
"Masuk!" titah Davin saat mendengar pintu ruangannya diketuk.
Davi membuka pintu menatap atasannya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Davi menunjukkan raut wajah bingung, karena atasannya tak menatapnya sama sekali.
"Sebentar!" ucapan Davin masih serius dengan laptopnya tanpa menatap Davi.
Davi memberengut kesal, pasalnya dia sudah janji untuk makan siang dengan kekasihnya dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Tapi sepertinya atasannya itu masih sibuk dengan laptopnya.
'Harusnya manggilnya habis makan siang kenapa sih? Aku kan harus makan siang dulu.' batin Davi mendumel kesal yang tak mampu diucapkannya.
Hingga sampai lebih lima belas menit berikutnya, Davin masih sibuk dengan laptopnya dan sepertinya dia terlupa kalau Davi sedang menunggu titah selanjutnya yang bahkan tak diizinkan beranjak dari ruangannya.
"Pak..."
"Ayo makan siang!" ajakan Davin yang menyela ucapan Davi membuat Davi melotot tak suka.
Bayangkan, sejak tadi dia dikacangin, saat mau protes dengan seenaknya langsung mengambil keputusan seenaknya.
"Maaf pak saya..."
"Saya tidak terima penolakan." tegas Davin sambil memakai jasnya beranjak meninggalkan ruangan yang diikuti Davi dengan sangat terpaksa.
***
Disinilah mereka restoran langganan Davin saat dirinya makan siang, menyajikan menu-menu yang disukainya. Davin kembali sibuk dengan ponselnya saat mereka sudah duduk di kursi reservasi Davin yang agak privasi.
"Mau pesan apa tuan?" Davin mendongak menatap pelayan dan beralih menatap Davi yang masih kebingungan sambil mengutak-atik ponselnya.
Mungkin sedang membatalkan janjinya dengan kekasihnya. Dan senyum seringai Davin menghiasi bibir sensualnya. Ya, Davin tadi tidak sengaja mendengar Davi yang diyakini Davin adalah kekasihnya karena kata-kata mesra dan panggilan sayang keluar dari bibir mungil Davi.
Dan tanpa sadar Davin menguping pembicaraan mereka setelah meninggalkan ruang meeting. Tangan Davin mengepal erat dan rahangnya mengeras saat mendengar jika mereka berdua janji untuk makan siang bersama. Dan alhasil, Davin menggunakan kekuasaannya untuk menahan Davi makan siang bersama saat ini.
"Kau pesan apa? Pilih sesukamu! Dan aku seperti biasa!" ucap Davin pada Davi dan beralih pada pelayan yang diangguki olehnya dan Davin sibuk lagi dengan ponselnya sambil tersenyum misterius.
__ADS_1
Dalam hati Davi, dia ingin ngomel-ngomel dan menggerutu pada atasannya itu dan memaksakan kehendaknya untuk menurutinya makan siang bersamanya.
"Ehm... kenapa saya bapak ajak makan siang?" tanya Davi yang sejak tadi penasaran karena sepertinya atasannya sengaja membuatnya batal untuk makan siang dengan kekasihnya.
Namun Davi ingin meyakinkan kalau perkiraannya salah tentang hal itu, makanya kini dia menanyakan untuk lebih jelasnya.
"Saya gak suka makan sendiri." jawaban Davin membuat Davi melongo.
Oh ayolah! dia punya asisten setia yang selalu menempel setiap hari. Tak mungkin mereka tak makan siang bersama setiap hari. batin Davi masih tak terima jawaban Davi yang terkesan beralasan.
"Fero sedang di luar kota mengurus hal penting jadi dia akan kembali malam." jelas Davin lagi seolah tahu isi pikiran Davi.
Jleb
Itulah yang dirasakan Davi merasa isi hatinya dapat dibaca oleh atasannya.
"Ehm... itu tak masalah sih, asal saya ditraktir." jawab Davi tanpa rasa bersalah meski sebenarnya mukanya memerah.
Davin tersenyum tipis melihat reaksi Davi yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Tak bisa seperti itu juga dong pak?" seru Davi kesal.
"Kau berteriak padaku?" ganti Davin yang berteriak pura-pura marah.
"Ah, maaf pak... maafkan saya yang lancang." ucapan permintaan maaf Davi malah membuat Davin tergelak dan seketika membuat Davi terpesona dengan gelak an tawa Davin yang tak pernah dilihatnya selama menjadi atasannya.
