The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Valak dan Anabelle


__ADS_3

Mansion Giandra Jakarta Indonesia


Arabella terbangun dengan suara ngorok yang membuatnya terusik. Mata gadis itu membulat sempurna begitu melihat siapa yang mengorok disebelahnya.


"Lha mas Arka? Kapan pindah sini?" gumam Arabella. Gadis itu lalu menggoyang bahu suaminya. "Mas Arka... mas Arkaaaa..."


"Hhhmmmm... bentar tho... Bu Arimbi... Gurunya nggak datang... ban mobilnya kempes..."


Arabella melongo. Gurunya nggak datang? Ban mobil kempes? Sek ini ngimpi jaman sekolah apa ya?


"Mas, bangun. Ini sudah bukan jaman sekolah..."


"Bu Arimbi... kalau ini April mop... so what gitu lho..." gumam Arkananta sambil terlelap.


"Astaghfirullah! Suami Ara kok makin nggak jelas gini sih? Mas Arkaaaa..." panggil Arabella.


Mata Arkananta mulai terbuka dan melihat Arabella duduk dengan rambut terikat dua langsung berteriak. "BONEKA ANNABELLE!!!"


"HAAAHHH?" Arabella langsung memukul Arkananta dengan bantal. "Mas Arka tegaaaa!" raung Arabella sambil menangis membuat Arka panik.


Suara ketukan di pintu membuat Arka menoleh dan turun dari tempat tidur lalu membuka pintunya. Tampak Arum berdiri disana.


"Arkananta, ada apa kok teriak-teriak?" tanya Arum.


"Omaaaa... Mas Arka nakaaaallll!" adu Arabella sambil menangis.


"Lha cucu menantu Oma kenapa?" Arum langsung membuka pintu kamar membuat Arkananta terhuyung ke belakang. "Sayang, kamu diapain sama Arka?" Arum lalu memeluk Arabella.


"Omaaaa... mas Arka ngatain aku Boneka Anabelle..." tangis Arabella.


"Astaghfirullah! ARKAAAA..." pendelik Arum judes.


Arkananta hanya memutar matanya sebal.


"Minta maaf sama istri kamu!" perintah Arum.


"Lha bukan salah Arka, Oma. Siapa suruh rambutnya diikat dua macam boneka Annabelle..." ucap Arka cuek.


"Arkananta!"


"Dasar gembeng! Tukang wadul ( tukang ngadu )!" cebik Arkananta. "Jadi bini itu berubah dikit, kenapa sih?"


Arum menggelengkan kepalanya. "Arkananta, kamu itu harusnya sebagai suami, yang dewasa dikit lah, bukan sama-sama childish!"


Bara dan Anarghya yang mendengar keributan di kamar Arkananta pun mendatangi kamar cucunya itu.


"Ada apa kalian heboh pagi-pagi? Arka! Kamu apain Ara?" hardik Bara.


"Opa, Ara dipanggil boneka Annabelle... Tega banget jadi suami... Baru sehari ijab sudah menistakan! Dasar Valak!" adu Arabella ke Bara.


Anarghya tertawa terbahak-bahak.. "Astaghfirullah, dimana-mana manten anyar ( baru ) itu mesra, ada sparkling apa gitu. Lha kalian berdua malah saling menistakan satu sama lain! Ampun deh kalian itu!" Ayah dari Remy Giandra itu keluar dari kamar sambil tertawa membuat para keponakannya yang sudah bangun, bingung ada kejadian apa.


"Memangnya si patung arca sama Ara kenapa Oom?" tanya Valentino.


"Valak ribut sama Anabelle" jawab Anarghya kalem.

__ADS_1


"Haaaaahhh?"


***


Cerita Arabella dan Arkananta menjadi trending topik saat sarapan pagi membuat para generasi keenam tertawa terbahak-bahak melihat pasangan pengantin baru pakai acara gelut pagi-pagi.


"Inilah namanya nikah sama sodara ya begini! Kagak ada mesranya" celetuk Dewa.


"Yang ada saling menistakan. Dimana-mana namanya manten baru itu pagi ada mesranya apalagi kalau sudah unboxing. Tapi tidak berlaku di kalian" gelak Valentino.


Arkananta menatap semua sepupunya sambil manyun. "Kalian bisa diam nggak?"


"Kagaaakkk!" jawab semua sepupunya.


"Brengseeekkk lu pada!" umpat Arkananta.


***


Kediaman Keluarga Ramadhan


"Tumben kamu nginap di sini Wir, nggak nginep di rumah mas Ega" celetuk Adrian Ramadhan saat mereka semua sedang sarapan.


