The Story of Three Brothers

The Story of Three Brothers
Antara Jo Malone dan Param Kocok


__ADS_3

Rumah Zinnia, Indramayu Jawa Barat


Shinichi dan Gasendra membawakan cooler berisikan ikan salmon dan dori yang dibekukan atas permintaan Zinnia. Semenjak hamil usia lima bulan, bumil itu meminta dikirimkan banyak ikan selain ikan segar yang dibelikan bik Minah dan Jasmine.


"Mbak Zee hamil si boy malah demennya makan ikan ya?" komentar Shinichi sambil menyerahkan cooler itu ke para pelayan.


"Bagus kan buat si boy. Kata Jasmine mbak Zee makan ikan seminggu tiga kali dan di balance dengan daging merah plus sayur."


"Yang penting asupan gizi si boy terjamin." Shinichi pun keluar dari dapur bersama Gasendra.


"Ayo makan siang dulu semua" ajak Zinnia yang sudah menyiapkan makan siang yang menurut Arkananta kesiangan karena sudah jam tiga.


"Mbak Zee, aku duduk di sebelah mbak Zee ya?" rayu Shinichi sambil memasang wajah imut.



Si kungkang lagi merayu


"Boleh. Sini duduk sebelah mbak Zee" ajak Zinnia.


"Yes!" Shinichi pun duduk di sebelah Zinnia dengan wajah sumringah.


"Kalian sudah dengar Leia kecelakaan?" tanya Zinnia.


"Hah? Dimana mbak?" tanya Arka yang hendak mengambil nasi jadi mematung.


"Turin."


"Terus mbak Leia gimana?" tanya Valentino. "Ka, lu mau ambil nasi kapan? Malah freeze begitu!"


"Eh iya. Kok. gue malah ngefrozen." Arka mengambil nasi dan menyerahkan centong nya ke Valentino.


"Ditolong sama Dante Mancini."


"Haaaaahhh!" seru trio Kampret.


"Wah kesempatan nih!" ujar Valentino yang menyerahkan mangkuk nasi ke Shinichi.


"Bisa ngadi-ngadi deh tuh si Inferno mengatas namakan cinta ke mbak Lele. Eh, apa lelenya nggak gosong ya kena inferno?" celetuk Shinichi.

__ADS_1


"Ya elah, malah jadi makanan!" gerutu Arkananta.


"Mbak Zee, kapan kira-kira si boy mau lihat dunia?" tanya Shinichi sambil melirik perut besar Zinnia. "Kamu belum boleh makan nasi sama ikan asam manis. Soalnya masih di dalam perut! Nanti kalau kamu sudah keluar, nah baru tuh Oom Shin ajak makan ke restoran seafood enak murah meriah di Tokyo!"


Semua orang menatap jengah ke cowok imut itu yang tanpa beban mengobrol dengan calon keponakannya.


"Minggu ini sih cuma kan sampai sekarangbak Zee belum merasakan tanda-tanda mau lahiran. Pegal iya karena bawa boy dan perut mbak Zee seperti ini, lumayan bikin encok."


"Mbak Zee kasih apa boyoknya?" tanya Valentino.


"Kasih minyak esensial sih cuma kemarin sama bik Minah dikasih parem kocok karena mbak Zee nggak tahan pegal."


"Mbak Zee masih muda sudah encok ih" celetuk Shinichi. "Boy, kamu segeralah keluar. Apa nggak kasihan tuh mommymu encok? Apa kamu nggak engap di dalam? Nggak enak tahu bau parem kocok! Enak itu bau Dolce Gabbana, Jo Malone, Kenzo, Hugo Boss atau Dior."


"Kenapa malah sebutin merk parfum sih Kungkang?" gerutu Valentino.


"Lho kan benar. Itu parfum-parfum favorit aku dan baunya yummy banget dibandingkan bau parem. Kebayang nggak sih elu lagi jalan terus kecium bau Jo Malone atau Dior, pasti cewek-cewek bakal menoleh dengan wajah hhhmmm. Lha beda lagi kalau elu pakai parem kocok main ke mall, yang ada pasti mikirnya. 'Ih bau apaan tuh! Bikin ilfill'!"


Zinnia melongo mendengar ucapan unfaedah adiknya. "Ya ampun nak, kamu mendengar omongan Oom kamu yang bikin puyeng."


