
FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.
HAPPY READING.
Menjelang malam.
Mobil pribadi milik willliam memasuki halaman luas nona Kim, setelah seharian penuh bersama dengan Rosse dan Rossi setidak nya bisa mengobati rasa rindu William kepada anak-anak yg baru ia ketahui keberadaan.
Turun dari mobil,dengan Rosse yg tertidur di dekapan nya,William hendak melangkah masuk ke dalam rumah pribadi milik nona Kim.
Memencet bel,tidak lama pintu kembali terbuka,menampil kan Nisa dengan pakaian tidur berwarna putih pucat.
"Beri kan Rosse pada ku"Nisa mengambil Rosse dari dekapan William,lalu mempersilah kan tamu-tamu nya untuk masuk, ketika William mengutara kan niat lain kedatangan nya,yaitu bertemu biru.
Rossi mengekori nisa menuju ke kamar mereka,biru sudah berdiri,lalu mendekap tubuh Rossi erat,sehari saja tidak bertemu dengan anak-anak nya,rasa rindu milik biru terasa sangat menggebu-gebu.
"Rossi,mandi lah sayang,mommy akan me-lap tubuh Rosse dulu!"Rossi mengangguk,lalu mulai berjalan ke kamar mandi untuk membersih kan tubuh Nya yg terasa lengket.
Biru membersih kan tubuh anak nya yg terasa lengket dengan handuk yg telah di rendam air hangat,memakai kan tubuh mungil Rosse dengan piama berwarna hitam.
Biru menoleh sejenak ke arah jendela,menghela nafas ketika mendapati mobil milik Steven yg tadi mengantar Rosse, sama sekali belum beranjak dari halaman depan rumah.
"Biru,tuan William ingin berbicara dengan mu"mengerat kan cengkraman Pada selimut,biru mulai tidak nyaman dengan pembahasan nona Kim, terutama tentang laki-laki itu.
"Aku tidak mau nona Kim"biru menjawab tanpa menoleh ke arah nona Kim,dia memilih mengalih kan pandangan nya ke arah jendela,membuang keresahan di hati nya.
"Temui dia!lari dari masalah bukan lah hal yg pantas"Nisa mengerat kan cardigan yg membalut baju piama nya,berlalu keluar untuk membuat kan minum bagi tamu-tamu nya.
Biru menoleh lalu menunduk ketika pintu kembali tertutup,sejenak dia merenungi makna dari perkataan Nisa, dia mengerti makna tersirat dari Nisa,gadis itu memerintah kan biru untuk sesegera mungkin menemui William.
Lari dari masalah bukan lah hal yg pantas.kata-kata itu terus-menerus berdengung di telinga Biru.
Rosse,biru memandangi wajah cantik sang putri yg sibuk berkelana di dunia mimpi,wajah Rosse yg sangat dingin karena tidak di perboleh kan bertemu dengan William,mendadak terlintas di fikiran biru.
Seharus nya, dia tidak boleh egois Dengan mengorban kan kebahagiaan anak-anak,demi trauma dan kebencian nya sendiri.
Melangkah penuh keyakinan,biru memutar handle pintu,melangkah ke arah ruang tamu,di mana terdengar suara orang berbincang-bincang di sana.
"Biru,duduk lah"Nisa tersenyum ketika melihat kehadiran biru,tentu saja dia tau tidak mungkin biru melanggar perintah nya.
William menoleh ke arah biru,jantung nya mendadak berdetak kencang ketika bertatapan langsung dengan biru, wanita yg telah ia hancur kan kehidupan nya dengan sengaja,walau pun berada di dalam pengaruh obat perangsang.
Biru memilih untuk duduk di dekat Nisa, menegak kan kepala nya,biru bersikap sok tegar dan sok berani,pada hal tangan nya sudah mengeluar kan keringat dingin.
"Tampak nya kalian membutuh kan waktu bicara berdua, sekertaris Steven aku membutuh kan bantuan mu"Nisa berdiri,melangkah pergi ke sebuah ruangan khusus,di ekori oleh sekretaris Steven.
Hening.
Setelah kepergian Nisa, sedikit pun tidak terdengar suara apapun,hanya deru nafas menjadi suara tersendiri.
"Biru maaf"biru memaling kan wajah nya,tentu saja dia tidak semudah itu memaaf kan seseorang, dia bukan wanita seperti di novel-novel yg akan dengan mudah memaaf kan laki-laki yg telah menghancur kan hidup nya.
"Aku tau aku salah,saat itu aku berada di bawah pengaruh obat perangsang"
__ADS_1
"Lalu!apa kah itu alasan yg pantas untuk memperkosa gadis tidak berdosa tuan!"
Sabar biru,kau tidak boleh kehilangan kendali.biru.
Bungkam.william tidak mampu menyangkal,jangan kan menyangkal menjawab saja dia tidak berani sedikit pun,William sadar di segala sisi dia lah yg salah.