"Rumah Daddy lagi banyak orang dari keluarga Mommy. Jadi tadi malam aku minta ijin sama Daddy menginap di sini. Kan nggak jauh juga cuma beda dua kompleks" jawab Sadawira.


"Wir, bisa Opa dan Oom David bicara sama kamu?" tanya Arya Ramadhan.


"Soal dua orang di depan?" tebak Sadawira.


Arya dan David tersenyum smirk.


"Orang apa?" tanya Thea bingung. Gadis berkulit eksotis mirip dengan sang mommy yang campuran Swedia, Indonesia, Filipina dan ternyata masih ada darah Maori New Zealand itu menatap Opa,Oom dan kakak sepupunya.


"Lha memang mas Wira ngapain?" tanya Stefan yang kulitnya putih ikut Adrian.


"Mas Wira nggak ngapa-ngapain" jawab Sadawira kalem.


"Sudah kamu bereskan?" tanya Arya.


"Sudah dong!" jawab Sadawira.


***


Flashback Semalam.


Sadawira turun dari lantai dua rumah Arya Ramadhan dengan mengendap-endap lalu keluar dari pintu samping dapur dan menuju pintu tembok belakang. Di tangan pria itu sudah terkokang Glock 17 yang dibawanya dari rumah. Magazine berisikan 33 peluru itu, lima peluru awal di isikan peluru black mamba yang merupakan peluru bius buatan Jang Corp yang bisa membuat pingsan tiga hari. Tidak lupa dia menggunakan peredam agar tetangga tidak mendengar suara tembakan.


Keluar dari pintu belakang, Sadawira bersyukur pohon ketepeng opanya sangat rimbun hingga menghalangi lampu jalan. Pelan - pelan, Sadawira mengendap-endap melewati belakang mobil dan melihat dua orang itu sedang mengawasi rumah Opanya.


Perlahan dia menuju ke sisi pengemudi dan mengetuk pintunya dengan gagang pistol nya dan saat dua orang itu menoleh, dengan cepat menembak keduanya tepat di bahu dan tak lama mereka pun pingsan.


Sadawira lalu memeriksa jaket mereka dan menemukan dompet mereka dan tersenyum smirk. Wong Finance.


"You should be smarter, @$$hole!" kekeh Sadawira yang lalu memanggil pengawal Ramadhan Securitas yang berada disana.


"Mas Wira? Ini siapa?" tanya pengawal itu saat melihat dua orang yang tertembak. "Apakah mereka tewas?"

__ADS_1


"Nope. Hanya tertidur. Bereskan mereka! Kirim ke Hongkong dengan peti mati. Aku yang membayar semuanya."


Pengawal itu hanya tersenyum smirk. "Sendiko dawuh. Saya suka pekerjaan aneh-aneh." .


Sadawira terbahak. "Malam ini ya boys. Bonus menanti."


"Siap mas Wira!" Lima pengawal itu lalu mengerjakan tugas yang diperintahkan Sadawira.


***


Present Day


"Jadi kamu kirim mereka dengan peti mati?" kekeh Arya melihat cucu nya hanya memasang wajah datar disana sedangkan Stefan dan Thea tertawa.


"Astaghfirullah, mereka kan belum mati kan?" tanya Amberley.


"Belum Oma. Cuma mati suri" jawab Sadawira cuek.


"Ya ampun mas, aku bisa nuntut kamu lho" gelak Thea yang sekarang kuliah di fakultas hukum.


"Memang kamu serius mau jadi jaksa?" tanya Sadawira.


"Nope. Pengacara macam Oom Travis, Mas Nelson dan Mbak Nadya" senyum Thea.


"Astagaaaa... Another Lawyer?" gelak Anandhita.


"Kata Daddy, semua sepupu aku bakalan berbuat ulah aneh-aneh jadi harus ada yang membelanya dalam bidang hukum" gelak Thea. "Dan mas Wira sudah membuktikan bahwa aku memang harus menjadi pengacara membantu mas Nelson dan mbak Nadya."


Sadawira hanya tersenyum smirk. "Thanks Thea."


Thea tersenyum manis ke kakak sepupunya.


***



Visual Thea Ramadhan


Kisah Thea Ramadhan akan ada di novel nya sendiri sekitar pertengahan tahun ya.


Blueberry :


Thea Ramadhan adalah seorang pengacara yang harus mendampingi kliennya yang bernama Hugo Melker, seorang penulis novel kriminal terkenal yang dituduh membunuh istrinya. Dari hasil penyelidikan, semua bukti mengarah ke Hugo tapi Thea yakin kliennya tidak bersalah... Putri Adrian Ramadhan itu harus bersikap profesional meskipun dirinya mulai tertarik pada kliennya...


Andaikan kami bertemu lebih dulu.....



Rencana Covernya


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2