
FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.
HAPPY READING.
"Selamat pagi Mr.Smith"semua orang membungkuk hormat ketika laki-laki tampan itu lewat.
Raut wajah William berubah menjadi sangat baku.tidak ada senyum sedikit pun yg tersungging di wajah nya.
"Aku akan melepas kan Smith group"sekertaris Steven yg berdiri di dekat sang tuan muda tampak sangat terkejut.
"Maksud anda apa tuan muda?anda yakin? kenapa?"sekertaris Steven terus-menerus mengeluar kan pertanyaan nya.
"Aku akan ke Amerika Steve.aku ingin beristirahat, sekaligus memberi pelajaran pada Mommy, agar dia tidak berlaku seenak nya sedikit pun"William menyeringai.
"Tapi tuan muda"perkataan sekertaris Steven terhenti,William sudah mengangkat tangan nya, pertanda dia tidak ingin mendengar apapun.
"Minta kepala pelayan menyiap kan koper ku sekarang"sekertaris Steven hanya mampu mengangguk pasrah.
Beberapa meeting telah di selesai kan dengan baik.waktu juga sudah cukup sore, karena itu William memutus kan untuk segera kembali ke mansion, menyiap kan kepergian nya ke Amerika serikat.
"Alex apa-apaan ini!kenapa kau mau keluar dari Smith group!"begitu menapak kan kaki di mansion,William langsung di sambut dengan bentakan dari nyonya Lisa.
"Aku lelah"singkat William.
"Apa ini karena biru hah?!"nyonya Lisa terbiasa untuk menyalah kan biru.
"Biru lagi biru lagi apa salah biru!"William berteriak keras.
"Alex jangan lakukan apapun.kau satu-satu nya putra mommy"nyonya Lisa menggenggam erat tangan sang putra.
"Satu-satu nya?kenapa mommy tidak meminta Daddy menikah lagi agar kakek punya banyak cucu?!"
Diam.nyonya Lisa tidak mampu berkata-kata lagi.itu seakan sebuah tamparan telak bagi nya.
"William maaf"nyonya Lisa menatap ke arah William,air mata nya terus menerus mengalir tanpa henti.
"Dad aku pamit"William menyeret koper yg baru di bawa oleh kepala pelayan.
"Jaga diri mu baik-baik nak"tuan besar Smith tidak melarang ataupun mencegah William,dia membiar kan sang anak berbuat semau nya.
"Aku pergi Steve,jaga Daddy"sekertaris Steven mengangguk,melambai kan tangan nya ketika mobil yg di tumpangi oleh William berjalan menjauh.
"Kenapa sekarang menjadi sangat rumit"William menggeleng kan kepala nya, menyandar kan tubuh nya di jok mobil.
Apartemen sekertaris Steven.
Laki-laki itu baru pulang setelah kurang lebih satu bulan tidak kembali,di tambah kepergian nya ke Korea.
"Steven! sampai kapan kau mau begini hah!"Rebecca keluar dari kamar nya,sembari menggendong putri mungil nya
"Tidak cukup kah para pelac*r di luar sana! hingga kau mendekati wanita lain!"Rebecca meledak-ledak.
Skandal yg di buat Sekertaris Steven benar-benar membuat Nya merasa ketakutan,takut karena posisi nya bisa terancam.
Jika hanya para psk di luar sana, Rebecca tidak masalah.tapi rival nya sekarang bukan gadis biasa,melain kan seseorang yg cukup berpengaruh di dunia bisnis.
Seorang gadis yg di juluki putri Diana nya para pengusaha muda seantero dunia,gadis yg tidak hanya memiliki wajah yg cantik tetapi attitude yg sangat baik.
"Kau merasa tersaingi?"sekertaris Steven menyeringai sinis.
"Aku istri mu stev!hargai aku sekali saja"Rebecca menatap sekertaris Steven dengan mata berkaca-kaca.
"Kau bahkan tidak pernah menghargai ku!kau bahkan masih tidur dengan laki-laki Amerika itu! aku berharap kau tidak tiada dengan cepat"
Rebecca menatap dengan penuh air mata ke arah sekertaris Steven,hati nya merasa sangat teriris.
"Kau bebas meniduri wanita manapun asal jangan nona Kim"sekertaris Steven yg sedang menggendong virgin terhenti.
"Kenapa?dia satu-satu nya wanita yg ku cintai!"sekertaris Steven menekan kan kata cintai, agar wanita itu sadar, bahwa ia tidak lebih dari istri yg tidak di cintai.
__ADS_1
"Stev,apa kurang nya aku pada mu?"Rebecca menatap tajam ke arah sekertaris Steven.
"Kau pernah mengkhianati ku.karena itu aku tidak pernah melirik mu sekali saja.jadi jangan membanding kan diri mu dengan nya"rebbeca menatap ke arah Steven,air mata berjatuhan tanpa bisa di bendung lagi.
