
Kediaman Keluarga David Satrio dan Anandhita Ramadhan
Arkananta menatap Arabella yang tampak malu-malu melirik ke arahnya. Sontak gaya Arabella yang sok imut itu membuat Valentino sebal.
"Dih gayanya sok malu-malu main lirak lirik, aslinya malu - maluin! Main peluk cium tanpa lihat kiri kanan! Cewek kok nyosoran macam soang!" ejek Valentino yang membuat Arabella mendelik judes.
"Vale..." tegur Hoshi.
"Yes Dad..."
"Lanjutan buat ledekin Ara..." seringai Hoshi membuat semua orang disana terbahak.
"Oom Hoshiiiii..." rengek Arabella sebal dengan Oom resehnya.
"Muka cewek! Jangan bikin calon mantuku mewek!" hardik Bima.
"Kenapa emang?" balas Hoshi cuek.
"Nanti make-upnya luntur! Kamu tahu kan jasa MUA yang bagus itu mehong? Harus tambah dempul sana sini yang aku hanya tahu bedak dan lipstik saja!" jawab Bima santuy.
"Ya Allah Bim! Aku kira bakalan bilang takut nanti Ara ngambek, kenapa jadi MUA sih?" kekeh Haris geli mendengar alasan absurd iparnya.
"Eh udah! Ini mau lamaran atau mau bahas tarif MUA?" kekeh Arya Ramadhan, ayah Adrian dan Anandhita.
"Kembali ke laptop. Monggo mas Bima menyampaikan bunga deposito... eh bunga rampainya" senyum David.
"Kamu mau tanya bunga deposito berapa hari sekarang Pid? Belum cek ponsel" balas Bima sambil tertawa.
"Boys, seriously!" kekeh Bara Giandra yang hanya bisa tertawa melihat lamaran kacau hari ini.
"Oke sebelum kita semua menjadi bengek karena makin ndodro kemana-mana, aku mulai ya. Jadi begini, pada jaman dahulu..."
"BIMA!" seru generasi keempat dan kelima gemas.
"Ish apaan sih! Belum mulai sudah dipotong! Ya udah versi ekspres. Arka, kamu serius sama Anabelle eh... Arabella?"
"Serius pak Bima..." jawab Arka malas karena ayahnya malah tidak serius.
"Arabella, kamu serius sama Arkananta? Please jawab serius, soalnya nanti rugi bandar Arkananta sudah beli cincin mahal-mahal..."
__ADS_1
"BIMA!"
"Ya Allah, Oom Bima calon papa mertua yang tetap Ara panggil Oom karena enak begitu... Ya jelas Ara serius lah! Masa nggak serius sih Oom? Dua rius malah!" balas Arabella judes.
Arimbi hanya bisa menatap Anandhita dengan tatapan minta maaf atas semua kebagongan acara lamaran anti mainstream yang selalu terjadi di keluarga mereka.
"Ya udah dong, kalian tukar cincin. Kagak usah formal - formal, wong sama saudara sendiri. Lagian sudah pada tahu bobrok masing-masing jadi tidak perlu disebutkan tho?" kekeh Bima durjana.
Arkananta melirik judes ke arah ayahnya yang semakin tua semakin ngelunjak rusuhnya.
"Seriously pak Bima. Tolong agak serius dengan acara sakral ini kalau tidak..." Arkananta menyeringai licik.
"Kalau tidak... Apa Ka?" Bima langsung memucat. "Nooooo, don't you dare ( Jangan coba-coba )!"
"Oom David, Tante Anandhita..." Arkananta mengacuhkan wajah pucat Bima yang membuat semua orang disana bingung kenapa suami Arimbi itu langsung terdiam.
Pasti Arkananta memegang kartu As Bima.
"Saya Arkananta Giandra Baskara, serius dengan Arabella dan ingin menyunting putri Oom dan Tante sebagai pasangan hidup saya. Dan saya akan selalu membuat suasana kondusif dan Membagongkan agar kehidupan rumah tangga kami nanti akan selalu ramai dan rusuh..."
"Arka, biasanya akan bilang selalu menyayangi, mencintai dan menghormati calon istri" protes David.
