
FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.
HAPPY READING.
Smith hospital.
Para petugas medis berlarian ke sana kemari,setelah mendapat pemberitahuan siaga satu,yg arti nya ada anggota keluarga Smith yg sedang dalam bahaya.
Beberapa ambulan juga ikut di turun kan ke tempat kejadian perkara,para tenaga medis bersiap di depan pintu utama rumah sakit.
Dokter Vilton juga ikut bersiaga,dia tidak bisa datang ke acara ulang tahun,tapi apa saat sedang beristirahat di ruangan nya.dia malah mendapat kan kabar mengejut kan bahwa, terjadi kekacauan,tentu saja para petugas medis langsung kalang kabut berlari ke Mana-mana,termasuk dengan diri nya.
Beberapa mobil ambulance datang,di ikuti dengan mobil-mobil hitam berbaris rapih di belakang nya,brankar mulai di turun kan,semua orang terkejut ketika melihat siapa yg terbaring di atas brankar.
Seorang gadis cantik dengan gaun Lilac terbaring lemah,darah berceceran di sekitar brankar,di ikuti darah yg terus merembes keluar dari gaun.
Tidak lama,biru yg tengah menggendong Rosse,dan juga William yg menggendong Rossi.rosse sudah pingsan karena terlalu ketakutan dan juga trauma.
"Kalian tunggu apa!"bentakan dari sekertaris Steven Gerrard membuat para tenaga medis langsung berlarian, ada yg membawa Nisa kei gd,membaring kan si mungil Rosse di brankar, sementara Dokter Vilton,memilih untuk mengobati luka yg ada di tubuh William dan juga Steven.
Biru memilih untuk menemani Rosse yg sedang di periksa oleh dokter,di temani dengan William.
"Boy,are you oke?,mommy ada di sini jangan takut,semua akan baik-baik saja?"biru menangkup wajah tampan dari Rossi,memasti kan putra nya baik-baik saja.
Diam.rossi memilih untuk diam,mata sebiru laut milik nya yg biasa nya mengeluar kan aura dingin dan kejam berubah.sekarang hanya ada pandangan kosong,dan juga hampa, karena pria kecil itu masih sangat shock.
Rossi shock,tapi tetap tak ada ekspresi di wajah dingin nya.untuk pertama kali nya,dia melihat baku tembak secara langsung,bukan dari layar televisi.
Terekam jelas di ingatan Rossi,darah berceceran di mana-mana,suara pelatuk yg di tarik dan Juga suara timah panas bergantian,kini berdengung di telinga rossi.
Tubuh nya bahkan mengeluar kan keringat dingin,untuk pertama kali nya,Rossi mengeluar kan air mata,dengan cepat dia memeluk tubuh sang mommy.
"Sayang,its oke, semua baik-baik saja,ini hanya mimpi buruk,kau tidak perlu mengingat nya lagi sayang"biru mengelus punggung mungil milik Rossi pelan, berusaha menenang kan tubuh anak nya bergetar ketakutan.
"Rossi takut mommy"Rossi semakin mengerat kan pelukan nya di tubuh sang mommy,fikiran nya kini terbelah, antara khawatir pada kembaran nya Rosse,dan juga ketakutan nya.
"Tidak,semua akan baik-baik saja"biru menggendong tubuh putra nya,masih berusaha menenang kan Rossi.
"Biru,ayo Rosse sudah di pindah kan ke ruang perawatan"Biru mengangguk,menggendong Rossi masuk ke ruang VVIP di mana Rosse tengah terbaring lemah di sana.
"Ini sudah malam, berisitirahat lah sebentar Rossi,mommy akan menjaga mu"biru menurun kan Rossi di brankar tempat Rosse berbaring.
Karena sangat mengantuk dan juga lelah,Rossi merebah kan tubuh nya di sebelah sang kembaran.william yg melihat mereka sudah baik-baik saja, memilih untuk pergi,bertemu dokter karena ada beberapa bagian tubuh nya terdapat luka.
"William,tubuh mu juga terluka?"dojter Vilton yg sedang mengobati sekertaris Steven Gerrard di ruangan nya,terkejut melihat kehadiran William.
Tidak menjawab, laki-laki tampan itu melepas kan baju yg melekat di tubuh nya,nampak lah tubuh kekar,dengan perut kotak-kotak yg tergores senjata tajam.
Ternyata pertarungan tadi terjadi lumayan sengit, sehingga dua kubu sama-sama terluka.
"Duduk lah,aku akan mengobati mu nanti"William Diam tanpa membantah,merebah kan tubuh kekar Nya di sofa yg ada di ruangan pribadi milik Dokter Vilton.
"Sebenar nya apa yg terjadi, sehingga kalian datang dengan banyak luka di tubuh?"dokter Vilton bertanya,tanpa mengalih kan kefokusan nya dalam mengobati luka-luka yg ada di tubuh kekar sekertaris Steven.
