
Kediaman Keluarga Baskara
Arkananta sudah bersiap untuk menuju kampus untuk melihat lowongan menjadi asisten dosen. Bukan tanpa sebab, Arka ingin segera lulus dan dosen-dosennya yang termasuk killer sering menyulitkan mahasiswanya. Demi kelangsungan nilai sempurna, Arka harus pintar-pintar mendekati mereka agar tidak dipersuli nantinya.
"Kamu mau kemana Ka?" tanya Arimbi yang sedang menyiapkan sarapan buat suami dan putranya. Sejak awal Arimbi memang selalu menyiapkan makan buat suami dan putranya meskipun ada pembantu di rumah.
Rumah Bima dan Arimbi memang mungil dibandingkan dengan keluarga Pratomo lainnya, karena Arimbi sangat menyukai desain Bima saat membuat rumah ini setelah hancur gara-gara bom mobil. ( Baca Bara dan Arum Bonchap Gelap ).
"Ke kampus ma. Cari lowongan buat asisten dosen. Kan Arka mau ngebut kuliahnya biar bisa langsung daftar kerja di PRC Group."
"Ya ampun Arka, tinggal masuk kan bisa. Kamu punya punya jatah disana."
"Ma, aku tahu aku punya jatah di PRC tapi aku mau masuk sesuai prosedur. Kan mama juga sama kan?" cengir Arka sambil duduk di kursi makan.
"Bagus deh! Tunggu, kamu nggak bilang kamu keturunan Giandra?"
"Dih ngapain bawa nama Opa. Nggak deh! Lihat si V. Begitu tahu nama belakangnya Reeves, langsung banyak penjilat dekat sama dia. Untung bocahnya macam kulkas berjalan plus kalau sudah ngamuk bikin nelangsa hati."
Arimbi menggelengkan kepalanya. "Macam Hoshi saja."
"Lha anaknya ma. Mau gimana?"
"Romeo kuliah di kedokteran ya?"
"Iya, sekarang jadi kakak kelasnya Shayna sahabatnya Jules. Hebat tuh anak, nikah muda, masih sekolah tapi otaknya encer. Apalagi dia sahabatan sama Jules, tambah deh keasah otaknya."
"Shayna itu yang anaknya manis ya? Mirip mbak Astuti lho gayanya, kalem gitu tapi eh... Tante Astuti nggak kalem Ding" gumam Arimbi mengingat pernah membanting Hideo, appanya Shinichi.
"Ma, keluarga kita mana ada yang kalem 100%, kagak ada! Semua itu bar-bar termasuk para menantunya!" ujar Arka sambil menyesap susu pisang favoritnya.
"Iya sih ..."
"Lha udah pada mau makan." Bima datang dari bengkel nya. Seperti kebiasaannya pagi usai sholat subuh, dirinya pasti ke bengkelnya untuk memeriksa pekerjaan hari ini.
"Sarapan mas" ajak Arimbi.
***
Arkananta memarkirkan mobil Honda HRV nya di parkiran fakultas teknik dan bergegas menuju bagian lowongan asisten dosen yang terpasang di papan. Terkadang dosen tidak mau melakukan pengumuman di media sosial, lebih suka tradisional way.
__ADS_1
Mata coklat Arkananta mulai mencari lowongan di papan pengumuman dan tersenyum melihat ada dua dosen yang sedang mencari asisten. Arkananta mencatat keduanya dan langsung mengirimkan email sesuai alamatnya.
Setelah itu Arka keluar kampus dan menuju acara orientasi mahasiswa baru. Dan wajah Arka langsung jutek ketika melihat wajah yang sangat familiar.
Kok bisa sih dia keterima di Arsitektur UI sih?
***
Arabella yang sedang mencari tanda tangan kakak kelas, langsung sumringah melihat Arkananta yang sedang memperhatikan anak-anak mahasiswa baru melaksanakan ospek.
"Mas Arka..." bisik gadis berambut panjang yang sekarang sedang di kepang tiga.
"Eh kamu! Ngapain lihat-lihat kakak kelas yang bukan panitia! Ayo sana cari tanda tangan!" bentak seorang kakak kelas cewek ke Arabella yang kepergok menatap Arkananta.
"Eh, iya kak." Arabella lalu mulai mencari-cari kakak kelasnya yang anak arsitek.
Arkananta hanya tersenyum tipis melihat Arabella dibentak-bentak.
"Lihat siapa?"
