
Tokyo, Jepang Sebulan Kemudian Sebelum Pernikahan Garvita
Shinichi tampak manyun saat keluar dari gedung JAXA bersama dengan Kedasih. Tampak disana dua orang polisi Jepang dengan pakaian preman, mengawasi dirinya.
"Mas Shin kenapa?" tanya Kedasih.
"Tuh! Ada pengawas sekolah" gerutu Shinichi.
"Siapa mereka mas?" Kedasih melihat dua orang dengan potongan rambut cepak dan tampak menatap ke arah dirinya dan Shinichi.
"Polisi Jepang. Kan gara-gara Hongkong, semua anggota keluarga Pratomo diawasi. Tapi aku kan kagak ikutan cumiii!" umpat Shinichi kesal.
"Mas Shin, mereka manusia bukan cumi..." kekeh Kedasih yang sudah hapal khas keluarga mereka kalau mengumpat selalu bilang Bambang dan Cumi. Salah apa ya mereka dijadikan bahan umpatan?
"Bodo! Tako!" sungut Shinichi.
"Mas, Tako itu gurita. Ika itu baru cumi" kekeh Kedasih.
"Ika telalu bagus. Tako lebih enak bilangnya dengan penuh penekanan emosi tingkat tinggi! Tako bisa jadi nutupi baka yaro ( dasar bodoh )!"
Kedasih menggelengkan kepalanya. "Yuk pulang, nggak bakalan selesai kalau mas Shin marah-marah melulu."
"Aku lapar... Makan ramen yuk!" ajak Shinichi.
"Yuk! Aku juga lapar."
***
Jakarta Indonesia, Apartemen Valentino dan Katya D'Angelo
Valentino membaca pesan dari Luke dan Sean jika nanti saat mereka di Brussels, akan ada pengawasan tingkat tinggi saat acara pernikahan Gemintang dan Raj Rao.
"Buseet, kita diawasi?" Valentino tampak gusar membaca pesan itu. Valentino dan Katya memang di hari kerja memilih untuk tinggal di apartemen karena dekat dengan tempat mereka bekerja dan tidak kena macet jika tinggal di rumah milik keluarga Reeves. Weekend barulah Valentino dan Katya menginap di rumah yang dibangun oleh Eiji Reeves.
Meskipun Valentino anak Hoshi Reeves, dia tetap tidak mau terlambat masuk kantor. Begitu juga dengan Katya yang akhirnya bekerja sebagai konselor di Rumah Sakit PRC Group dan sekolah berkebutuhan khusus milik Falisha Hassan Yung.
__ADS_1
Valentino tidak melarang Katya bekerja selama belum hamil. Apalagi istrinya sangat menikmati pekerjaannya dan menurut Valentino, dirinya akan merasa bersalah jika tidak mendukung passion Katya yang sudah digelutinya sejak masih kuliah di Psikologi.
"Ada apa Valentino?" tanya Katya yang baru saja selesai mandi usai pulang dari bekerja.
"Kay, kayaknya besok kita di Brussels bakalan jadi selebriti deh!" cengir Valentino sambil memberikan kode Katya duduk diatas pangkuannya. Istrinya yang memiliki mata biru itu langsung duduk diatas pangkuan pria ganteng yang sudah dikenalnya dari jaman SMA.
"Jadi artis gimana V?" tanya Katya bingung sambil mengalungkan tangannya ke leher Valentino.
"Nih baca saja sendiri" jawab Valentino.
Katya membaca pesan di email Valentino dan terkejut jika besok di Brussels akan diawasi dengan banyak law enforcement.
"Apa? Kita diawasi? V, kita itu acara pernikahan! Ya ampun, bang Sean pun kena?" Katya sampai tidak habis pikir dengan pola pikir para law enforcement sampai harus mengawasi Brussels hanya gara-gara yang menikah anggota keluarga Pratomo.
"Makanya bang Sean ngamuk-ngamuk karena tidak ikutan sama sekali tapi kena seret!"
"Bisa nggak kalau dikasih obat tidur itu semua law enforcement nya biar pada nggak jaga?" Mata biru Katya mengerjap-ngerjap jenaka.
"Ada banyak lho Kay. Butuh berapa dos valium coba?" kekeh Valentino.
