
Libur Natal Acara Pernikahan Arkananta dan Arabella di Jakarta...
Pagi ini akan diadakan ijab qobul antara Arkananta dan Arabella. Dikarenakan Arka tidak mau ramai-ramai, jadi cukup keluarga dan kerabat dekat saja yang datang.
Tampak pria yang sering tidak akur dengan ayahnya, Bima Baskara, sudah siap dengan balutan beskap hitam tanpa blangkon. Arimbi sampai gemas saat mendengarkan alasan putranya tidak mau pakai blankon.
"Arka lebih keren tanpa blangkon, mamaku yang cantik. Kepala Arka jadi kelihatan bundar kalau semakin pakai blangkon."
"Kepala kamu kan memang bundar! Alasan aneh-aneh saja kamu!" omel Arimbi.
"Nanti rambut Arka lepek kena keringat!"
"Masih masuk akal kalau itu Ka!"
Arkananta hanya nyengir.
Tampak halaman mansion Giandra sudah disulap menjadi tempat ijab qobul Arka dan Arabella. Hampir semua sepupu Arka dan Ara datang kecuali Apsarini yang memilih melihat dari layar MacBook nya seperti banyak Opa dan Oma yang memilih tinggal di negara masing-masing.
"Sudah siap?" tanya Bima yang menuju kamar ganti Arka dan terkejut melihat dandanan anaknya. "Mana blangkon kamu?"
"Kagak usah pakai blangkon lah pak Bima. Tetap ganteng kan?" cengir Arkananta.
"Karepmu cah, pusing bapakmu satu ini..." sungut Bima sebal.
"Lha bapakku cuma satu. Memangnya ada bapak lain?" jawab Arkananta cuek yang sukses membuat Bima mendelik.
"ARKAAAA!" rengek Bima sebal. "Mana ada bapak lain! Bibitmu itu dari papamu yang sakti mandraguna ini!"
"Tapi jirihan..." ejek Arkananta sambil ngeloyor keluar kamar.
"Anak durhakim!" Bima lalu mengacak-acak rambut Arkananta.
"Aaaaaahhhh rambut Arka berantakan!" teriak Arkananta heboh.
"Makanya jangan durhakim!" balas Bima.
"Astaghfirullah... kalian itu umur berapa sih?!" omel Arimbi yang pagi ini mengenakan kebaya bewarna hijau Jamrud.
"Kagak ingat umur Jeng Rimbi... Ben awet enom terus ( Biar awet muda terus )" jawab Bima.
***
Akhirnya setelah drama keluarga Bimasena dan Arkananta, mereka tiba di area meja ijab. Semua sepupu Arkananta melongo melihat Arka hanya memakai beskap tanpa blangkon.
"Apa hal kamu nggak pakai blangkon?" protes Valentino.
"Blangkon bikin sumuk, bisa lepek rambut aku" cengir Arkananta.
__ADS_1
Iyain aja deh...
David dan pak penghulu yang sudah siap hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dari pihak Arkananta saksinya adalah Bima dan Hoshi. Meskipun keduanya jarang akur tapi Bima, respectively meminta Hoshi menjadi saksi bersamanya dan dipenuhi oleh Bon Cabe.
Dari pihak Arabella, David meminta Randy dan Adrian Ramadhan, saudara kembar Anandhita yang tinggal di Swedia sebagai director Manager Koenigsegg, sebuah perusahaan mobil Supercar terkenal. Adrian sudah menikah dengan wanita asal Swedia, tiga tahun usai Anandhita menikah. Istri Adrian bernama Lovisa Wallin. Keduanya dikaruniai anak kembar Stefan dan Thea yang sekarang berusia 18 tahun dan berkuliah di Stockholm Swedia.
Selain Randy mantan rekan David, Jimbong datang bersama istrinya Anita dan kedua anak mereka plus Toro yang tetap menatap kagum ke Anandhita yang mengenakan kebaya hingga membuat Adrian dan sepupu pria Anandhita ingin menendang pria bertubuh tambun itu.
"Jim, neng Dhita kok makin cantik ya. Apalagi pakai kebaya begitu..." gumam Toro sambil terus menatap Anandhita yang duduk bersama Arimbi.
"Teng, udah dong. Apa kamu tidak lihat Adrian sudah pengen ngehajar kamu!" desis Jimmy yang duduk di kursi para tamu undangan.