Washington DC.
"Nyonya,ini saat nya kita menjemput anak-anak"seorang laki-laki muda mendekat ke arah biru.
"Baik lah"biru langsung masuk ke dalam mobil, mereka melaju cepat ke salah satu sekolah terelit di Washington DC.
Sebuah gedung dengan warna crem dan juga putih langsung menyambut kedatangan biru, terlihat banyak anak-anak yg bermain di luar, berlari-lari kecil dan lain nya.
Pandangan biru teralih kan kepada empat anak yg sedang duduk di atas kursi,dengan tas masing-masing berada di pangkuan.
"Kalian sudah pulang?"biru turun, mendekat ke arah rosse, Rossi,Lel dan juga Lee.
"Iya,tapi kenapa mommy datang nya lama"rosse memberengut,merentang kan tangan nya, meminta di gendong.
"Maaf sayang,toko tadi ramai,mommy jadi nya datang terlambat"biru mengecup kening Rosse dengan penuh kasih sayang,mengelus lembut rambut pirang sang putri.
"Aunty blue,kapan nona Kim datang?kami sangat merindu kan nya?"di tengah-tengah perjalan menuju mansion,Lee bertanya.
"Aunty juga tidak tau"biru menjawab jujur.
Di mansion ternyata kedatangan tamu.siapa lagi jika bukan putri rumah ini, nisa.dia sedang duduk berhadapan langsung dengan king mafia dragon white dan juga Renald.
"Bagaimana jawaban mu ketika di tanya tuan besar Smith?"
"Bukan kah anda juga tau sedang berhadapan dengan siapa?Kim ae-ra,black rose,atau Nisa.saya lebih berpengaruh dari anda tuan besar Smith baik di dunia bawah atau pun atas,jika anda fikir saya akan takut,anda salah besar"
Nisa meniru kan jawaban yg ia beri kan kepada tuan besar Smith.
"Hahaha"tawa king mafia dragon white menggelegar,dia tertawa mendengar jawaban yg di beri kan oleh Nisa, sang putri.
"Aku sudah menduga nya adik ku"Renald menyeringai penuh misteri,dalam hati ia terus bersorak gembira karena Nisa bisa menjaga diri nya sendiri.
"Nona Kim!"biru memekik heboh melihat kehadiran sang sahabat.
"Aunty!"lel dan juga Lee langsung berlarian ke arah Nisa,mereka memeluk erat tubuh sang aunty bersamaan.
"Aunty membawa hadiah untuk kalian semua"Nisa memberi kan mereka masing-masing satu paper bag.
"Terima kasih banyak nona Kim"Rossi membuka paper bag milik nya,sebuah buku gambar besar lengkap dengan alat tulis.
"Wah boneka Barbie!"rosse juga memekik girang, ketika melihat sebuah boneka di dalam paper bag.
"Nona Kim kami sangat menyayangi mu"lel dan Lee berujar secara bersamaan.
"Aku ingin sesegera mungkin belajar menunggang kuda,nona Kim mau ikut?"biru duduk di sebelah Nisa,berujar dengan sangat antusias.
"Kenapa tidak.karena mansion ini kedatangan banyak tamu.kita bisa menunggang kuda sembari berpiknik"king mafia dragon white berujar dengan senang,untuk pertama kali Nya mereka berkumpul bersama.
"Baik lah ayo!"mobil milik Renald dan juga Nisa melaju dengan sangat cepat menuju ke area pribadi milik mafia Dragon white.
Di lapangan hijau yg cukup luas, mereka duduk di sebuah tikar piknik yg di bawa oleh Nisa.
"Nona Kim maaf karena saya anda di repot kan"biru merasa tidak enak Karena Nisa ikut terseret dalam masalah nya sendiri.
"Tidak masalah.rasa nya aku sangat ingin tertawa,kalian tau tidak?mereka menculik ku dengan cara yg cukup menggeli kan"Nisa tertawa keras.
"Tapi selama ada sekertaris Steven, William tidak akan berani menyakiti anda"semua orang tampak tertegun mendengar perkataan yg di lontar kan biru.
"Benar kan dugaan ku, laki-laki itu menyukai mu sayang"Renald yg pertama kali beraksi,dia yakin penilaian nya tidak lah salah sedikit pun.
"Daddy melarang mu berhubungan dengan laki-laki yg telah beristri"king mafia dragon white bereaksi.
"Tapi benar,ku dengar sekertaris Steven tidak bahagia dengan pernikahan mereka.dia sama sekali tidak pernah menyentuh istri nya sedikit pun"biru menyeruput jus anggur di hadapan nya.
"Astagfirullah"Nisa hanya mampu menggeleng kan kepala nya secara perlahan.
__ADS_1
"Ayo!"biru berdiri dari duduk nya,bersiap naik ke atas kuda berwarna putih yg di beri nama little Nisa.
