Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 8


__ADS_3

Flashback on


Arthur membuka matanya perlahan menatap sekeliling ruangan, dirasakan kepalanya berdenyut karena banyaknya minuman keras yang ditenggaknya semalam. Dia mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Setelah banyak minum dan mabuk berat, Arthur terdiam menundukkan kepalanya di meja bersama dengan para teman-teman kuliahnya.


Semuanya sudah tak terkendali, ada yang sudah pergi memesan kamar, ada yang masih minum, ada pula yang menari-nari di lantai dansa meski mereka sudah tak bisa berdiri tegak. Meski sudah mabuk, Arthur bukan tipe pria yang akan membuat keonaran.


Dia lebih banyak diam di tempat dan akan tiba-tiba tertidur pulas. Ji An yang tak banyak minum masih setia duduk di sisi Arthur karena pria itu membatasi ruang geraknya. Dia tak diizinkan pergi dari sisinya barang sedetikpun apalagi melihat tatapan liar teman-temannya yang menggoda gadis itu sejak dia datang.


Ji An ingin pulang namun jemari tangannya digenggam erat oleh Arthur dan mau tak mau Ji An tetap duduk.


"Sudah malam Art, aku harus pulang. Besok aku masuk pagi." pinta Ji An berusaha melepaskan genggaman tangan Arthur.


Arthur menoleh menatap Ji An sendu. Meletakkan jemarinya yang bebas membelai pipi Ji An.


"Kau sangat cantik." guman Arthur yang hanya bisa didengar Ji An.


"Aku harus pulang Art?" lirih Ji An. Arthur mengecup bibir Ji An sekilas.


"Manis." guman Arthur.


Ji An terbelalak. Itu adalah ciuman pertamanya. Kini Arthur telah mengambilnya. Wajahnya memerah tersipu malu. Ji An menutup bibirnya tak percaya dengan perlakuan Arthur. Untung kau mabuk, kalau tidak aku...aku... batin Ji An dengan wajah yang semakin memerah saja di benaknya terlintas hal mesum.


"Kita pulang!" tarik Ji An memapah tubuh besar Arthur, tak ada temannya yang bisa dimintai tolong karena semua mabuk dan tak sadarkan diri.


Ji An sudah mengantisipasi hal ini. Dia membawa tubuh besar Arthur dibantu penjaga club malam. Ji An tak tahu harus dibawa kemana, dia tak tahu dimana apartemennya. Dia juga tak mungkin membawanya pulang ke kosannya. Ji An menghampiri sang bartender club itu mungkin memberikannya solusi.

__ADS_1


"Ah, ada kamar sewa diatas, jika anda tak keberatan." jelas bartender pria itu.


"Ah, begitukah. Bisa bantu memesan satu kamar untuk temanku?" pinta Ji An menunjuk Arthur yang sudah terbaring di sofa club malam dan tentu saja hingar-bingar musik di club terasa membahana.


"Tentu. Penjaga!" seru bartender itu memberi kode pada salah satu penjaga yang kebetulan lewat.


"Ya."


"Bantu nona ini membawa temannya ke kamar nomor sebelas!" Penjaga itu menoleh pada Ji An, dia pun mengangguk membantu memapah tubuh Arthur ke kamar yang dimaksud bartender tadi.


"Terima kasih tuan, terima kasih." ucap Ji An berkali-kali menundukkan kepalanya. Penjaga itu meninggalkan kamar itu hanya balas menundukkan kepalanya.


"Maaf, aku harus pulang. Aku terpaksa meninggalkanmu disini, aku tak tahu dimana kau tinggal dan aku tak mungkin membawamu ke kosanku." ucap Ji An setelah melepas sepatu Arthur.


Namun tangan Ji An ditarik Arthur hingga Ji An terbaring di ranjang dan Arthur menindih tubuhnya meski masih ditahan dengan kedua lututnya.


"Art, kau mabuk, lepaskan aku, please!" pinta Ji An memelas berusaha melepaskan diri dari tindihan tubuh besar dan kekar Arthur.


