The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Seperti perjanjian, trio kampret dan Arabella meninggalkan chef Alan di Indramayu untuk memasak masakan western yang dingidamkan oleh Zinnia. Hari Senin ini mereka berempat pun pulang ke Jakarta karena malam ini Shinichi harus pulang ke Tokyo.


"Kalau yang nyetir mas V aku bisa tenang tapi kalau yang nyetir mas Arka, aku yang jantungan" celetuk Arabella.


"Lho memang kenapa?" tanya Shinichi yang duduk bersebelahan dengan gadis itu.


"Melihat bagaimana imutnya calon imam Ara..."


Arkananta yang sedang makan camilannya langsung tersedak hingga batuk-batuk. Arabella langsung memberikan botol air mineral yang sudah dibukanya.


"Mbok jangan terkenyut gitu tho mas. Mbok biasa wae, kan memang kita udah dijodohkan dari lahir" jawab Arabella kalem.


"Terkejut, Kunti!" omel Arka dengan suara tercekik usai minum. "Nggak ada kata terkenyut! Memang senyut-senyut?"


"Senut-senut mas Arka sayang. Kok ya melu-melu ( ikut - ikut ) salah huruf" balas Arabella sambil tersenyum manis.


"Apanya yang senut-senut?" tanya Shinichi.


"Kepala gue!" balas Arka.


"Kenapa kepalamu Ka? Minum obat dong! Kayaknya mommy bawain obat buat aku deh!" Shinichi mengubek-ubek isi tasnya mencari tas obat yang selalu dibawanya kemana pergi.


"Bukan masalah gue minum obat atau kagak, Shinchan. Masalah nya, sumber sakit kepala gue itu yang duduk di sebelah elu!"


"Arabella?! Jadi sumber elu sakit kepala itu dia?" tuding Shinichi ke Arabella yang sudah manyun.


"Iya."


"Berarti kalau sumber pusingnya dia... Elu yang harusnya keluar dari mobil, Ka. Dijamin kagak pusing lu" jawab Shinichi lugas.


Arka menoleh ke belakang dan menatap judes ke Shinichi sedangkan Arabella sudah tertawa geli melihat mas Arkanya mode ngamuk.


"Ini di tol, Shinchaaannn! Gila lu!"


"Lha kan nanti di rest area bisa turun lu" jawab Shinichi kalem.


"Gue kira elu bakalan bilang yang diturunkan si Arabella" kekeh Valentino ke Shinichi melalui kaca spion.


"Maunya sih begitu V cuma mengingat nanti aku bakalan dihajar Oom David, kenapa tidak Arka saja yang turun. Toh dia laki jadinya lebih aman daripada Arabella yang cewek. Gimana? Argumen aku logis nggak?" cengir Shinichi.

__ADS_1


Arka hanya mendengus kasar sedangkan Valentino menggelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Kan setidaknya Arka kalau ditinggal di rest area, bisa cari bus ke arah Jakarta atau nebeng mobil pegawai tol" sambung Shinichi dengan wajah polos.


"Oh shut up Shinchaaannn!" bentak Arkananta.


"Minum obat ini." Shinichi menyerahkan obat ke Arka.


"Obat apa itu mas Shin?" tanya Arabella.


"Obat pusing. Tenang, bukan obat maag ataupun obat aneh-aneh. Aku biasa minum obat itu kalau agak pusing dan jetlag."


Arka pun menerima obat itu dari Shinichi dan meminumnya. Tidak sampai sepuluh menit, Arkananta pun sudah terlelap membuat Valentino menoleh ke sampingnya karena putra Bima itu duduk di kursi penumpang depan.


"Beneran elu kasih obat pusing, kungkang? Kok dia langsung geblak?" tanya Valentino ke Shinichi tapi yang ditanya hanya tersenyum lebar.


"Mas Shin!" bentak Arabella ikutan panik.


"Tenang. Itu obat tidur kok biar Arka nggak senewen. Aku dapat dari Tante Emi. Katanya kalau ada teman sekolah ku yang reseh, dibikin tidur saja. Ternyata manjur."


"Oh astagaaa! Berapa lama itu efeknya?" Valentino merasa cemas melihat bagaimana Arka tidur sangat lelap.