Davi terbengong menatap Davin, yang ditatap seperti tersadar akan sesuatu dan langsung berdehem untuk menetralkan tawanya. Dan untungnya bersamaan dengan itu, pesanan mereka sampai dan pelayan menatanya di meja dengan tatapan kagum pada Davin. Davin hanya menatap datar dan dingin pada pelayan itu.
**
"Ya?" ponsel Davin berdering saat baru saja memarkirkan mobilnya di halaman parkir gedung perusahaannya.
Dia masih bertahan di dalam mobil menerima panggilan itu. Davi yang melihat atasannya masih sibuk dengan ponselnya berniat keluar mobil lebih dulu. Namun sepertinya Davin tak membiarkan hal itu terjadi. Dia masih belum membuka kunci otomatis pintu mobil itu yang berada di sekitar kemudi mobil.
Davi mendesah kesal, melihat Davin yang tak kunjung selesai dengan ponselnya yang terlihat sangat serius hingga Davin sempat mengumpat kesal pada yang di seberang telpon. Davi terdiam tak mau mengeluarkan suara takut Davin terganggu. Hingga lebih dari lima belas menit, Davin menutup ponselnya dengan masih tatapan kesal.
__ADS_1
Cklek
Suara otomatis kunci pintu mobil terbuka. Davi pun bergegas membuka pintu yang didahului Davin sudah berjalan menuju lift khusus executive yang diikuti dengan berlari-lari kecil di belakang Davin yang meninggalkannya dengan langkah lebarnya. Davin masih sibuk dengan ponselnya menghubungi seseorang. Davi hanya terdiam di dalam lift yang hanya ada mereka berdua.
"Davi."
"Eh iya pak."
"Siapkan semuanya, kita ke kota xx sekarang juga. Carikan penerbangan paling awal!" titah Davin sambil keluar menuju keluar dari dalam lift tanpa menunggu jawaban dari Davi. Davi terdiam masih mencerna ucapan Davin.
"Pak, tunggu!" seru Davi menarik lengan Davin membuat Davin berbalik menoleh menatap lengannya yang dipegang erat dengan jemari lentik Davi.
Dan ganti menatap Davi lekat menunggu ucapannya. Davin tak marah dengan pegangan tangan Davi, Davin hanya terkejut Davi memegang lengannya dengan erat karena dirinya saat ini masih sibuk menghubungi ponselnya, dan mungkin itulah yang menyebabkan Davin berani meraih lengannya karena dirinya mungkin sudah dipanggil Davi dan tak mendengarkannya.
"Ah, maaf pak!" Davi melepas jemarinya karena menyadari kalau dirinya sudah memegang lengan itu erat.
Namun Davin malah menarik jemari tangan Davi masuk ke dalam ruangannya sambil dirinya masih menyelesaikan panggilannya. Davi terkejut dan sontak mengibaskan pegangan tangan Davin yang tak bisa semudah itu dilepaskan. Davi berontak karena merasa bersalah mengingat dirinya sudah punya kekasih. Apa hubungannya coba?
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Davin setelah menutup ponselnya.
"Oh, itu... tapi tolong lepaskan dulu pak?" pinta Davi berusaha melepas jemarinya yang digenggam erat Davin.
Davin hanya mengedikkan kedua bahunya tanpa melepasnya tersenyum samar.
"Maksud bapak tadi, pergi sekarang, kita...?" ucapan Davi berhenti melihat Davin yang menatapnya intens.
Davi salah tingkah, dadanya berdetak keras dan wajahnya mungkin sudah memerah karena tatapan Davin yang sarat akan cinta. Namun Davi tak mau besar kepala atau ke PD an, mungkin saja dia salah mengartikan.
"Kita berdua, kau dan aku. Mungkin kita akan menginap disana karena kelihatannya masalahnya lebih gawat dari perkiraan." jelas Davin lembut sambil mengelus pipi Davi yang entah sejak kapan keduanya kini berdiri intens saling menempel.
Davi sempat terjerat pesona Davin yang seolah menantangnya. Namun sesaat sebelum Davin berhasil mempertemukan bibir mereka, Davi segera melepaskan genggaman tangannya dan pamit keluar ruangan ruangan sebelum mereka kelepasan.
'Ah, hampir saja. Kalau saja tak merasakan sesuatu di balik celana itu. Mungkin kesalahan itu akan terjadi lagi. Maaf honey.' batin Davi menepuk-nepuk kedua pipinya. Dan karena itu pula dia tak sempat menolak ajakan atasannya itu.
"Sadarlah Davi kau sudah punya kekasih yang sangat kau cintai." ucap Davi memberi semangat pada dirinya.
__ADS_1
TBC