Arkananta menoleh ke arah sepupunya yang datang bersama dengan sahabatnya.
"Dih, kasihan amat si Anabelle" kekeh Valentino.
"Kalian kok usil sama Ara sih?" Romeo menggelengkan kepalanya ke arah dua orang saudara sepupu yang jahil sama adiknya sendiri.
"Lha dia sendiri yang pengen masuk UI. Hebat sih tapi nyebelin sama kampusnya pulak!" Arka manyun melihat Arabella memberikan senyum manis ke dirinya. "Apa dia nggak sadar kalau masuk kesini dan tahu dia suka aku, bakalan dibully?"
"Tugas kamu untuk melindunginya, Ka. Meskipun kita tahu elu kagak demen sama si Kunti, tapi dia saudara kita ndul!" Valentino menatap Arkananta serius. "Dia sama dengan Juliet, sama-sama masuk akselerasi biarpun beda sekolah. Harus kamu akui, Ka. Ara punya otak encer sama dengan satu monyet di Tokyo."
"Satu monyet? Maksudnya Shinichi?" Romeo menatap dua orang di sebelahnya.
"Siapa lagi kampret satu lagi yang ada di Tokyo?" gerutu Valentino.
***
Arabella Ramadhan Satrio memang baru mau menginjak 15 tahun, usia yang sama dengan Juliet sepupunya yang beda setahun. Ara biasa dia dipanggil memang anak cerdas, dan idola nya adalah sang ibu Anandhita Ramadhan Satrio dan Alea Hamilton Bradford yang sekolah nya langsung loncat karena otaknya.
Menjadi anak tunggal dikelilingi keluarga cerdas, membuat Arabella terpacu untuk belajar lebih giat. Gadis manis itu merasa otaknya tidak sejenius para sepupunya yang lain jadi dia ingin membuktikan bahwa dia mampu.
__ADS_1
Meskipun lebih muda dari Juliet, Arabella mampu lulus bersama dengan sepupunya itu. Entah kenapa sejak kecil, Ara yang berbeda sekitar empat tahun dari Arkananta, selalu mengatakan bahwa dia adalah jodoh putra Bima Baskara.
Para tetua sendiri tidak ada masalah karena tidak ada hubungan darah langsung keluarga dengan keluarga Giandra apalagi Gozali bukan anak kandung Abimanyu Giandra yang menikah dengan keponakan Abi dari Antasena yang merupakan sepupu jauh Abi.
Arkananta sendiri merasa jengah dikejar-kejar Ara sejak gadis itu masih balita. Biarpun sering digoda Arka sampai menangis, tapi Ara tetap tidak kapok dan terus mengejar Arka. Hingga sekarang.
***
"Gue bakalan bilang sama Oom Dapid kalau anaknya obsesi sama gue dan itu sudah mengkhawatirkan." Arka masih menatap Arabella yang dikerjain sama kakak kelas.
"Sudah lah Ka, nanti kan kalau sudah mulai kuliah, siapa tahu dia melihat teman baru yang lebih dari elu, nanti dia berhenti mengejar elu" ucap Valentino.
Ketiganya masih masih melihat-lihat acara ospek ketika seorang kakak kelas perempuan mulai melakukan kekerasan fisik ke Arabella yang tampak melihat ke arah sepupu-sepupunya.
Valentino dan Romeo hendak maju tapi kalah cepat dari Arkananta yang segera berlari ke arah Arabella yang ditarik rambutnya.
"Kamu jadi cewek kasar banget sih!" Arkananta menarik tangan teman kuliahnya dan mendorong gadis itu hingga agak terhuyung.
"Dia main lihat-lihat kamu! Memang siapa dia! Hanya anak baru saja sudah belagu! Kecentilan tahu nggak!" bentak gadis itu.
"Dengar ya. Mau adik kelas ini lihat aku atau nggak, dia punya mata! Memang ada larangan tertulis tidak boleh lihat sesuatu? Cewek kok kasar! Mau kamu rambutnya aku tarik?" bentak Arkananta kesal membuat gadis itu memucat.
Arabella hanya diam saja melihat Arkananta membelanya meskipun seolah tidak mengenalnya. Ara tahu karena demi kebaikannya karena pasti akan banyak yang membullynya jika tahu dia sepupu Arkananta.
Valentino dan Romeo hanya tersenyum smirk.
"Katanya nggak suka tapi tetap saja belain" kekeh Valentino.
"Dia hanya melindungi Ara, Val."
"Bull! Belum sadar ajah!"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️