Kancing kemeja Arthur yang sudah terbuka beberapa membuat Ji An meneguk ludahnya kasar. Bagaimana pun dia gadis normal dan juga dewasa. Dia juga menginginkan sentuhan juga. Namun tidak dalam keadaan mabuk, dia mau dalam keadaan sadar, besok pagi Arthur pasti melupakan semuanya dan menganggap bahwa kejadian yang tidak diinginkannya mengada-ada atau hanya bualannya.


Ji An tak mau sakit hati pada pria yang dicintainya. Ya, Ji An sesungguhnya juga mencintainya, namun tak bisa menerima perasaannya. Ucapan papanya masih terngiang di telinganya, namun sejurus kemudian dia berpikir untuk mencari cara agar dapat membatalkan keinginan papanya itu.


Dalam kesibukannya berpikir, Arthur mencium bibirnya lembut, Ji An tersentak. Arthur melakukannya dengan lembut membuat Ji An terbuai, diapun membalas ciuman Arthur dengan kaku karena ini pertama kalinya dia berciuman. Arthur yang merasa mendapat balasan dari ciumannya melakukan lebih dalam ciuman itu.


Melu*mat, menghi*sap dan melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut Ji An, mengobrak-abrik isi mulut Ji An semakin kasar dan liar. Efek mabuknya membuatnya semakin bernafsu tinggi. Kedua tangannya sudah menjelajah menelusuri lekuk tubuh gadis itu. Desahan yang lolos dari bibir mungil Ji An semakin membuat Arthur melancarkan serangannya.

__ADS_1


Dia dengan lihai melucuti seluruh pakaian Ji An, begitu juga Ji An, dia membantu Arthur melepas pakaiannya. Kini keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi di tubuh mereka. Tatapan mata keduanya saling bertautan dengan nafas memburu, wajah Ji An yang sudah memerah menahan malu karena baru pertama kalinya dia telan*jang di depan seorang pria.


Namun kabut gairah membuatnya semakin ingin Arthur segera memulai kegiatan mereka. Arthur mencium bibir Ji An lembut, semakin terus melu*mat bibir itu penuh nafsu. Desahan Ji An memenuhi kamar kecil itu membuat Arthur semakin melancarkan aksinya.


Dia sudah bersiap diantara kedua paha Ji An menatap bagian inti tubuh Ji An yang membuat semakin bergairah. Dia segera menghentakkan tubuhnya masuk ke dalam tubuhnya. Rasa sakit yang mendera Ji An membuat Arthur merasa bersalah, dia pun mengecupi seluruh wajahnya agar dapat mengurangi rasa sakitnya. Tanpa sadar air mata Ji An mengalir karena rasa sakit itu.


"Maaf, aku mencintaimu..." bisiknya mulai menghentak kembali tubuhnya merasakan sesak dan terjepit sempurna di bawah sana.


Keduanya kini sudah bergelung kenikmatan, desahan-desahan yang lolos dari mulut keduanya tak menyurutkan keduanya untuk terus berpacu dalam kenikmatan yang entah sudah berapa kali Ji An mencapai pelepasannya, namun Arthur masih belum terlihat akan selesai dengan cepat.


Bahkan berbagai macam posisi dilakukan Arthur untuk menjamah seluruh tubuh gadis yang dicintainya itu. Entah sudah berapa kali juga Arthur mengulang untuk terus menghentakkan tubuhnya ke dalam tubuh gadis itu yang sekarang sudah terkulai lemas di wajahnya.


Terlihat wajah kelelahan pada keduanya yang sudah tak sadarkan diri. Terdengar nafas beraturan pada kedua insan yang telah melakukan penyatuan semalam suntuk.


Kini Arthur sudah terbuai dalam mimpi indahnya. Kenikmatan yang direguknya membuatnya tersenyum bahagia sambil mendekap tubuhnya dari belakang gadis yang sudah direnggut kesuciannya itu.


TBC


.


.


.


Maafkan typo

__ADS_1


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2