__ADS_1
"Pedrik datang!"dokter Vilton terbelalak mendengar jawaban singkat dari sekertaris Steven, pedrik si pembuat onar itu datang,pantas saja keadaan jadi tidak kondusif lagi.
"What! seriously?, dia ketua mafia black angle datang?lalu kalian bagaimana?. kenapa masih hidup dan bernafas"
Tentu saja dokter Vilton tau dengan baik, siapa the king of black angle, laki-laki yg tanpa malu terus mengejar nyonya Lisa,bahkan setelah wanita itu berumah tangga.
Kekuasaan yg di miliki oleh pedrik juga tidak main-main,belum lagi keahlian nya dalam bela diri,tidak ada yg selamat jika sudah masuk dalam list target nya.
Tapi ini,ada yg aneh,Steven dan juga William hanya mengalami cidera,tidak sampai meninggal dunia,pada hal mereka telah bertarung dengan pedrik,ketua mafia black angle and the geng.
"Black rose datang!"Vilton hampir tumbang dari duduk nya,mendengar nama black rose saja membuat nya ketakutan setengah mati,dia tidak menyadari bahwa black Rosse adalah wanita yg sama yg ia lamar satu Minggu lalu.
"Black rose?oh astaga apa kah dia cantik?"jadi lah topik utama yg seharus nya membahas tentang pedrik dan anak buah nya, melenceng jauh hingga menjadi wujud dari seorang black rose.
Black rose,dari nama nya saja banyak orang yg langsung merinding,pada hal dia tidak pernah membunuh atau melukai siapapun,hanya saja kecerdikan, keahlian dan ketangkasan serta orang-orang yg berada di belakang nya membuat banyak orang takut,tak terkecuali dokter Vilton.
"Tentu, kau bahkan bisa terpesona"Steven hanya memasang ekspresi datar, walau pun sebenar nya luka yg sedang di obati oleh dokter Vilton, lumayan nyeri.
"Siapa dia?di mana Sekarang?aku sangat ingin bertemu dengan nya?"Dokter Vilton sampai melupa kan dia memiliki pasien lain yg menunggu.
"Selesai kan perkerjaan mu!"suara berat William menarik dokter Vilton dari rasa keingin tahuan nya,tentang sosok berpengaruh Black rose.
"Iya-iya"mem-berengut kesal.tapi tidak urung dokter Vilton menyelesai kan perkerjaan nya,lalu beralih pada William,mengobati luka-luka laki-laki itu.
"Tuan muda,mau saya beli kan makanan?"Sekertaris Steven sudah selesai berpakaian lengkap,dia turun,hendak membeli kan tuan muda nya makan malam.
"Hem,beli kan biru dan Juga Rossi"sekertaris Steven mengangguk, membuka hendle pintu,lalu tubuh tegap dan kekar milik nya menghilang di balik pintu.
"Kau tampak nya sangat menyayangi anak-anak biru,tuan muda"William memejam kan mata nya,enggan memberi kan jawaban,dia sendiri tengah berperang dengan fikiran dan juga hati nya.
Mata Rosse, bentuk wajah mereka,semua yg di miliki oleh Rosse dan Rossi sama persis milik nya,mungkin kah malam itu biru lah gadis yg ia culik dan perkosa.
William tengah menyambung kan puzzle demi puzzle,tidak di pungkiri hati nya juga yakin bahwa Rosse dan Rossi adalah anak nya,tapi sampai saat ini belum ada bukti yg kongkrit.
Tes DNA, kenapa kata itu baru muncul sekarang,di saat fikiran William tengah membelah karena beragam masalah yg menghampiri keluarga nya.
"Sudah?"tanpa mengucap kan terima kasih atau sebagai nya,William langsung memakai pakaian nya,lalu berlalu dari sana.
begitu keluar dari ruangan Dokter Vilton,tuan besar Smith sudah menghadang nya.
"Ada apa dad?"William memijit pelipis nya yg terasa pusing,di tambah sekarang,ayah nya tampak nya akan segera mengintrogasi.
"Daddy sudah mengambil rambut Rosse,menyerah kan nya pada tim medis,tapi mereka butuh kurang lebih satu Minggu untuk mencocok kan DNA kalian"
William langsung mendongak, ternyata tuan besar Smith bergerak cepat,arti nya bukan hanya dia yg menaruh rasa penasaran yg amat sangat, ternyata tuan besar Smith juga.
"Baik dad"hanya itu jawaban yg di keluar kan oleh William, laki-laki tampan itu melangkah pergi ke dalam ruangan di mana Rosse terbaring di brankar.
Ternyata Steven sudah meletak kan makanan untuk biru serta Rossi,melalui mata nya, William mengusir Steven.
