The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Bisa Bernafas Lega


__ADS_3

Setiingnya ini setelah gegeran di Brazil ya ( Baca My Bodyguard is My Boyfriend )


Laboratorium Fisika Tokyo University Jepang


"Aaaaaahhhh capeeeekkkk!" ucap Shinichi sambil merenggangkan tubuhnya. Tiga hari terakhir ini dirinya dan dua anggota kampret lainnya boleh dibilang tidak tidur teratur karena harus membantu keempat kakaknya yang mengejar pelaku pembunuhan orang tua Gabriel, pengawal Garvita sepupunya.


Mas Shin, makan dulu. Kedasih yang juga ikutan begadang karena lebih ke penasaran apa yang membuat kakak kelasnya sampai harus meninggalkan penelitiannya.


"Ah makasih burung Betet..." ucap Shinichi sambil menerima bento yang dibawa oleh Kedasih setelah tadi pesanan online mereka datang.


Sama-sama. Kedasih sudah terbiasa dengan panggilan tidak biasa Shinichi hanya mengacuhkan nama burung antik itu.


"Habis ini kita pulang burung Dara. Aku ingin tidur! Seharian! Kamu nggak ada kuliah kan?" tanya Shinichi sambil memakan bentonya.


Kedasih menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada kuliah. Terus kasusnya kak Gabriel gimana?


"Kasusnya? Well, paling diurus sama FBI dan Oom Travis. Kita sudah selesai tugasnya mengawal kakak-kakak aku dan membawa pulang pembunuh kedua orangtuanya Gabriel."


Kakak-kakaknya mas Shin nggak dihukum kan?


"Lha ngapain dihukum? Wong nggak salah! Lagian mereka kan punya kekuatan diplomatik jadi santai saja."


Keluarga Mas Shin serem-serem.


"Ah belum seberapa... Masih seram diancam mau dibuang ke Empang piranha atau dibuang di hutan Amazon..." ucap Shinichi sambil manyun.


Kedasih melongo. Empang piranha? Yang benar?


"Beneran! Bang Lukie punya dua!"


Kedasih hanya menepuk - nepuk dadanya untuk menetralisir keterkejutannya. Dia tahu kalau Luke Bianchi adalah seorang Yakuza tapi tidak menyangka memiliki Empang piranha.


Mas Shin...


"Apa?" Shinichi menatap Kedasih. "Dengar burung kucica... Aku harap suatu saat nanti bisa mendengar suaramu. Jadi tidak perlu memakai bahasa isyarat dan bicara dengan asyik..."


Memangnya selama ini tidak asyik?


"Bukan Kedasih Jayanti. Ada kalanya lebih baik kamu mulai belajar berbicara lagi. Jangan - jangan suaramu cempreng macam Lisa Lamont di film Singing In The Rain."


Hah? Film apa itu mas?


"Film kuno tapi aku suka." Shinichi lalu memutar film jadul yang dibintangi Gene Kelly, Debbie Reynolds dan Jean Hagen."


Kedasih baru mengetahui kalau Shinichi sangat suka film kuno musikal itu.


"Coba dengar suaranya Lisa Lamont yang diperankan sama Jean Hagen. Apa suaramu seperti itu cemprengnya?" tanya Shinichi serius.


Kedasih mendelik ke arah Shinichi lalu memukul bahu pria imut itu. Suaraku nggak sejelek itu!


"Iya ya... Nggak mungkin muka kayak kamu suaranya macam kucing kecekik..."


Kedasih memukul bahu Shinichi lagi karena kesal mendapatkan istilah nggak jelas lagi.



This movie was so Harlequin


***


Harvard University, Fakultas Psikologi

__ADS_1


Katya D'Angelo sedang membuat tugas dengan MacBook nya dengan wajah manyun di sebuah kursi taman. Gara-gara Valentino membantu kakak-kakaknya yang terlibat dengan CIA, Kartel dan ABIN. Katya sendiri baru tahu ABIN itu apa setelah Valentino mengirimkan pesan.


Gara-gara sepupunya Valentino yang di London menjadi target tiga pasukan itu, Katya kena imbasnya. Sampai-sampai opanya Storm, pamannya dan kedua orangtuanya mengirimkan pengawal lebih ketat.


"Haaaaahhh! Dasar Valentino! Kenapa sih keluarganya harus berurusan dengan orang-orang jahat itu!" omel Katya yang tidak konsentrasi membuat tugas karena memikirkan keselamatan putra Hoshi Reeves yang terpaksa harus bersembunyi di Jang Corp.


