The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Trio Kampret's Day


__ADS_3

Fakultas Teknik Arsitektur UI


Arkananta baru saja memberikan penjelasan tentang pembuatan gambar denah untuk rumah diatas tanah 6x10 meter yang menjadi tugas Arabella dan teman-teman seangkatannya.


"Jadi kalian bayangkan bagaimana kalian membeli sebidang tanah dan ingin membangun rumah impian kalian yang cozy dengan budget terbatas. Kita sebagai arsitek harus pintar-pintar memutar otak. Bagaimana bisa memuaskan klien tapi juga membuat nama kita juga jadi dikenal banyak orang. Kalian tahu kan bagaimana the power of social media."


Hari ini memang dosen pengampu utama mendadak dipanggil dekan membuat Arka harus menghandle semuanya. Para adik kelasnya pun langsung antusias bertanya ke pria imut itu membuat Arabella sebal. Bukan apa-apa, gadis itu memilih tidak terlalu tampak akrab dengan Arka supaya tidak terulang kejadian dengan Salsabila lainnya.


Salah siapa punya saudara cakep-cakep. Arabella hanya melihat dan mendengarkan pertanyaan - pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya ke Arka.


Bagi Arabella, mendengar pertanyaan dan jawaban itu sudah merupakan studi tersendiri untuk dirinya karena dari situ dia bisa menilai mana yang harus diambil teknik menggambarnya, teknik berhitung dan desainnya.


Dua puluh menit sebelum jam perkuliahan selesai, dosen utama pengampu mata kuliah pun datang dan perkuliahan dilanjutkan olehnya.


***


"Kamu kok nggak ikutan nanya, Anabelle?" tanya Arka saat semuanya keluar dari ruang kelas.


"Mau tanya apa mas Arka? Aku lebih suka mendengarkan yang pada tanya jadi aku sudah tahu kisi-kisinya" jawab Arabella tenang.


"Ah kamu memang selalu begitu. 'Mencuri' ilmu dari orang-orang sekitar" kekeh Arka.


"Salah satu strategi aku begitu mas. Kan dalam kelas pasti ada yang selalu merasa paling pintar jadi kenapa tidak aku manfaatkan dari mereka yang sok tukang tanya dan kepopers."


Arka tersenyum. "Habis ini kamu kuliah apalagi?"


"Ukur bangun."


"Ya sudah. Mas Arka mau ke proyek dulu."


"Hati-hati."


***


Tokyo Jepang


Raffa tidak bisa konsentrasi di kelas mengingat ucapan Sakura yang mengakui bahwa dia sudah tinggal bersama dengan cowok songong tadi.


Brengsek tuh orang! Tanpa sadar Raffa mematahkan pensilnya membuat teman-temannya yang duduk di dekatnya terkejut melihat bagaimana pria Italia itu tampak marah.


"Moretti! Kenapa kamu mematahkan pensilmu?" tegur guru nya.


"Eh? Maaf sensei."


"Tahan emosi kamu! Ini masih jam pelajaran saya! Tunggu lima belas menit lagi!"

__ADS_1


"Baik sensei."


Brengseeekkk! Awas kamu!


***


Raffa menunggu Sakura keluar dari kelasnya dan dirinya bertekad untuk mengikuti gadis itu. Tidak perduli pengawal bayangan yang dikirim oleh ayahnya melaporkan pada mantan ketua Silver Shinning itu.


Papamu mantan mafia, keluarga aku juga mantan mafia. Tepatnya kedua orangtuaku yang memilih lepas dari bisnis keluarga Moretti di Sisilia. Raffa menunggu dengan sabar sambil memakai Hoodie nya.


Tak lama Sakura pun keluar bersama Yumiko menuju gerbang sekolah dan Raffa terkejut gadis Hideo Park itu memilih jalan ke stasiun untuk pulang. Yumiko sendiri berpisah dengan Sakura di persimpangan.


Biasanya dijemput? Tumben naik kereta. Raffa mengikuti dari jauh dan melihat rute yang dipilih gadis itu dan ikut mengambil jalur yang sama. Raffa naik dalam satu gerbong bersama Sakura yang tampak asyik mendengarkan musik dari buds nya. Gadis itu tidak terganggu sedikitpun.