"Ada yg ingin aku tanya kan nona biru"Sepergi nya sekertaris Steven,William bersiap mengintrogasi biru.
Biru hanya diam,dia bingung,mulai menerka-nerka pertanyaan dari William,dia benar-benar harus berusaha,untuk mengendali kan emosi dan perasaan nya,bersikap setenang mungkin.
__ADS_1
"Siapa ayah dari Rosse dan Rossi?"
Deg!
Benar tebakan biru.pasti William akan menanya kan hal itu,lalu sekarang,biru harus menjawab apa.mengatur nafas,biru bersiap untuk menjawab dengan tenang,dan juga berbohong dengan baik dan benar.
"Yg pasti bukan anda tuan muda"biru mengambil kata paling aman,demi meyakin kan William, biru menatap langsung manik mata lawan bicara nya.
"Jawab aku biru!apa kau wanita itu?"biru mengeryit pelan,apa jangan-jangan,tidak,tidak mungkin hal ini terjadi.
"Mommy"biru mendekat ke arah Rossi,putra nya ternyata sudah bangun.
"Sayang,bangun dulu kita makan malam"biru menggendong tubuh Rossi, menduduk kan nya di sofa,lalu mulai menyuapi sang putra.
Tak terasa lima hari telah berlalu,kini saat nya Rosse, Rossi,Nisa dan biru kembali ke Korea,walau pun mundur dari jadwal.
Kondisi Nisa memang belum benar-benar pulih,tapi banyak nya perkerjaan, menuntut nya untuk baik-baik saja.
"Ndak mahu mommy, Lousse mau sama uncle"biru mendesah kasar,putri nya tidak henti-henti nya menempel pada William,seakan tidak mau lepas, semua bujukan telah di coba biru,namun tetap hasil nya nihil.
Sedari tadi Rosse sama sekali tidak mau lepas dari dekapan William, kejadian kemarin masih menyisa-kan trauma tersendiri untuk nya, terkadang jika melihat benda-benda tajam sejenis pisau,Rosse akan langsung berteriak dan tubuh nya mulai bergetar hebat.
"Rosse ayo lah sayang, perkerjaan mommy masih banyak"biru terus berusaha membujuk Rosse,segala cara biru lakukan agar putri sulung nya ini menurut.
"Mommy Ndak boleh maksa!"Rosse tetap Keukeh berada di dalam pelukan William,ia enggan berpindah sedikit pun.
"Rosse"tatapan tajam dari Rossi tidak membuat Rosse bergeming sedikit pun.
"Lousse Ndak mau pulang! Lousse mahu di sini sama uncle"biru semakin kesal mendengar ucapan sang putri, di tambah ketika tangan Rosse semakin mengerat kan peluk kan nya pada leher William.
"Rosse,mommy tidak menyukai sikap mu yg seperti ini, mommy tidak pernah mengajari mu untuk membantah!"biru semakin menatap tajam ke arah Rosse.
"Mommy!lousse Ndak mau!"Rosse berteriak.
"Biar kan dia bersama dengan ku"biru mengepal kan tangan nya erat,jelas sorot tidak suka terpancar di wajah biru, seorang ibu mana yg rela anak nya di ambil oleh orang asing.
Tanpa banyak bicara,biru langsung mengambil paksa Rosse,membuat rengkuhan Tangan mungil di leher tegap milik William terlepas,Rosse menangis kencang, sebagai bentuk Protes atas tindakan sang mommy yg terkesan memaksa.
"Dia putri ku,jadi orang asing di larang ikut campur"biru berujar tegas dan lantang,mata nya menyirat kan ketidak sukaan yg sangat terlihat.
"Permisi tuan, dokter Vilton datang"belum Juga William membuka suara, seorang maid datang membawa pesan,jika dokter Vilton sudah datang.
"Aku datang untuk menyerah kan hasil tes DNA"melihat tatapan memati kan yg di keluar kan William, membuat dokter Vilton langsung menyampai kan alasan pribadi nya datang ke mansion Smith.
Biru membelalak,tangan nya mengepal erat,sekuat tenaga ibu muda itu tengah mengatur emosi nya yg mendadak meledak, mengetahui ada laki-laki asing yg tiba-tiba melakukan tes DNA pada anak-anak nya.
William mengambil sebuah amplop putih dengan logo Smith Group, membuka dengan tangsn bergetar hebat,sebuah kertas berisi tes DNA terpampang di hadapan William.
Manik mata nya menahan,mengamati hasil tes demi tes yg telah di lakukan,hingga tiba lah dia pada hasil sesungguh nya.
Hasil nya adalah...........
# Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
__ADS_1
Author balik lagi yah guys
Like like like like like like like like like like like like like like like like likelike like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen and vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote,vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE vote vote vote vote.