"Piranha gue kagak doyan daging lu!" celetuk Luke dari layar monitor.
Sontak keluarga besar itu tertawa karena tahu hanya keluarga Bianchi Tokyo yang memiliki Empang piranha hitam yang terkenal bergigi tajam.
"Malah bawa piranha" gumam Levi yang merasa rusuhnya sang ayah Eiji, hadir disini.
"Oke. Kita serius lagi." David tersenyum ke arah sepupu iparnya yang bakalan jadi besan. "Jujur ini kekacauan kedua setelah almarhum Oom Takeshi menikah dengan Tante Fumiko dimana Oom Takeshi mertua bang Luca dan Tante Fumiko mertua Fayza. Hingga detik ini aku tidak bisa mengurainya."
"Kami juga!" balas Hideo dan Fayza bersamaan yang diiringi tawa keluarga.
"Arkananta, Oom dan Tante tahu kamu dengan Ara hubungannya naik turun macam Jules dan Rombeng dulu tapi kami senang karena kamu yang akan menjadi pendamping Arabella karena sejujurnya ketakutan seorang ayah yang memiliki anak perempuan, apakah pasangan putriku adalah pria yang baik atau tidak. Apakah akan mencintai dan menyayangi putriku seperti aku? Apakah akan melindungi putriku seperti aku? Apakah akan selalu ada jika putriku membutuhkan seperti aku? Banyak pertanyaan yang membuat aku dan mungkin para ipar semua yang punya anak perempuan merasakan hal yang sama seperti aku..."
Para pria generasi kelima yang memiliki anak perempuan mengangguk seperti Alaric, Enzo, Patrick dan Tristan. Generasi keenam yang sudah menikah dan memiliki anak perempuan pun merasakan hal yang sama.
"Jadi saat Arabella dan Arkananta memutuskan berpacaran dan dilihat dari sisi manapun termasuk agama, masih bisa dilakukan, aku dan Didit merasa ayem karena pasangan Ara adalah pria yang kami kenal baik. Bahkan sepak terjangnya kami juga tahu... Jadi, sekarang Ara, kamu serius dengan Arka untuk menjadi pasangan hidupnya?" David menatap putri tunggalnya dengan serius.
"Insyaallah Ara serius pak David..."
__ADS_1
"Pantas Ara dan Arka cocok! Wong manggil bapaknya ngaco begitu" kekeh Gendhis.
"Kalau begitu, sekarang kita mulai acara pemasangan cincinnya..."
Arkananta tidak maju memasangkan cincin di jari manis melainkan Arimbi yang memasangkan cincin itu ke Arabella. Arka memang sudah meminta seperti itu karena dia akan memasangkan cincin kalau sudah resmi ijab qobul.
Setelahnya acara pun dilanjutkan dengan foto bersama bersama keluarga besar di Jakarta.
***
"Emang elu dapat kartu As apa Ka bisa bikin Oom Werkudara kicep?" tanya Valentino penasaran.
"Nanti ada wayahe ... Sabar. Sudah lama aku ingin ngerjain pak Bima." Arkananta tertawa licik lalu menuju ke MacBook nya yang menjadi main frame untuk acara live streaming. Pria berwajah usil itu pun mulai menyetelkan sesuatu di tv layar lebar milik David.
Tak lama muncul rekaman satelit lengkap dengan audionya.
"Oom, di belakang Oom ada siapa?" goda Nadya.
"Nad! Kamu jangan macam-macam deh!" desis Bima yang merasa sejak masuk hutan ini sudah merindang merinding.
"Serius Oom..."
"Nadya...." rengek Bima ogah menengok ke belakang. Semua bayangan hantu di film-film thriller horor terlintas di otaknya.
"Mr. Baskara" panggil Omar sambil menepuk bahu Bima membuat ayah Arkananta itu menjerit kencang.
"AAAAAAHHHH! FREDDY KRUEGER!" jerit Bima sambil berlari dan bersembunyi di belakang Nadya.
Sontak semua orang disana melongo lalu tertawa terbahak-bahak mendengar jeritan Bima. Hoshi dan Freya adalah orang yang paling kencang tertawanya melihat wajah merah Bima menahan amarah dan malu.
"ARKAAAA!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️