
Davin masih setia bergelung di ranjang sambil mendekap tubuh istrinya erat. Hampir setiap hari Davin menyerang istrinya meski dia pulang larut malam. Davin tak peduli meski istrinya terlelap. Dia sedikit memberikan foreplay hingga terdengar desa**n dan lenguhan dalam tidur lelap istrinya, dia mulai membenamkan intinya ke dalam kehangatan inti tubuh istrinya yang terasa mencengkeram erat meski sudah berkali-kali dimasukinya.
Hal itu membuat Davin merasa candu untuk menginginkan lagi, lagi dan lagi tubuh seksi istrinya. Dia benar-benar menepati janjinya menanam benihnya dan menginginkan benih itu segera menjadi calon bayi mereka. Davin sudah tidak sabar akan hal itu.
Davi menggeliat merasakan berat di pinggangnya dan tubuhnya serasa remuk redam karena serangan suaminya setiap saat setiap waktu. Bahkan setiap luang selalu menyerangnya. Bahkan tak jarang Davin pulang siang-siang hanya karena adik kecilnya minta dipuaskan. Davi tak menolaknya, meski menolaknya hanya akan mendapat kekasaran dari suaminya.
Hingga akhirnya Davi mencoba menerimanya sebagai tugas kewajiban seorang istri. Seperti tengah malam tadi, suaminya pulang pukul satu siang setelah mengunjungi proyek di luar kota. Padahal rencana suaminya ingin menginap jika tak cukup waktu untuk pulang. Namun tubuh istrinya yang bagai candu membuat Davin menuntut sopir pribadinya mengantarkannya pulang ke villa tepat jam satu pagi dia sampai.
Setelah bebersih secukupnya, dia langsung mengusik tubuh istrinya meski telah terlelap. Entah kenapa Davi merasa hanya dijadikan budak nafsu oleh suami sahnya.
Hingga setelah perjuangan kerasnya, Davi mampu melepaskan belitan lengan suaminya. Dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri sebelum suaminya menyerangnya lagi.
Davi menatap dirinya di dalam cermin kamar mandi. Wajahnya terasa lelah dan mengantuk. Tampak kantung mata hitam menggantung di pelupuk matanya menandakan dia kurang istirahat dan kurang tidur.
"Sayang.." Teriakan Davin membuat Davi tersentak di dalam kamar mandi.
"I..iya..." Jawab Davi gugup.
Jegrek...
Jegrek...
Suara pintu kamar mandi dibuka paksa namun tidak terjadi karena Davi menguncinya.
"Kenapa dikunci?" Tanya Davin tidak sabaran.
"Sebentar..." Jawab Davi setelah merapatkan bath rope kamar mandi.
__ADS_1
Cklek
"Ada apa? Kenapa lama sekali?" Tanya Davin sambil mendekap tubuh istrinya menciumi leher jenjang istrinya yang terasa wangi yang disukainya.
"A .. aku.. lapar..." Bisik Davi membuat Davin spontan melepas dekapannya.
"Tunggu aku mandi sebentar! Kita sarapan di bawah bersama." Titah Davin langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Davi memilih untuk mengambil sebuah dress motif bunga lengan panjang hingga bawah lutut yang sedikit longgar.
"Lepaskan!" Ucap Davin yang tiba-tiba muncul di belakang Davi di dalam walk in closet kamar mereka.
"Ah..." Davi tersentak kaget saat segitiga bermuda miliknya dilepas paksa oleh suaminya.
"Biarkan kupakai untuk saat ini saja. Milikku... terasa perih..." Lirih Davi di akhir kalimatnya sambil menundukkan kepalanya malu dengan wajah yang memerah.
"Benarkah? Apa aku terlalu kasar semalam?" Tanya Davin mendekati tubuh istrinya yang spontan membuat Davi mundur hingga kepentok ke sofa tunggal yang ada di dalam walk-in closet namun masih muat jika untuk diduduki dua orang dengan tubuh kecil.
"I...iya..." Jawab Davi sedikit meringis karena tubuh bawahnya saling menggesek. Masih dengan menundukkan kepalanya malu.
Sudah beberapa hari yang lalu sebenarnya dia ingin mengatakan keluhannya itu pada suaminya. Pasalnya setiap tidur malam dan jika suaminya di villa. Davi tidak diizinkan oleh suaminya memakai pakaian dalamnya meski bagian atas maupun bagian bawahnya. Suaminya akan menghukumnya jika hal itu dilanggar.
Pernah sekali Davi lupa dengan peringatan suaminya. Saat itu dia sangat lelah hingga lupa melepaskan pakaian dalamnya saat dia mengganti dengan lingerie yang menjadi pakaian wajib tidur malamnya. Suaminya langsung menggempurnya tanpa foreplay hingga menjelang pagi. Membuat seluruh tubuh dan miliknya sangat sakit dan perih.
Hingga Davin mengirimkan dokter wanita ke villa untuk memeriksa kondisi tubuh istrinya pasca 'penganiayaannya'. Untung saja besoknya Davin tak pulang ke villa karena ada pekerjaan yang harus diurus di luar kota hingga dia terpaksa menginap hingga dua hari tanpa menyentuh tubuh istrinya.
Davin sangat emosi dan uring-uringan saat itu. Dia mendesak untuk segera pulang namun pekerjaannya sangat darurat dan genting. Hingga terpaksa dia harus bermain solo di dalam kamar mandi hotel tempatnya menginap di luar kota.
__ADS_1
"Biar kuobati, salepnya masih kan?" Tanya Davin menatap sekeliling mencari keberadaan kotak p3k.
"A.. aku bisa sendiri." Tolak Davi cepat, membuat Davin sontak menoleh menatap istrinya yang wajahnya yang sudah merah semakin memerah. Apalagi Davin tersenyum mes** menggodanya.
"Kenapa? Kau masih malu? Bukannya kita sudah saling melihat satu sama lain berkali-kali?" Goda Davin menggoda istrinya yang semakin malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ku... kumohon.. hentikan! Se... setidaknya.. berikan jeda..biar tidak perih..." Jawab Davi membuat Davin tergelak lucu mendengar tingkah istrinya yang malu-malu.
"Aku malah semakin ingin jika kau menolaknya." Goda Davin lagi tersenyum menggoda.
"Ku... kumohon...sayang..." Davi mencoba memberanikan diri memohon pada suaminya. Suaminya pernah mengatakan, rayu dia jika kau menginginkan sesuatu, mungkin akan aku pertimbangkan. Itulah yang dicobanya saat ini.
Davin terdiam, entah kenapa dadanya berdegup kencang mendengar kata sayang dari bibir istrinya langsung.
"Baiklah. Tapi... lusa... aku tak akan melepaskanmu." Bisik Davin di dekat telinga istrinya dengan senyuman miring.
Dia pun meninggalkan walk in closet setelah mengambil beberapa stel pakaiannya. Dia memutuskan untuk bekerja hari ini karena istrinya mengeluh kesakitan pada intinya. Dan itu membuat Davin kesal. Namun di tak mungkin memaksanya jika memang sakit.
Tubuh Davi membeku mendengar bisikan yang terdengar ngeri di telinganya. Makna dari tidak akan melepaskannya membuat Davi merinding. Dia menyesal telah menolak tawaran suaminya untuk membantunya mengobatinya. Jika suaminya tahu keadaannya sedang tidak baik.
Suaminya juga tak akan tega menyentuhnya melihat dia sakit. Davi tak mungkin kembali menarik ucapannya.
.
.
TBC
__ADS_1