
"pak Rahardian?"Rahardian menoleh ketika ada yang memanggil nya.
Seorang wanita cantik dengan aura dingin berdiri di belakang nya,tidak ada yang berubah,hanya wanita yang pernah di kagumi Rahardian karena kecantikan dan karir nya yang gemilang itu semakin cantik.
"Nona Kim?anda di Indonesia?"Rahardian bertanya bingung pada Nisa.
"Ada sedikit urusan"Nisa menjawab singkat.
"Biru sudah mengatakan tentang pernikahan anda,semoga langgeng nona"doa meluncur bebas dari bibir Rahardian.
"Bisa kita bicara nona?"
Nisa mengangguk,semua orang memang memanggil nya nona,mungkin karena aura angkuh yang kuat.
Di sini mereka,di sebuah kafe di depan rumah sakit.
Rahardian bingung harus bercerita kepada siapa lagi sekarang.dia hilang,tidak punya sandaran sekedar meluap kan isi hati dan keluh kesah.
__ADS_1
"Ada apa?saya rasa kita tidak seasing itu hingga anda tahu bercerita?"tanya Nisa.
Akhir nya dengan berat hati Rahardian bercerita,wajah nya terlihat sangat kalut berbanding terbalik dengan Nisa yang hanya menyeringai sinis.
“aku hanya takut,dia bernasib sama seperti ku"Rahardian menunduk.
Hati lembut nya merasa bersalah karena sudah berkata kasar dan keterlaluan pada Chika,tapi percaya lah Rahardian melakukan itu agar Chika membenci Nya.
"Anda bisa tertawa nona Kim,anda tidak pernah merasakan bagaimana rasa Nya mengalami cinta sepihak,semua orang yang anda cintai pasti membalas dengan senang hati."Rahardian bersungut-sungut kesal.
"em.karena saya sangat tau betapa menyakit kan nya itu nona,saya tidak ingin ada yang tersakiti karena saya."
Rahardian menunduk,masih terfikir bagaimana sikap Chika nanti.ia sadar waktu nya tidak tepat, karena Chika gagar otak.
"di mana dia sekarang?"tanya Nisa.
"dia di rumah sakit nona"jawab Rahardian.
__ADS_1
"anda berkata kasar pada seorang pasien?dimana otak anda pak Rahardian?.jika pun anda mengatakan nya di saat kondisi nya baik-baik saja, kemungkinan bunuh diri saja besar, bagaimana sekarang?!"suara Nisa lirih namun banyak penekanan di hampir setiap kalimat nya.
Rahardian menunduk.selalu seperti ini,dia tidak akan menang jika berdebat dengan wanita yang akrab di panggil nona Kim
"aku tau nona,tapi maaf aku tidak bisa menahan diri sedikit pun lagi.sejak biru kembali ke Indonesia,semua nya semakin bertambah rumit, karena saya masih mencintai nya."
Nisa menghela nafas kasar,tiga tahun sudah berlalu dan biru juga sudah bahagia bersama keluarga kecil nya,tapi di sisi seorang laki-laki rapuh masih bertahan dengan cinta semu nya.
"tapi biru tidak peduli pada anda,dia sudah bahagia.sekarang saat nya anda untuk bahagia pak Rahardian, jangan hancur kan hati wanita lain demi wanita yang tidak peduli pada mu."
Nisa berdecak kesal karena Rahardian begitu bodoh di mata nya.
"saya sudah berusaha nona,tapi saya tidak pernah bisa.semua sudah saya lakukan, menjalin hubungan dengan beberapa Wanita termasuk juga menerima perjodohan yang di lakukan ibu saya,semua nya sudah saya coba."
rahardian mengusap wajah nya kasar.tampak benar-benar kalut sekarang,ada rasa sedih dan tidak ikhlas jika harus benar-benar melepas biru.
"anda yang bodoh pak Rahardian, karena anda mau bertahan pada hal anda yakin akan tersakiti."Nisa berdecak marah.
__ADS_1