"What!itu nama asli ku kak!"Nisa memekik tidak terima,bibir nya mengerucut kesal.
"Iya-iya,aku tau bukan kah itu sangat lucu"Renald terkekeh pelan mendengar ucapan protes sang adik.
"Biru!tuan William Smith sedang terbang ke Amerika sekarang"biru yg sibuk menunggang kuda mengeryit, wajah nya mendadak berubah pias.
"Aku merindukan nya"biru menatap berkaca-kaca.
"Kau bisa menemui nya.masalah tidak akan selesai dengan berlari dari kenyataan biru."king mafia yg duduk di atas tikar bersama cucu nya,ikut membuka suara.
"Ya.aku ingin menemui Nya"biru mengangguk kan kepala nya sangat patuh.
"Besok"biru mengulas senyum sangat lebar.
***
Keesokan hari nya.
Hotel XV.
William baru sampai di Washington DC beberapa jam yg lalu.
Hotel XV menjadi pilihan nya untuk menginap,selain karena fasilitas yg sangat mewah,juga karena William memiliki saham di hotel ini.
Hening.di dalam kamar yg sangat lebar ini,hanya ada keheningan yang melanda.
"Entah kenapa.aku merasa kau ada di sini Biru, mungkin kah karena aku terlalu merindukan mu"William menatap ke arah luar jendela,di mana pemandangan indah dari atas kota Washington DC terlihat.
Menenang kan,di tambah lagi dengan matahari yg mulai terbenam menambah kesan sangat indah dari ibu kota negara Amerika serikat ini.
Dari pada berlalut-lalut dalam kediaman dan keheningan nya,William memutus kan untuk berjalan-jalan sore.
Taman menjadi tujuan pertama William.duduk di bangku taman,sembari menyesap sebotol air dingin.
"Aku sangat merindukan mu"William bergumam secara perlahan, kepergian biru seakan menyiksa bathin nya selama ini.
"Daddy!"suara tidak asing terdengar menyapa gendang telinga William,begitu menoleh,mata nya berbinar penuh kebahagiaan.
Rossi berdiri tidak jauh dari William sembari mengulas senyum lebar,berlari cepat memeluk erat tubuh sang Daddy.
"Rossi.kau di sini?"William terdiam,mata nya langsung menganak sungai.
"Daddy aku benar-benar membenci mu.kenapa Daddy ingin menikah lagi,pada hal Daddy sudah punya mommy dan kami?"Rossi terisak.
"tidak son, siapa yg mengatakan itu.daddy tidak sejahat itu sehingga bisa mendua kan mommy dan juga kalian"William berlutut di hadapan Rossi, menggenggam erat tangan sang anak.
"lalu kenapa grandma bersikap jahat pada mommy.mommy juga seorang ibu,mommy tentu tidak mau kehilangan adik xavier.mommy tidak salah apa-apa dad,I know mommy tidak ingin kehilangan putra Nya,andai saja grandma lebih faham"
Rossi menghela nafas pelan,dada nya terasa sangat sesak.dia menumpah kan segala keluh kesah yg ia miliki.
dia benar-benar kecewa pada sang grandma,wanita tua itu terlalu egois untuk rossi.
"sayang,Daddy hanya mencintai mommy.mana mungkin Daddy berpaling.cinta tidak bisa di paksa son,sekuat apapun grandma ingin memaksa,Daddy hanya mencintai mommy mu"William menggenggam erat tangan Rossi.
"bagaimana kau bisa ada di sini?lalu di mana mommy dan juga saudara kembar mu Rosse?"William menoleh kesana-kemari,ia mencari-cari keberadaan sang istri.
"mommy takut bertemu dengan Daddy sekarang,grandma mengancam akan membunuh kami.mommy tidak mau aku dan Rosse terluka"
tangan William mengepal erat,dia tidak menyukai sikap sang mommy yg terlalu ikut campur kedalam rumah tangga nya.
ingin rasa nya William menampar sang mommy,namun dia didik untuk tidak menyakiti wanita,kecuali ratu tentu nya,wanita itu sedang menjalani hukuman dari William,di kurung di tengah hutan.
"grandma jahat,grandma bahkan mengirim seseorang untuk membunuh kami"Rossi terisak,ketakutan jelas melanda,dia ingat bagaimana anak buah nyonya Lisa mencoba membunuh Nya.
"apa salah mommy karena adik tiada?mommy tidak tau apa-pun dad,jika mommy tau tentu mommy lebih memilih untuk menyelamat kan adik dari pada nyawa nya sendiri"William hanya mampu terisak, perkara Rossi seakan menampar dan memaksa diri nya untuk kembali kepada kenyataan hidup.
# Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
__ADS_1
Author balik lagi yah guys
Like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen and vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote,vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE vote vote vote vote.