"Iya ya. Terus cara kasihnya gimana?" gumam Katya yang mendapatkan ciuman di bibirnya oleh Valentino.
"Iyalah, anggap saja begitu." Katya mencium bibir Valentino. "Bikin anak yuk?"
***
Mansion Giandra Jakarta Indonesia
Bara tertawa mendengar omelan menantu dan cucunya di mansion. Bima dan Arkananta bersama Arimbi dan Arabella memang sedang menginap di mansion untuk merayakan ulang tahun Arum. Para iparnya generasi keempat sudah mengucapkan selamat ulang tahun tapi Arum meminta yang di Jakarta datang bertepatan malam Minggu untuk makan - makan di RR's Meal.
Karena Arum berulang tahun pada hari Kamis, Bima bersama Arimbi beserta Arkananta dan Arabella memilih merayakan terlebih dahulu bersama dengan Danisha, Iwan, Anarghya, Amaranggana, Pandega, Anjani dan Remy Giandra, putra tunggal Anarghya.
"Macam anak TK saja Opa! Kita diawasi! Kita tuh bukan bocil kematian! Noooohhh yang minggat ke Maryland tuh salah satu bocil kematian samaan ma yang di Manchester!" omel Arkananta yang paling tidak suka privasinya terganggu.
"Lha iya Papa. Arkananta malahan duduk anteng di rumah sambil bakar menyan manggil Jason!" timpal Bima asal.
__ADS_1
"Nah benar tuh Opa!" balas Arkananta sambil mengangguk serius.
"Apa datang si Jason?" tanya Anarghya yang pusing dengan Bima dan Arkananta yang 11-12 kalau sudah saling menistakan satu sama lain. Seperti ke teman saja hubungannya ayah dan anak itu.
"Nggak datang. Apa kena cegat Ratu Kidul dari Selatan?" gumam Arkananta.
"Atau jangan-jangan malah jatuh cinta sama nyai Roro kidul" celetuk Remy.
"Nah bener tuh rem blong! Mana kan Jason selalu pakai topeng hockey, kagak pernah ketemu cewek cantik. Terus ketemu nenek cantik pakai kemben hijau... Tersepona deh... Aaadduuuhhhh!" Arkananta dan Remy terkena keplakan dari Arimbi.
"Kalian itu! Nemu bahan aneh dikit langsung Bubrah kemana-mana! Sudah nggak usah bahas yang paranormal supranatural bla bla BLA!" tegur Arimbi galak.
Arkananta dan Remy langsung manyun.
"Kembali ke topik, jadi besok acaranya Mintang dan Raj itu akan diawasi ketat?" tanya Pandega.
"Iya Ega. Sudah fix infonya. Sean sudah mengirim kan surat edaran ke semua anggota keluarga. Tidak hanya kita yang tidak nyaman tapi Sean juga. Secara dia adalah kepala negara tapi negaranya diobok-obok oleh law enforcement" ucap Anarghya.
"Harga diri Sean pasti terasa diinjak-injak!" gumam Danisha.
"Hanya karena dia menikah dengan Zee, dikira dia juga ikutan ke Hongkong! Sean tidak mungkin ikut karena akan mempertaruhkan kekuasaannya. Eh meskipun tidak terlibat sama sekali, dia kena juga." Bara menatap anggota keluarganya.
"Karena yang datang adalah sebagian besar adalah yang terlibat di Hongkong, mas Bara. Mereka takut jika kita gegeran lagi" sahut Arum.
"Apapun para law enforcement itu hanya menjalankan tugasnya. Kita ambil positifnya saja kalau pesta pernikahan Gemintang dan Raj akan aman sebab selain dengan pengawalan dari Sean, ada pihak law enforcement yang ikut berjaga disana" senyum Iwan, opa paling kalem dari semua opa generasi keempat.
"Papa benar, Bima, Arka. Kita cari positifnya saja. Bukankah sebagai wong jowo selalu mencari hal yang positif jika menemukan hal yang negatif?" senyum Anjani.
"Lha macam pak Bima di hutan Sandy. Untung yang nongol di hadapannya itu Oom Hoshi, bukan si Jason. Coba kalau itu Jason, pak Bima tidak bisa marah-marah, yang ada pengsan!" seringai Arkananta yang langsung mendapatkan pitingan leher dari Bima yang kesal diejek terus oleh putra tunggalnya.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️