"Kenapa sih Adrian harus pulang? Bikin merinding saja..." gerutu Toro.
"Elu yang bikin kamu merinding sendiri Ateng!"
Tak lama Arabella berjalan menuju tempat ijab dengan didampingi oleh Opanya Arya Ramadhan dan Bara Giandra. Arabella ingin kedua opanya yang mendampingi dan akhirnya terkabul.
Arkananta melongo melihat dandanan Arabella yang sederhana tapi tetap bersahaja.
"Mulut Ka, mulut!" bisik Bima ke putranya yang auto melongo.
"Macam kamu tidak seperti itu waktu nikah sama Rimbi!" cebik Hoshi.
"Shut up muka cewek!"
"Apaan sih Werkudara? Aku kan mengingatkan!"
Arabella pun duduk di sebelah Arkananta setelah mencium pipi kedua opanya.
Si neng Anabelle... eh Arabella
"Ya ampun cantiknya calon bini Arka..." gumam Arkananta membuat David mendelik.
"Kita bisa mulai ya pak David?" tanya pak penghulu.
"Monggo pak."
***
Nadya Blair duduk bersama dengan Omar Zidane yang rela mengambil cuti demi bisa datang ke acara pernikahan Arkananta dan Arabella. Gadis itu tampak menghayati saat pak penghulu memberikan wejangan.
"Nad, penghulunya bilang apa?" bisik Omar yang tidak paham bahasa Indonesia.
"Nanti aku kasih tahu" jawab Nadya dengan berbisik juga. Omar Zidane, Billy Boyd, Maggie dan Tiffany datang atas undangan Bima dan David yang berterima kasih atas kerjasamanya selama ini.
"Hai Nadya..." panggil seseorang membuat gadis itu menoleh.
__ADS_1
"Shane? Baru datang?" bisik Nadya sambil tersenyum.
"Pesawat aku sempat delay." Shane melihat pria berdarah Mesir yang tampak tidak suka melihat Nadya menyapa dirinya.
"Nanti aku kenalkan kalian" bisik Nadya.
Omar Zidane menatap pria yang diyakininya berdarah Irlandia dengan perasaan tidak nyaman. Kenapa melihat Nadya seperti itu?
***
"SAH!"
"Alhamdulillah..." ucap semua orang yang hadir. Dan sekarang tiba acara pemasangan cincin kawin.
"Jangan sampai gelinding lho ya! Nyarinya repot di rumput!" celetuk Hoshi membuat Abiyasa menatap judes ke adiknya yang hanya nyengir.
"Brengseeekkk lu Hosh!" umpat Abi yang langsung tangannya ditepuk - tepuk Gandari pelan. Para generasi keempat dan kelima tertawa soal aib seumur hidup Abiyasa.
Arkananta pun memasangkan cincin kawin ke jari manis Arabella, begitu juga dengan Arabella ke Arkananta.
"Alhamdulillah kagak gelinding dan salah jari, saudara-saudaraku" kekeh Arkananta yang disambut tawa para keluarganya dan hanya Abiyasa yang cemberut.
"Dasar keponakan durjana!" umpat Abi kesal.
***
Acara pun dilanjutkan dengan resepsi dengan kehadiran para rekan bisnis Bima, David, Arimbi dan juga rekan kerja Anandhita. Luke Bianchi dan Radeva Dewanata tampak berjaga - jaga di sekitar mansion Giandra.
Para pengawalnya dari klan Yakuza pun ikut serta dalam penjagaan ketat selain dari Ramadhan Securitas dan Al Jordan Guard serta pengawal kerajaan Belgia karena Sean dan Zinnia pun hadir.
"Tampaknya tidak berani datang ke Jakarta bang" ucap Radeva.
"Cari mati kalau berani datang kemari. Dan aku setuju Arka hanya mau di rumah Opa Bara karena disini ada senjata yang tersimpan di ruang gym." Luke menatap sekelilingnya yang terdapat CCTV setiap sudut.
"Bang Lukie, memang aku tidak tahu kamu membawa Glock kamu?" kekeh Radeva.
"Sama kan dengan SIG kamu di belakangmu" balas Luke.
Mereka lalu melihat sebuah mobil berjalan melambat melewati gerbang mansion dan keduanya melihat dua orang China berjalan perlahan sambil melihat ke arah mereka.
"Benar-benar tidak mau melepaskan Jayde dan Wira !" umpat Luke kesal.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️