Yg patut di salah kan adalah Willliam,yg seharus nya mendapat kan hinaan dari banyak orang adalah dia.
Tapi,William tau.Seberapa pun dia menyesal,tidak akan bisa membalik kan situasi,dia tidak bisa menata hidup biru yg berantakan, bahkan dengan ratusan juta kata maaf.
"Biru ku mohon maaf kan aku,ini semua memang salah ku"biru terisak,mengepal kan tangan nya geram,sejuta maaf pun tidak bisa membuat biru kembali memiliki apa yg menjadi impian nya.
"Anda menghancur kan mimpi saya untuk menjadi dokter bedah saraf tuan,anda memaksa saya untuk berhenti mengejar laki-laki yg saya cintai.anda membuat saya di usir dan si buang oleh ibu saya,anda terlalu jahat untuk di maaf kan"
William memandang penuh penyesalan ke arah biru, ibu dari anak-anak nya yg kini terisak,percaya lah hati willliam juga ikut terisak,seharus nya dia tidak boleh memikir kan keinginan nya sendiri,dan menghancur kan hidup gadis belia yg tidak tau apa-pun.
Akhir nya William mendekat ke arah biru, mendekap tubuh mungil milik wanita yg telah menjadi ibu dari anak-anak nya.
Biru hanya diam membiar kan laki-laki yg sudah tidak asing bagi nya untuk memeluk nya.karena biru sadar,dia butuh tempat untuk bersandar sejarah,dan William lah tempat nya.
"Kau menghancur kan hidup ku"biru terus memukuli dada bidang tempat nya bersandar,meluap kan segala rasa sesak yg selama ini dia pendam seorang diri,agar tidak ada satu pun orang yg tau.
"Maaf,biar kan aku bertanggung jawab"biru menarik diri dari pelukan William, menggeleng,dia tidak ingin mengenal lagi sesuatu yg Bernama cinta dan juga pernikahan.
Cukup lah cinta nya kepada Andi yg akan terus terpendam entah sampai kapan.rosse dan Rossi,cukup bagi biru ke dua anak-anak nya yg akan menjadi dunia nya,senyum tipis terukir di wajah biru, mengingat anak-anak nya yg sangat membuat diri nya bahagia.
"Cukup anggap mereka sebagai anak-anak mu,tidak lebih,biar kan kita berada di jalan masing-masing"biru menolak dengan sangat-sangat halus,seakan tidak ingin menyinggung perasaan william.
"Tentu,ku dengar dari Rosse,dia sangat merindu kan ku bukan,Daddy nya yg tampan?"
"Ya, setiap saat di selalu menanya kan tentang Daddy nya"biru menghela nafas, mengingat nya kepala biru mendadak langsung berdenyut hebat.
"Maaf, karena kau harus menanggung nya seorang diri nona biru"
"Mereka juga anak-anak ku"biru mengulas senyum manis, seakan tidak terbebani dengan keberadaan Rosse dan Rossi.
Senyum tipis terukir di wajah William, dugaan nya benar biru ternyata wanita yg lembut, ketika sudah saling mengenal,bukan wanita dingin dan kasar, seperti penilaian nya pertama kali.
"Bagaimana mereka hidup?mereka pasti kekurangan figur ayah kan?"William mendongak,untuk menatap reaksi biru, berharap mengangguk,tapi ternyata salah, biru malah menggeleng kan kepala nya.
"Tidak,mereka mendapat kan kasih sayang seorang ayah.bahkan ketika Rosse bisa berbicara, kata yg pertama kali di sebut adalah ayah.laki-laki yg pertama kali melantun kan adzan untuk nya,menemani nya tumbuh dalam dekapan nya, laki-laki itu lah cinta pertama dan ayah bagi Rosse"
Hati willliam sedikit tercubit,boleh kah ia iri pada laki-laki itu.laki-laki yg sangat beruntung, karena berhasil menjadi cinta pertama Rosse dan menyambut kehadiran Rosse di dunia ini, yg seharus nya menjadi milik William.
Jika biru dan William sudah mulai menghilang kan rasa canggung satu sama lain.berbeda dengan dua makhluk beberapa jenis di sebuah ruangan tidak terlalu besar.
"Nona,ada yg bisa saya bantu"Nisa tersentak kaget,dia terlalu sibuk dengan kegiatan nya, sehingga melupa kan ada laki-laki di dalam ruangan nya.
"Tidak"singkat.
Sumpah demi apapun, sekertaris Steven tidak suka di acuh kan dan tidak di anggap.walau pun biasa nya dia bersikap seperti itu kepada orang lain,tapi dia tidak menyukai ada seseorang yg seperti itu pada nya.