"Well, sekitar empat jam. Itu aku kasih cuma seperempat soalnya kata Tante Emi kalau satu bisa 24 jam kamu tidur."


"Ih serem ah dikasih tetrodotoxin, mas Shin" ucap Arabella sambil bergidik.


"Dari pada succinylcholine?" balas Shinichi.


"Apalagi itu?" tanya Valentino.


"Cari saja di google. Kata Appa, itu jauh lebih menyeramkan."


Arabella lalu segera membrowsing nama obat itu.


Suksinilkolin adalah obat pelumpuh otot golongan depolarisasi yang saat ini masih sering digunakan untuk fasilitas intubasi pasien dengan resiko aspirasi pada lambung penuh, terutama pada anestesi emergensi dan anestesi rawat jalan.


"Mas Shin tapi ini obat resmi yang biasa dipakai di rumah sakit" ucap Arabella.


"Iya benar tapi kalau dipakai nya terlalu berlebihan maka Mengi yang tiba-tiba, dada terasa sakit, dada terasa sesak. Pembengkakan pada kelopak mata, wajah, bibir, mulut atau lidah. Ruam kulit menebal atau 'gatal-gatal' di mana saja pada tubuh kamu. Dan itu tidak terdeteksi kalau hanya diperiksa pakai test racun biasa karena begitu cairan succinylcholine masuk ke dalam aliran darah, hilang tak berbekas. Untuk mencarinya harus dengan test layer per layer."

__ADS_1


"Kok kamu tahu Shin?" tanya Valentino yang bingung melihat sepupunya bisa tahu hal-hal semacam itu.


"Aku membuka jurnal milik Opa buyut yang masih tersusun rapi di ruangannya dan disana ada cerita waktu mereka berada di New York saat Opa buyut Ghani tertembak, oma buyut Alexandra membantu Oma Nabila memecahkan kasus kematian tidak wajar."


"Opa Joshua masih menyimpan jurnal itu?!" Valentino menatap tidak percaya.


"Masih V. Bahkan itu dimulai dari Opa jadi anak angkatnya Opa Rudy. Beliau sudah mulai mencatat jurnal semua anggota keluarga klan Pratomo dari generasi kedua hingga generasi keempat dan rupanya dilanjutkan oleh Oma Josephine dan sekarang bang Lukie yang meneruskan."


"Aku ingin baca mas Shin. Kayaknya seru ya mengetahui bagaimana generasi kita sebelumnya" timpal Arabella.


"Duh, Ara, kamu tahu nggak kalau papamu dulu jadi waria?" kekeh Shinichi yang sukses membuat Arabella melongo.


"Apa? Papa jadi banci?" pekik Arabella tidak percaya. Yang benar saja! Iya benar papa sering absurd tapi kalau soal jadi banci... Masa sih? Kayak apa bentuknya? Mana body papa kan berotot gitu! Arabella bergidik membayangkan papanya jadi perempuan.


"Beneran Shin?" tanya Valentino sambil terbahak membayangkan David Hakim Satrio menjadi waria.


"Beneran! Oma Josephine yang nulis. Jadi papamu itu urus kasus pembunuhan waria dan trans*gender. Nah buat masuk ke komunitas itu, papamu menyamar lah. Ironisnya pas papamu kena tembak dan nyaris mokat, yang nolong opamu, Arya Ramadhan. Auto shock dong lihat calon mantunya belok!" gelak Shinichi.


"Oh my God!" Arabella menatap Shinichi kepo. "Terus gimana mas Shin?"


"Iya Shin, cerita dong!" pinta Valentino. Mendengarkan cerita para opa, Oma, oom dan tantenya selalu penuh warna.


Shinichi pun bercerita tentang David dan Anandhita yang akhirnya menembak orang yang hendak membunuh David di rumah sakit. ( Baca My Boyfriend is not a transgender )


"Meninggal?" tanya Valentino.


"Iya! Oom Arga, bokapnya Rem blong, sudah berusaha menyelamatkan nyawanya tapi selamat tinggal dunia. Adios!"


Arabella termangu. Ya Allah, ternyata dibalik keabsurdan papa dan mama, mereka menyimpan cerita yang heboh!


"Ohya V, apa kamu tahu bokap lu dulu main tikung nyokap lu?"


Valentino melongo. "Papa macan nikung siapa?"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2