku rasanya ingin ikut mbak Zee dan mas V ke Geneva."
"Tapi kalau kamu ke Geneva, nggak bisa nemenin mas sidang dong!"
"Lha Kuwi makanya aku kan milih bersama mas Arka tersayang." Arabella merangkul lengan Arkananta.
"Kamu itu lebay banget sih Anabelle?"
Arkananta dan Arabella menoleh melihat Bima sudah berdiri di pintu ruang penghubung.
"Oom Bima kenapa ikutan manggil aku Anabelle sih?" protes Arabella manyun.
"Suka-suka Oom lah!" ujar Bima sambil ngeloyor.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️