
JAXA Laboratory Tokyo Jepang
Kedasih menatap pria imut yang dengan cueknya berjalan dengan melenggang kangkung masuk ke dalam laboratorium tempat mereka bekerja setelah membuat dirinya gemas.
Beneran deh mas Shin tuh! Menggemaskan!
"Dash..." Shinichi berbalik.
"Ya mas Shin?"
"Usai penelitian, kita menikah yuk?"
Kedasih melongo. "Mas Shin... serius?"
"Serius!"
"Alasannya?" tanya Kedasih bingung. Aku curiga pasti ada alasannya yang sudah pasti Membagongkan!
"Aku kok semalam bermimpi memiliki seorang anak perempuan bersama kamu. Anak itu cantik banget perpaduan antara kita berdua. Dan namanya adalah Raihanun Sky Park. Panggilannya Nynunyun..."
Kedasih melongo lalu memegang dahi Shinichi. "Mas Shin, sehat?"
"Sehat banget malah!"
"Jadi alasan mas Shin ingin menikah itu karena...?"
"Ya karena ingin punya anak bernama Nyunyun" jawab Shinichi santai.
Kedasih hanya berjalan meninggalkan Shinichi dengan perasaan geram. Beneran deh mas Shin!!
"Tahun depan ya Dash! Kita menikah!" teriak Shinichi membuat Kedasih melirik judes.
Kagak romantis banget sih nih mas Kungkang!
***
Jakarta Indonesia Dua Hari Kemudian
Arkananta harus menunda acara bertemu dengan klien karena Arabella mengalami muntah-muntah membuat dirinya membawa istrinya ke rumah sakit PRC. Oma Arum sih bilang kalau Ara pasti hamil apalagi mereka sudah lima bulan menikah jadi kalau Arabella hamil, itu hal yang wajar.
Dan kini mereka berdua berada di ruang praktek dokter Kartika untuk mengetahui kondisi sebenarnya Arabella. Istri Arkananta sudah tiduran di atas tempat tidur periksa dan dokter manis yang juga rekan kerja Anandhita, ibu Arabella, sudah siap dengan gel dan transducer.
__ADS_1
"Dhita nggak kemari Ka?" tanya dokter Kartika.
"Nggak Tante. Mama ada operasi jadi sama aku sajalah" senyum Arkananta.
"Iya sih. Secara kalau memang Ara hamil, kan kamu yang bikin tekdung..." gelak Kartika membuat Arkananta cemberut sedangkan Arabella cekikikan.
"Tante, kalau benar Ara hamil, apakah aman kalau kita pergi ke Dubai?" tanya Arkananta.
"Oh saudara kalian yang putri Emir ya?" tanya dokter Kartika.
"Iya Tante."
"Kita lihat kondisinya Ara dulu ya. Kalau kuat, Tante ijinkan untuk pergi atau kalau tidak ya kamu di Jakarta saja." dokter Kartika mengoleskan gel diatas perut rata Arabella. "Kita lihat ya Anak-anak."
Dokter Kartika menjalankan transducer diatas perut Arabella dan tersenyum. "Selamat anak-anak, kalian hendak menjadi ayah dan ibu."
Arkananta menatap Arabella bingung. "Hamil? Hamil beneran?"
"Mana ada hamil bohongan, Arka! Terkadang kamu sama lemotnya dan tukang ngebug macam papamu!" hardik dokter Kartika gemas. "Ara sedang hamil enam Minggu. Dan kalau kalian mau ke Dubai, it's okay. Nanti Tante berikan obat penguat kandungan..."
"Mana anaknya Arka?" potong Arkananta sambil memelototi layar monitor.
"Kecil amat! Amat ajah nggak kecil... Aduuuh!" Arkananta memegang kepalanya yang dikeplak oleh Arabella yang gemas dengan komentar suaminya.
"Nggak boleh bilang gitu! Mas Arka tuh memang deh!" omel Arabella. "Es Dino Milo dua pokoknya!"
"Kamu tuh ngidam apa maruk Ra?" pendelik Arkananta.
"Dua-duanya! Sudah! Jangan ngomong aneh-aneh! Pamali!" hardik bumil itu. "Jadi aku ke Dubai aman-aman saja ya Tante?"
"Insyaallah aman Ra. Kan tante nanti kasih vitamin dan obat buat kandungan kamu. Kalian nggak pakai pesawat komersial kan?"
"Nggak Tante, pakai pesawat Giandra" jawab Arkananta.
"Kalau pakai pesawat pribadi lebih nyaman kan plus tidak harus berhenti dan connect flight ke penerbangan lainnya." Kartika membersihkan perut Arabella dari gel. "Dhita dan David senang ini bakalan jadi opa dan Oma. Belum Tante Gendhis, Oom Bara, Oom Arya dan Tante Amberley."
"Alhamdulillah... ini kabar bagus biar para keluarga nggak pusing mikirin Hongkong" senyum Arkananta.
"Apa keluarga kalian sudah bisa keluar dari Hongkong?" tanya Kartika yang tahu dari berita yang beredar di media massa, media online dan media sosial bahwa keluarga besar klan Pratomo ditangkap kepolisian Hongkong karena menyerang Triad Wong.
"Sedang diusahakan oleh Oom Travis dan Nelson supaya bisa dideportasi dari Hongkong" jawab Arkananta sambil membenarkan baju Arabella.
__ADS_1
"Padahal yang kalian serang kan sarang penjahat. Katanya kepolisian Hongkong terlibat dengan kasus ini ya?" tanya dokter Kartika.
"Itulah Tante. Karena Jayde dan Wira, dua sepupu kami menjadi pion plus korban dan tidak menutup kemungkinan menjadi kambing hitam nantinya, jadi kami bertindak lah."
"Tapi mereka itu bagaimana sih? Malah belain yang haram."
"Demi fulus dan keserakahan, Tante" sahut Arabella.
"Iya, itu memang akar dari semuanya!" ucap Dokter Kartika.
***
Bima dan David tampak terharu mendengar bahwa Arabella sedang mengandung enam Minggu. Bahkan Bima menangis lebay di pelukan Arimbi.
"Semoga cucu aku tidak seperti bapaknya... Yang durjana, durhakim, durpengacara, durjaksa..." ucap Bima mendrama.
"Mas Bima, nggak boleh gitu lah! Doain itu yang baik-baik" tegur Arimbi gemas.
"Lho itu doa baik jeng Rimbi" bela Bima.
"Tadi kata Kartika, kamu aman kan terbang ke Dubai besok?" tanya Anandhita.
"Insyaallah aman mama... Kata Tante Kartika, kandungan aku termasuk kuat dan tadi sudah diberikan obat penguat kandungan dan banyak vitamin..." senyum Arabella.
"Alhamdulillah kalau aman. Dan semoga juga semua yang di Hongkong bisa segera keluar dari sana dan bisa berkumpul dengan kita semua di sini, Tokyo, Dubai, Manchester dan New York" ucap Bara. "David, ada kabar dari Hoshi tidak?"
"Kabarnya Travis dan semua pengacara sudah memberikan ancaman dibalik negoisasi sih" jawab David. "Kami tidak akan mengurus internal Hongkong tapi jika masih menyenggol kami, lebih habis mereka !"
"Bagus lah! Jangan dikira kita akan diam saja!" timpal Arya. "Enak saja mereka membuat Jayde dan Wira harus menerjang bahaya buat mereka yang intinya hanya dimanfaatkan padahal bang*satnya ya di mereka - mereka juga!"
"Exactly."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1