The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Kedasih Jayanti


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat


"Haaaaahhh? Saya harus pakai asisten?" teriak Shinichi ke arah profesornya melalui FaceTime.


"Iya Park-chan. Aturan dari fakultas begitu apalagi kamu sudah menghancurkan lift" seringai profesor Takeda, dosen pembimbing Shinichi dengan wajah durjana membuat pria imut itu manyun.


"Lalu? Siapa asisten saya?" Shinichi hanya bisa melengos karena bagaimanapun dia yang salah.


"Mahasiswi beasiswa asal Indonesia. Namanya Kedasih Jayanti."


Shinichi mengerenyitkan dahinya. Kok cewek?


***


Ruang Dekan Fakultas Science jurusan Fisika


Profesor Takeda dan Dekan Fakultas Science akhirnya tersenyum mendengar jawaban Shinichi yang menerima mendapatkan asisten agar kejadian lift kemarin tidak terulang lagi.


"Apakah Kedasih mau menjadi asisten Shinichi Park? Mengingat anak itu penuh dengan kejutan" kekeh Dekan Fakultas Science.


"Aku sudah bilang pada cucuku dan cucuku tahu tentang Shinichi apalagi dia bisa bahasa isyarat. Jadi tidak ada masalah dalam berkomunikasi kan?" senyum Profesor Takeda.


"Semoga Shinichi Park betah dengan cucumu, Prof."


"Semoga."


***


Profesor Takeda keluar dari ruangan dekan dan menuju ruangannya. Sesampainya disana tampak cucunya Kedasih Jayanti sudah menunggunya.


"Sudah lama Dasih?" tanya Profesor Takeda.


Baru sepuluh menit, Grandpa.


"Yuk masuk." Profesor Takeda membuka ruang kerjanya.

__ADS_1


Profesor Takeda memiliki seorang anak perempuan bernama Ayumi Takeda yang seorang mahasiswi farmasi di Todai. Ayumi jatuh cinta dengan seorang mahasiswa asal Indonesia bernama Ikbal Jayanto. Ikbal sendiri adalah mahasiswa kedokteran adik kelas Joey Bianchi.


Ayumi dan Ikbal pun akhirnya menikah dan memiliki putri bernama Kedasih Jayanti. Saat Kedasih dan kedua orang tuanya merayakan keberhasilannya masuk fakultas science jurusan fisika Todai, musibah menimpa ketiganya.


Disaat ketiganya berada di pantai Maehama di Okinawa untuk melakukan snorkeling, tiba-tiba ombak tinggi datang dan mirip little tsunami yang menyeret dua orangtua Kedasih. Jenazah keduanya baru ditemukan dua hari kemudian dan akibat dari itu, Kedasih mengalami shock hingga kehilangan kemampuan bicaranya.


Profesor Takeda sudah berusaha membuat cucunya berbicara kembali dengan membawa ke hampir semua psikiater maupun psikolog untuk diberikan terapi dan konseling, tapi kejadian hilangnya kedua orangtuanya di depan mata, membuat Kedasih shock paling berat.


Sang grandpa akhirnya memutuskan untuk menerima Kedasih seperti ini karena akan membuat cucunya semakin stress jika dipaksakan. Kedasih pun memilih untuk mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi meskipun bisa mendengar.


"Dasih, Grandpa minta, kalau besok kamu menjadi asisten Shinichi Park, yang tabah ya. Kamu tahu sendiri kan kalau anak itu suka out of the box baik ucapan maupun sikapnya."


Kedasih mengangguk. Iya Grandpa. Semua orang di fakultas fisika sudah tahu kalau Park-chan suka buat gegeran.


"Kamu bisa belajar dari Shinichi karena mahasiswa yang cerdas meskipun tertutup dengan kelakuan absurdnya."


Iya Grandpa. Kedasih tersenyum.



***


Jakarta Indonesia


Arkananta menyerahkan blue print rumah yang diminta oleh klien PRC Group ke sang mama, Arimbi. Meskipun bekerja di perusahaan keluarganya sendiri, tidak ada perlakuan istimewa ke Arka meskipun dia adalah putra Arimbi Giandra Baskara, CEO PRC Group.


"Arka, desain mu ini disuka oleh klien Tante Reana" senyum Arimbi.


"Jadi?" Arkananta merasa senang desain rumahnya mendapatkan apresiasi klien PRC Group New York.


"Kemungkinan besar akan dipakai sebagai rumah musim panas klien sana. Dan kamu bisa pindah ke PRC Group New York."


"Yes!" senyum Arkananta. "Aku pindah kapan ma, kira-kira?"


Arkananta jika hanya berdua, sama dengan Juliet, akan memanggil Arimbi seperti di rumah.

__ADS_1


"Tante Reana tahu Valentino masih harus mengurus semua administrasi ke MIT dan masuk besok Agustus jadi kamu pindah Agustus ya?"


"Nggak masalah! Yang penting aku tidak pisah sama Valentino saja."


"Ka, memang si V kenapa tiba-tiba ingin kuliah di MIT? Padahal lulus SMA diminta ke MIT nggak mau?"


"Kayaknya berhubungan dengan cewek deh!"


"Oom Hoshi dan Tante Rina tahu?" tanya Arimbi.


"Kayaknya belum tahu. Tapi mbak Zee sih tahu siapa."


"Zee?" Arimbi bingung. "Kok bisa Zee tahu?"


"Yaaa aku sih hanya menebak saja sih..."


Arimbi memegang dagunya. "Kayaknya mama harus tanya sama Tante Rin deh! Iiiisshhhh penasaran! Siapa sih cewek yang bisa bikin Valentino jadi minggat ke Massachusetts..."


"Please deh ma. Jangan kepopers" kekeh Arkananta.


"Oh tidak bisa. Mama juga harus tahu!"


Arkananta hanya melengos.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Maaf pendek. Besok aku sambung lagi.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2