The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Gangguan Pedro


__ADS_3

Kediaman Abiyasa dan Gandari O'Grady New York


"Yang benar saja, Dave! Kamu mau menyamar lagi jadi waria? Gue kagak tanggung jawab kalau malam-malam pas elu tidur, Ogan Abi datang terus keplak kepala lu lagi!" sarkasme Abiyasa. ( Baca My Boyfriend is Not A Trans gender ).


"Setidaknya aku juga harus tahu siapa yang punya otak kuwalik begitu. Aaahh, aku jadi ingat masa lalu..." gumam David.



Siapa kangen babang Dapid?


"Kita tunggu hasil pertemuan Arka dan Pedro bersama tim FBI dan NYPD. Jangan langsung menyamar, Dave. Bisa jantungan nanti Pedro" gelak Bima.


"Mbak Gandari, punya make up lengkap kan?" cengir David.


"Seriously? Memang kamu masih ingat cara dandan?" pendelik Abi.


"Lho kan ada Ara. Kalau aku ada yang lupa, apa gunanya Ara dan mbak Gandari?" jawab David polos.


Arabella hanya menutup wajahnya. "Ya Tuhan, papaku belok..."


***


FBI Building Plaza Manhattan New York


Omar Zidane dan Nadya Blair berada di dalam lift tanpa ada pembicaraan diantara keduanya karena Nadya terlalu kesal dengan pria jangkung itu.


"Nad..." panggil Omar pelan.


"Aku marah padamu! Kamu kira aku tidak banyak pekerjaan?! Seriously Omar!" bentak Nadya sambil menghentakkan kakinya pertanda dia jengkel tingkat dewa.


"Lho bukan kah ini bagian dari pekerjaan?" sahut Omar santai.


Nadya hanya bisa mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak meninju pria yang jauh lebih tinggi darinya meskipun dirinya sudah mengenakan Stiletto tujuh senti.


TING!


Pintu lift terbuka dan Nadya melangkah lebar-lebar menuju resepsionis untuk mengembalikan tag guestnya dan mengambil id card nya.


"Nadya!" panggil Omar.


"Apa?" balasnya galak namun Omar hanya tersenyum tipis.


"Thanks. Terimakasih sudah mau datang kemari berbagi data."

__ADS_1


"Kamu beruntung Zidane, kantorku hanya tiga blok dari sini ! Jika kantorku di Queens, dan hanya seperti ini saja, kamu hutang banyak padaku!" Mata biru Nadya menatap tajam.


"Dinner. Nanti malam? Aku traktir?" tawar Omar.


"Akan aku pertimbangkan" jawab Nadya melunak. "Aku pulang dulu."


"Hati-hati Nadya."


Nadya hanya melambaikan tangannya lalu keluar dari gedung FBI tanpa menoleh ke Omar Zidane. Sementara pria itu hanya tertawa kecil mengingat di dalam lift, gadis bar-bar itu hampir meninjunya.


***


Ruang Omar Zidane.


"Apa yang terjadi?" tanya Arka ke Pedro dan Billy, dua pria yang lebih tua darinya.


"Dia ngerjain Nadya" kekeh Billy.


"Apa dia sudah move-on dari iparku?" balas Pedro.


"Hah? Apa maksudnya?" Wajah Arka semakin bingung.


"Omar Zidane dulu naksir Leia Bianchi" jawab Billy. "Tapi Leia lebih memilih Dante Mancini dan yah, partner aku patah hati."


"Aku tidak tahu jelas nya Ka, kan aku tidak ikut ke Turin" jawab Pedro.


"Sebab kamu sibuk dengan Nadira" gelak Billy. "Beneran, Ka, Omar dulu naksir berat ke Leia tapi tidak berani mengungkapkan."


Suara lift terbuka membuat ketiganya terdiam agar Omar tidak tahu kalau sedang dighibah.


"Aku berpikir" ucap Omar tiba-tiba. "Bagaimana kalau besok kita temui asisten jaksa itu ke kantornya?"


"Apa yang akan kamu lakukan OZ?" tanya Billy.


"Bertanya lah!" jawab Omar santai. "Aku ingin tahu reaksinya setelah aku tahu dia kehilangan sekian juta dollar dari istrinya. Besok biar aku dan Pedro yang berangkat biar bisa menilai bahasa tubuhnya."


***


Penthouse Abiyasa dan Gandari O'Grady


Malam ini Pedro dan Arka memutuskan untuk bercerita perkembangan kasus pembunuhan berantai itu.


"Jadi web itu berisikan kebencian terhadap wanita Asia? Karena mereka mendapatkan pengalaman tidak mengenakan?" ucap Gandari.

__ADS_1


"Iya Tante. Besok kami akan mendatangi keempat orang yang diperkirakan menjadi unsub dan aku akan pergi bersama Omar Zidane ke asisten jaksa itu" jawab Pedro.


"Lalu siapa pemimpinnya?" tanya David. "Aku rasa pembunuhan ini pasti ada yang mendukung dan si alpha memberikan tata cara membunuh. Dan para pengikutnya mengikuti jejaknya."


"Itu yang kami masih mencari karena empat orang yang diperkirakan unsub, semuanya orang-orang yang tidak pernah berhubungan dengan hukum, termasuk surat tilang" jawab Pedro.


"Itu yang bahaya, Pedro. Karena mereka adalah sosiopat yang bisa hidup di masyarakat. Mereka sudah membunuh sekali, bukan tidak mungkin akan membunuh lagi" celetuk David. "Aku curiga ini akan mirip dengan kasusku dulu."


"Beda kisanak. Kasus mu mirip ABC Murders Agatha Christie, ini tidak. Ada yang menggerakkan orang lain ikutan membalas dendam seperti dia..." jawab Bima yang membuat Pedro dan David melongo.


"Dia meminta orang lain melakukan hal yang sama dengannya?!" gumam Pedro dan David bersamaan.


Pedro bergegas menelpon Omar Zidane. "OZ? Kamu dimana?!"


***


Apartemen Omar Zidane


"Brengsek kau Pascal! Tidak bisakah kamu..." suara Omar terhenti ketika melihat Pedro tidak sendirian.


"Sorry OZ, kita harus ke Plaza sekarang!" ucap Pedro. "Oh ini Oom David Hakim Satrio, ayah Arabella, mantan Letnan Polri."


Omar Zidane dan David saling bersalaman. "Apa maksudmu kita harus ke Plaza sekarang?"


"Akan aku jelaskan di jalan!" Pedro menarik Omar yang bergegas menutup pintu apartemennya.


***


Di dalam mobil pinjaman Abiyasa, Omar Zidane menelpon Nadya Blair.


"Sorry Nadya, aku urus pekerjaan... Ini aku bersama dengan Pedro dan Oom kamu, David Satrio" ucap Omar meminta maaf karena harus membatalkan acara makan malam bersama dengan putri Travis Blair itu.


"Santai saja. Aku tahu kamu pasti sibuk dengan kasusmu" jawab Nadya di seberang yang terdengar oleh Pedro dan David membuat Keduanya saling berpandangan.


What? Nadya akan makan malam dengan Omar?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2