***


Usai makan siang, Arka dan Valentino pamit untuk masuk ke dalam kamar masing-masing sedangkan Gasendra memilih untuk pergi ke pabrik beras milik Zinnia. Meskipun itu milik sang kakak, tapi tetap Gasendra merasa bertanggungjawab mengawasi selama kakaknya belum bisa ke perusahaan.


"Jadi Sakura dikejar-kejar dua cowok?" tanya Zinnia yang bingung adik sepupunya masih SMA sudah ditaksir dua kakak beradik.


"Iya si Ale-ale sama muka rata."


"Terus?"


"Si Ale-ale ketemu sama aku bilang mau ambil Sakura nanti kalau sudah dewasa, si muka rata sudah ketemu appa tapi belum berani nembung."


Zinnia mengelus kepala Shinichi yang duduk di atas karpet tebal sedangkan dirinya duduk di sofa. "Kamu pasti repot ya menjaga Sakura?"


"Tapi bang Lukie sudah kasih pengawalan ketat ke bunga tulip itu. Lagian mbak Zee, adikku satu itu tidak respon sama keduanya."


"Kalau Sakura banyak yang suka itu wajar tapi yang berani terang-terangan itu hanya segelintir, Shin."


"Bang Lukie, Arka dan Valentino juga bilang begitu. Pertama Appa. Tahu sendiri kan mbak, appa gimana. Kedua Opa. Kita punya Opa yang judesnya minta ampun, mantan Yakuza dan yang berteman baik dengan semua keluarga mafia, Triad dan Yakuza. Apa nggak minder bin ngeper?"

__ADS_1


"Dan yang berani cuma kakak beradik Moretti karena mereka berasal dari keluarga mafia yang dikenal di Italia dan New York." Zinnia menatap adiknya yang manyun.


"Aku tuh sampai nanya sama si kembang kantil, dia pakai susuk apa sih!"


Zinnia terbahak. "Ya Allah, Shinichi! Adik kamu namanya Sakura, bukan kembang kantil! Kamu tuh ya kok aneh-aneh suudzon Sakura pakai susuk! Kok ya kepikir sih kamu?"


"Lha gimana mbak. Aku kan gemas! Mbak Zee bayangin deh, duo morotin itu bisa-bisanya mau gelut di toko pastry Oma Marissa! Makanya aku ancam bakalan manggil anak buah bang Lukie dalam waktu lima menit!"


"Memangnya mereka serius sama Sakura?"!


"Nggak tahu mbak, serius atau cinta monkey d Luffy..."


"Lha kok malah bawa-bawa One Piece?" kekeh Zinnia.


"Mbak Zee gimana? Kangen Bang Sean nggak?" Shinichi menatap wajah cantik kakaknya yang sekarang pipinya tampak penuh.


"Kangen nggak kangen sih Shin. Saat si boy mulai aktif, ada perasaan pengen Sean merasakan gerakan anaknya. Tapi satu sisi mbak Zee merasa bisa kok hidup sendiri tanpa Sean." Zinnia menghela nafas panjang sambil mengusap perutnya. "Yang jelas Shin, mbak pengen melahirkan ditemani Sean tapi melihat kondisi Papa dan Opa Karl masih mode marah, mbak pesimis bisa ditemani."


"Mbak, kalau misal mbak pisah gimana?"


"Mbak sudah siapkan surat cerai ke Sean usai si boy lahir, meskipun mbak masih cinta sama Sean tapi mbak tidak bisa kembali ke Belgia selama Sean tidak mendapatkan restu kembali dari papa dan Opa."


"Oom Travis sudah persiapan ya?"


"Sudah, Shin. Doakan saja mbak Zee diberikan jalan yang terbaik deh!"


Shinichi pun bangun lalu duduk di sebelah Zinnia dan memeluk kakaknya. "Insyaallah mbak. Aku yakin nanti ada jalan yang terbaik."


Zinnia membalas pelukan Shinichi. "Thanks Shin."


"Lha malah pelukan ala Teletubbies!" seru Valentino yang keluar kamar. "Ikutan!"


Walhasil, Zinnia dipeluk oleh kedua adiknya dan bumil cantik itu bersyukur memiliki keluarga dan adik-adik yang sayang padanya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2