"Dia siapa nona?"rasa penasaran tidak lagi dapat di tutupi oleh sekretaris Steven, ketika netra milik nya melihat sebuah figura kecil, berisi laki-laki cukup tampan,rambut nya di sisir rapih.
__ADS_1
Nisa ikut menoleh,ternyata sekertaris Steven tengah memandang foto sang pujaan hati, sekertaris Wahyu.
"Sekertaris Wahyu"walau pun dingin tersirat rasa kehilangan yg sangat-sangat besar dari suara Nisa.
"Anda sangat mencintai nya ya?"bertanya tanpa ingin di jawab sebenar nya, sekertaris Steven terus memandang ke arah figura itu, tanpa memperduli kan reaksi wanita di samping nya.
"Jika saya tidak mencintai nya,untuk apa saya terlalu berduka karena kepergian nya?"jawab Nisa pelan.
Aku terlalu mencintai nya, hingga saat ini untuk mengikhlas kan nya saja aku tidak sanggup.cinta ku untuk nya benar-benar besar untuk nya,cinta yg harus terpisah kan oleh takdir tuhan.
Nisa terus memandangi foto sang pujaan hati,yg telah kembali kepangkuan illahi.
"Dia tampan,pantas saja anda menyukai nya nona"sekertaris Steven memberi kan sedikit pujian,agar hati gadis di sebelah nya sedikit tenang.
Anda ternyata sangat mencintai nya ya nona?.
Sekretaris Steven mengulas senyum tipis.Dia yakin Nisa sangat mencintai laki-laki tampan itu, terlihat dari manik nya yg sudah berubah berkaca-kaca.
"Saya tidak munafik untuk menyangkal nya"Nisa menjawab santai.
"Ternyata ini alasan anda menolak banyak laki-laki yg datang untuk sekedar singgah, laki-laki ini sangat beruntung, karena di cintai seorang wanita kaya dan pebisnis besar"
Diam.nisa tidak mendengar kan perkataan di ikuti dengan puji-pujian yg terus di beri kan sekertaris Steven pada nya,fokus nya melayang entah ke mana.
"Apa kah aku seberharga itu?"
"Iya"ternyata gumaman Nisa terdengar oleh telinga tajam milik sekertaris Steven.
"Oh ya nona Kim,ku dengar kau membuka cabang di new York?"sekertaris Steven kembali pada mode serius.
"Ya,cabang milik ku pribadi"Nisa kembali duduk di kursi tempat nya menyandar kan diri ketika rasa lelah menyerang begitu saja.
"Black rose,sumpah demi apapun nona,saya benar-benar terkejut ketika mengetahui anda lah orang nya"sekertaris Steven tidak bisa menyembunyi kan raut terkejut nya.
"Nona kim.di dunia atas,saya adalah nona kim"Nisa memang tidak suka jika ada yg menyebut-nyebut nama black rose jika dia sedang berada di dunia atas,bagi nya panggilan mengeri kan itu hanya berlaku di dunia bawah.
"Baik lah,anda nona Kim"Sekertaris Steven menjawab pasrah, membantah juga percuma.
"Sekretaris Steven,anda pintar bukan?bisa bantu saya mengechek nya?"Nisa mengeluar kan berkas berisi data-data pemasukan dan keuntungan semua cabang butik nya kepada Sekertaris Steven.
tanpa menjawab, sekertaris Steven mengambil nya,mulai mengechek lembar demi lembar berkas keuangan itu.
mata tajam nya terus memindai, sesekali dia tampak menyeruput teh yg di buat langsung oleh Nisa,rasa nya sangat pas di lidah laki-laki tampan itu.
"pantas saja anda kaya nona, ternyata keuntungan butik sangat lah besar"sekertaris Steven berdecak kagum ketika melihat keuntungan KNN boutique,yg dari bulan ke bulan selalu bertambah.
"ya!semua nya karena para karyawan"seperti biasa Nisa terlalu tidak menyombong kan diri,walau pun ada perjuangan keras,di balik sukses nya KNN BOUTIQUE, yaitu tangan dingin Nisa,yg membuat butik hampir bangkrut itu kembali bangkit,dengan nuansa baru.
"laki-laki kelak yg akan di jodoh kan tuhan dengan anda,pasti sangat-sangat beruntung"Nisa mengulas senyum tipis,walau pun ada sedikit rasa penasaran di hati nya, sekertaris Steven terlalu memuji nya sekarang.
sekertaris datar ini memuji ku?wah kejadian langka.seorang sekertaris Steven yg terkenal sulit di sentuh bahkan di dekati perempuan memuji ku.aku yakin kau sudah masuk dalam pesona ku sekertaris Steven,tapi maaf untuk saat ini,nama sekertaris Wahyu tetap melekat di hati ku.Nisa.
# Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
__ADS_1
Author balik lagi yah guys
Like like like like like like like like like like like like like like like like likelike like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen and vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote,vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE vote vote vote vote.