
Indramayu Jawa Barat
Pagi ini Arkananta dan Valentino bertolak ke Jakarta untuk menjemput chef Alan, salah satu chef RR's Meal yang diminta Rajendra untuk berada di Indramayu selama fase ngidam Zinnia.
Keduanya bertolak usai subuh agar lebih cepat sampai di Jakarta sedangkan Shinichi memilih menemani Zinnia yang berencana untuk membuat nasi gandul.
"Kamu kenapa Shinichi?" tanya Zinnia yang sedang mempersiapkan bumbu bersama dengan Jasmine dan Bik Minah. "Kok seperti kesal."
"Si kembang melati itu lho mbak..."
"Sakura maksudnya? Kenapa dengan adikmu?"
"Berantem sama cowok Italia di sekolah."
"Berantem gimana?" tanya Zinnia bingung. Diakuinya adik Shinichi sama panasannya dengan sang kakak padahal appanya macam kulkas berjalan dan hanya hangat kalau bersama Mommynya.
"Jadi si kembang matahari itu kan tanding Kendo dan lawannya waktu itu di muka rata kakak kelasnya..."
Zinnia melongo. "Muka rata? Setan maksudnya?"
"Ish bukan mbak!"
"Yang jelas dong. Jangan kamu ganti seenaknya, mbak Zee jadi bingung" kekeh Zinnia yang gemas dengan trio kampret hobi sekali mengganti nama orang seenaknya.
"Sakura itu tanding Kendo sama kakak kelasnya yang bernama Raffa Moretti. Si muka rata ini tidak terima kalah sama si kembang kantil terus minta tanding ulang... Kalah lagi. Eh habis itu ngebully adikku, ditantang lah sama Sakura dan kalah lagi ketiga kalinya. Habis itu diledek sama kembang pacar kalau dia banci. Malah nantang bang Lukie."
"Shin, ada masalah apa sih Raffa sama Sakura?"
"Kalah harga diri kayaknya mbak. Secara pria kan begitu. Terus bang Lukie nyanggupi lah buat tanding sama si muka rata. Dan ternyata si muka rata punya kakak cowok yang datang pas adiknya nantang bang Lukie."
"Lalu Raffa kalah, kakaknya nantang Luke?"
"Nggak mbak. Muka rata kalah, kakaknya menjamin kalau adiknya nggak bakalan bully Sakura lagi. Cuma yang jadi masalah... Ini lhoooo!" Shinichi memperlihatkan wajah Alessandro dan Raffa.
"Yang mana yang namanya Raffa?"
Shinichi menunjuk ke pria yang usianya tidak terlalu jauh dari Sakura.
"Yang bertato ini? Kakaknya? Namanya?"
"Alessandro."
"Masalahnya dimana Shin?" Zinnia memperhatikan kedua pria berdarah Italiano itu dengan seksama. Bumil cantik itu mulai menonton rekaman CCTV yang diambil Shinichi saat Luke dan Raffa bertanding Kendo.
"Mbak Zee kan psikolog, jadi bisa membaca bahasa tubuh kan?"
__ADS_1
"Keduanya suka sama Sakura ya?" Zinnia menatap Shinichi.
"Mbak Zee bisa lihat kan?"
"Dengan cara tersendiri Shin tapi dua-duanya sama-sama suka Sakura. Semoga pengamatan mbak Zee salah karena biasa kan cowok kalau lihat cewek cantik langsung curi - curi pandang."
"Tapi tidak adikku! Mbak tahu kan appa bisa kebakaran jenggot meskipun tidak berjenggot kalau Sakura kenapa-napa. Aku saja yang anak laki, appa cemasnya minta ampun pas aku di Belgia."
"Shin, semoga ini cuman senang ala ABG yang suka sekilas tidak serius."
"Iya mbak. Aku tidak mau adikku kenapa-kenapa."
***
Arkananta dan Valentino tiba dari Jakarta sekitar pukul satu siang bersama dengan chef Alan, seorang chef muda berusia sekitar 30an dan sudah menikah dengan seorang wanita Indonesia. Chef Alan sendiri adalah chef berkebangsaan Amerika yang masih ada keturunan Jerman.
"Kok mirip Opa Karl ya? Tapi nggak tattooan" bisik Shinichi saat pertama kali melihat chef itu.
"Kan sama - sama ada darah Jerman" balas Zinnia.
"Selamat siang Miss Schumacher atau Mrs Léopold saya manggilnya?" sapa Chef Alan dengan ramah.