Raffa masih memandangi Sakura yang juga memakai jaket berhoodie warna pink. Setibanya di stasiun tujuan, Raffa melihat Sakura turun dan remaja pria itu pun ikut keluar dari kereta.


Sakura berjalan dengan santai tanpa menyadari bahwa seseorang mengikutinya. Sampai gadis itu tiba di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah untuk ukuran seorang pemilik toko emas.



Dan tak lama gadis itu pun memencet kode pagar kecil lalu masuk ke dalam rumah itu. Raffa mengingat - ingat rumah milik Sakura dengan menyimpannya di ponselnya. Tak lama dari arah berbeda tampak Shinichi datang dan pria imut itu pun memencet kode pagar lalu masuk ke dalam rumah itu.


Ternyata mereka benar-benar serumah... Tunggu dulu! Raffa mulai mencari tahu siapa kakak Sakura. Bodoh! Kenapa aku lupa dia punya kakak!


Astagaaa! Rupanya dia yang bernama Shinichi! Brengseeekkk! Awas kalian berdua!


***


Shinichi melihat adiknya sudah pulang hanya tersenyum.


"Gimana sekolah tadi?" tanyanya.


"Reseh si muka rata!"


"Memang kenapa?" tanya Shinichi sambil melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah.


"Tadi mas Shin bilang apa ke muka rata?"


"Bilang apa? Oh, si muka rata minta mas Shin menjauhi kamu. Ya aku bilang saja nggak bisa cumi, soalnya kita sudah serumah! Makan, mandi, tidur serumah, gimana menjauh dari kamu?"


Sakura melongo lalu setelahnya tertawa terbahak-bahak. "Astagaaa naga demi Dragon Ball dan Kakek kamesenin! Dia tidak tahu mas Shin itu kakak aku? Baka ne ( Bodohnya )!"


"Hah? Oh ya ampun demi Trunks dan bokap nya! Bodoh dipiara ih! Fix Sakura, jangan mau sama cowok bodoh macam dia!" Shinichi pun tertawa terpingkal-pingkal. "Apa dia tidak mencari tahu ya?"


"Padahal dia tahu aku punya kakak laki-laki... Astagaaa! This is the best joke ever!" Sakura tertawa sampai keluar air mata.

__ADS_1


"Biarin saja, kembang mawar. Kalau dia masih baka, buang saja ke Empang!"


Sakura makin terbahak mendengar ucapan kakaknya.


***


Kediaman Keluarga Reeves


Valentino akhirnya mendapatkan alamat email Katya D'Angelo beserta nomor ponselnya yang bernomor Swiss. Orang suruhan nya memang cerdas, berhasil mendapatkan semua yang diminta.


Setelah mendapatkan email itu, Valentino langsung membuka iMac nya dan mulai mengetik alamat email Katya.


"Lha? Gue mau bilang apa ini?" Valentino tiba-tiba merasa bodoh karena ini pertama kalinya dia menulis surat ke cewek.


"Ayo V. Mikir yang cerdas! Percuma IQ elu tinggi tapi mental lu jongkok!"


Valentino pun melakukan inhale exhale tidak jelas, menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan.


"Ayo V. Be brave!" ucap Valentino menyemangati dirinya sendiri.


Akhirnya dirinya berhasil mengirimkan email meskipun isinya benar-benar receh. Valentino pun harap-harap cemas menunggu balasan gadis bermata biru itu.


"Dibalas syukur, nggak ya Wis" gumamnya sambil memangku anjing Pomeranian nya.


Ting!


Mata Valentino melotot tidak percaya Katya membalas email-nya.


"Duh jantung, jangan kayak mau marathon dong!" ucapnya sambil menepuk dadanya membuat Bibi anjingnya bingung melihat tuannya heboh sendiri.


Buru-buru Valentino membaca email dari Katya.


Katya D'Angelo : kamu tahu darimana email aku? Eh tapi apa kabar V? Sehat kan? Aku sekarang di Geneva, sengaja cari kampus yang tidak ramai kotanya dan nyaman. Semoga kamu bisa kesini, karena pemandangan disini indah sekali!


"Hah?! Katya minta aku kesana?" Valentino menatap Bibi. "Aku bilang apa sama papa macan dan mama macan kalau pengen ke Swiss?"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2