Katya menoleh ke kiri dan ke kanan melihat dua pengawalnya tampak tetap mengawasi dirinya dengan tidak mencolok.


"Iiissshhh kapan selesainya sih gegerannya?! Heran! Demen banget gegeran!" omel Katya yang sudah mencari tahu tentang keluarga Valentino. Meskipun keluarganya dan keluarga besar Valentino sudah saling mengenal, tapi tetap saja Katya terbengong bengong saat tahu bahwa keluarga kekasihnya itu dengan cueknya membawa kabur Zinnia, yang sekarang menjadi ratu, keluar Belgia.


Belum setelah itu mereka gegeran di Turin dengan produser Harland Rochester dan berhadapan dengan Kartel...


Katya langsung pusing saat tahu sekarang kekasihnya ketemu Kartel lagi!


"Ampun deh!"


"Apanya yang ampun?"


Katya mendongakkan kepalanya dan langsung berdiri untuk memeluk Valentino.


"Alhamdulillah! Sudah selesai gegerannya?" tanya Katya senang karena bisa kembali kuliah seperti biasanya.


"Alhamdulillah sudah." Valentino dan Katya duduk bersama di kursi taman itu.


"Jadi Gabriel?"


"Kemungkinan besar kembali ke London sampai Garvita menyelesaikan kuliahnya dan mungkin berani nembung Oom Ayrton."


"Mereka beneran pacaran?"


"Iyalah! Oom Ayrton juga sudah kasih ijin kok..."


***


PRC Group Building Manhattan New York


"Astaghfirullah! Ju on!" teriak Arkananta saat Arabella menjawab panggilan videonya.


"Mas Arka itu kalau mau telepon bisa lihat jam nggak sih? Jam sebelas siang di New York itu sama dengan jam sebelas malam di Jakarta! Memangnya aku nggak ngantuk apa?" omel Arabella dengan muka masih memakai masker putih.


"Eh Anabelle! Itu kompres muka dilepas dulu kenapa? Horor tahu! Aku kira kamu bercosplay menjadi Ju on!" omel Arkananta.


"Dih Ju on! Bukan mas Arka!"


"Terus apaan?"


"Kaonashi."


Arkananta terbahak. "Cocok!"



Ki - Ka : Kaonashi, Chihiro Ogino, Zeniba


"Kok mas Arka tahu?"


"Tahu lah ! Film Spirited Away kan?"


"Ih mas Arka pintar!"


"Kalau nggak pintar, nggak cumlaude lah!"

__ADS_1


Arabella melepaskan masker wajahnya. "Sudah selesai gegerannya?"


"Alhamdulillah sudah."


"Gabriel?"


"Sudah sama Garvita dan menurut rencana bakalan kembali ke London Minggu depan."


"Pelaku pembunuhan nya?"


"Sedang diusahakan sama Nelson dan Oom Travis buat dideportasi ke Dubai. Tahu sendiri kan Oom Ayrton kalau sudah bertitah!"


"Kira-kira bakalan dihukum mati nggak ya?" gumam Arabella. "Kan tahu sendiri mas kalau di negara Arab itu nyawa dibayar nyawa apalagi kasusnya terjadi di Dubai."


"Entahlah Arabella. Mas Arka belum tahu gimana ke depannya. Kamu gimana? Sudah masuk skripsi kan?" Arkananta menatap gadis manis di layar MacBook nya.


"Sudah mas. Besok pengajuan konsep."


"Good luck ya. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh konsultasi, mas Arka bakalan bantu."


"Siyap mas Arka tersayang... Muuuaaahhh!"


***


Kediaman Keluarga Park


Shinichi masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai karena dirinya nyaris tidak tidur dengan benar tiga hari belakangan ini.


"Ichi..." panggil Fayza.


"Yes mommy?" tanya Shinichi dengan mata setengah Watt nya.


"Ada kabar."


"Apa itu mommy."


"Gemini kecelakaan..."


Shinichi menatap sang ibu yang sudah mulai menangis dan segera memeluknya.


"Mommy mau ke Palermo?" tanya Shinichi yang langsung hilang kantuknya.


"Iya, kasihan Tante Freya pasti panik" jawab Fayza.


"Mommy, nggak papa kalau mommy mau ke Palermo sama Appa. Aku dan Sakura bisa jaga diri."


Fayza menatap wajah imut putranya. "Tolong jaga Sakura ya Ichi."


"Tanpa mommy minta, si kembang Kates itu pasti Shin jaga... Addduuuhhh!" Shinichi mengusap bahunya yang dipukul Fayza.


"Really Ichi? Kembang Kates?" hardik Fayza gemas.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2