"Panggil saja Zee, chef." Zinnia menerima uluran tangan chef Alan.
"Baiklah kalau begitu, Miss Zee. So, anda ingin apa? Saya tahu rasanya ingin makan sesuatu tapi nggak pas itu menyebalkan."
"Sebab istri saya dulu saat hamil juga begitu" gelak Chef Alan. "Yang paling parah adalah, tengah malam minta bakmi jowo sedangkan saya tidak tahu bentuknya. Begitu saya Googling dan berusaha membuatnya tapi di lidah Nayla rasanya salah, bisa lho nangis semalaman. Wanita hamil itu membingungkan."
Shinichi dan Zinnia tertawa membayangkan bahkan chef saja bisa ditolak masakannya.
"So, miss Zee. Anda ingin apa?" Chef Alan menuju dapur besar Zinnia dan mulai memeriksa bahan makanan disana.
"Pretzel, authentic recipe with mozzarella." Membayangkannya saja, air liur Zinnia sudah terbit.
"Bahan makanan anda memiliki semuanya Miss Zee. Oke, saya buatkan" senyum chef Alan yang langsung cuci tangan dan mengambil apron. Zinnia dan Shinichi langsung kepo bagaimana chef itu beraksi.
***
Arkananta sedang membuat tugas skripsinya di teras rumah asri Zinnia ketika melihat sebuah Toyota Alphard warna hitam masuk ke halaman rumah. Mobil yang sangat dikenalnya adalah milik Anandhita Satrio.
Setelah mobil itu berhenti, dari pintu penumpang turunlah seorang gadis dengan wajah sumringah dan segera membuka pintu belakang.
"Mas Arkaaaa! Bantuin!" rengeknya manja.
"Apaan sih Anabelle! Memang nggak bisa bawa sendiri?" balas Arka dengan cueknya.
__ADS_1
"Mas Arkaaaa! Tolongin!" Arabella langsung memasang wajah memelas.
Dengan ogah-ogahan Arka berdiri dan berjalan menuju mobil hitam itu. Wajahnya tampak terkejut melihat banyaknya oleh-oleh yang dibawa putri David Hakim Satrio dan Anandhita Ramadhan itu.
"Eh buset! Banyak amat Kunti?"
"Iiiihhh gimana sih! Disini banyak orang, mas! Wajar lah aku bawa banyak!" Arabella lalu memanggil beberapa pengawal untuk mengambil kantong-kantong berisikan wingko, lumpia dan moachi untuk dibagikan ke banyak orang di sana.
"Ini yang buat mbak Zee?" tanya Arka melihat tiga kantong yang berbeda.
"Iya. Ini punya mbak Zee, mas Arka, mas V dan mas Shin." Arabella pun masuk ke rumah Zinnia.
"Assalamualaikum semuanya!" sapa gadis centil itu membuat semua orang membalas salamnya.
"Wa'alaikum salam. Nggak usah teriak kenapa sih Anabelle!" sungut Valentino.
"Iiiihhh mas V kok ikutan mas Arka panggil pakai nama boneka horor sih!"
"Padahal aslinya boneka Anabelle nggak serem, kan sama ma kamu. Kamu tuh nggak serem tapi aslinya mengerikan" ujar Arkananta sambil meletakkan barang-barang bawaan Arabella.
"Aaaahhhh kok ya malah di bahas siiiihhh!" rengeknya.
"Apaan sih Ra? Ribut saja dari tadi" tegur Zinnia yang baru saja keluar dari dapur.
"Mbak Zeeeee! Hai boy!" Arabella memeluk Zinnia lalu mengusap perut kakaknya itu.
"Gimana perjalanan ke Semarang?" tanya Zinnia sambil merangkul adiknya.
"Menyenangkan. Lumayan kuliner yang berbeda dari Jakarta."
"Pantas dari tadi terdengar suara cempreng. Ternyata ada mbak Kunti datang... Aduuuhh!" Shinichi mengaduh ketika Arabella memukul bahunya.
"Jahatnya kalian, tapi Ara paling sayang sama mas Arka." Arabella langsung merangkul bahu Arka dan menempel manja.
"Iiiihhh apaan sih ini!" Arka berusaha melepaskan pelukan adik sepupunya yang sangat-sangat jauh urutannya.
"Kan Ara kangen mas!" Arabella mencium pipi Arkananta dengan cueknya.
**
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️