
Davi membuka matanya terkejut, dia sontak bangun dari tidurnya.
"Aww..." Pekiknya merasakan kesakitan di pangkal tubuhnya.
Mimpi buruk itu kembali menghantui Davi, pelecehan hingga pemerkosaan yang berakhir dengan direnggutnya kehormatannya oleh pria yang mengaku mencintainya itu membuat Davi lagi-lagi menangis terisak dalam kamar itu.
"Ayah... ibu..." Bisik Davi masih mempertahankan duduknya sambil mendekap lututnya, menangkupkan wajahnya ke dalam lututnya sambil menangis yang terdengar menyayat hati.
Dan lebih sakit lagi, pria yang sudah berani mengambil miliknya yang berharga meninggalkannya di ranjang sendirian seperti barang yang sudah tidak berguna lagi. Semakin membuat tangisan Davi semakin terdengar menyayat hati. Davi mengusap air matanya kasar.
"Aku harus pergi." Dengan langkah tertatih menuju kamar mandi.
Davi menyiram tubuhnya di bawah shower dingin berharap akan menghilangkan rasa kotor dari bekas sentuhan-sentuhan menjijikkan pagi tadi.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Beberapa pelayan yang diminta untuk melayani Davi masuk ke dalam kamar membuka pintu dengan kunci yang diberikan oleh tuan muda mereka.
Kepala pelayan tersentak karena tak mendapati calon istri tuannya ada di dalam. Kepala pelayan langsung mengintip di kamar mandi yang tertutup.
Tok tok tok
"Nona, nona... apakah anda ada di dalam?" Tanya kepala pelayan itu sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Namun tak ada jawaban. Dia hanya mendengar suara shower kamar mandi menyala meski lirih. Kepala pelayan menunggu sejenak, berpikir mungkin sang nona sedang mandi dan tidak mendengar panggilannya.
Namun sudah lebih dari setengah jam, tak ada tanda-tanda pintu kamar mandi akan dibuka ataupun air shower berhenti mengalir. Kepala pelayan menatap beberapa rekannya sambil menganggukkan kepalanya. Tuan mudanya berpesan untuk melayani sang nona dengan baik tanpa kurang suatu apapun.
Cklek
__ADS_1
Kepala pelayan menatap sekeliling kamar mandi.
"Nona!" Seru kepala pelayan cemas dan panik melihat tubuh Davi sudah terkulai lemas di lantai di bawah guyuran shower air dingin yang diperkirakan sudah lebih dari setengah jam.
Kepala pelayan segera mematikan shower sambil menyentuh wajah Davi dan langsung tersentak kaget karena merasakan dingin seluruh wajah, leher dan tangannya serta tubuhnya yang telanjang.
"Cepat bantu aku!" Titahnya menatap para pelayan yang langsung diangguki dan mendekat membantu membopong tubuh Davi dan dibaringkan ke ranjang yang sudah dibereskan pelayan lain tadi saat kepala pelayan menunggu Davi di depan pintu kamar mandi.
"Kamu! Cepat hubungi dokter Stefan." Titah kepala pelayan menunjuk pada salah satu bawahannya.
"Baik nyonya kepala!" Jawabnya langsung meraih gagang telepon rumah yang ada di kamar itu.
Kepala pelayan dan beberapa pelayan lain mengambilkan piyama untuk Davi dan menyelimuti tubuhnya serapat mungkin agar tetap hangat. Sambil membaluri seluruh tubuh Davi dengan minyak angin agar semakin hangat. Sambil menunggu dokter pribadi tuan muda datang.
***
"Mari dokter!" Kepala pelayan menyingkir agar dokter Stefan dapat memeriksa kondisi tubuh Davi.
Dokter Stefan mengernyit melihat gadis asing ada di kamar majikannya. Matanya langsung beralih pada kepala pelayan seolah bertanya padanya.
"Cepat dokter, semoga belum terlambat saat kami menolongnya." Bukan jawaban yang diinginkan dokter Stefan yang dikatakan kepala pelayan.
Namun dokter Stefan bergegas segera memeriksa gadis itu yang terlihat tidak baik-baik saja. Matanya sembab, rambutnya berantakan. Sekitar lehernya terdapat banyak bercak merah yang diyakini dokter Stefan kalau gadis ini habis 'diserang' oleh majikannya. Dia hanya menghela nafas berat.
'Kau terlalu kejam dan bernafsu Davin. Kasihan sekali gadis ini.' Batin dokter itu sambil memeriksa keadaan tubuhnya.
"Bagaimana dokter?" Tanya kepala pelayan setelah melihat dokter Stefan selesai memeriksa.
__ADS_1
"Dia hanya kelelahan dan mengalami hipotermia. Berikan kehangatan padanya sampai tubuhnya hangat. Dan sepertinya dia mengalami kekerasan fisik di setiap bagian tubuhnya. Aku akan memberikan resep." Jelas dokter Stefan sambil menghembuskan nafas kasar.
"Baik dokter." Jawab kepala pelayan.
"Oh ya, dimana Davin?" Tanya dokter Stefan dengan informal.
"Tuan muda sore tadi berangkat ke Kore* untuk perjalanan bisnis." Jawab kepala pelayan.
"Apa dia juga tahu apa yang terjadi pada wanita ini?" Tanya dokter itu lagi.
Kepala pelayan hanya diam. Dan dokter langsung mengerti dengan kebungkaman kepala pelayan karena itu artinya sudah cukup baginya untuk ikut campur.
"Ini resepnya. Dan sampaikan pada tuan mudanya untuk memperlakukannya dengan lembut kalau tak ingin dia sakit lagi."
"Baik dokter." Jawab kepala pelayan langsung meminta bawahannya untuk mengantar dokter Stefan keluar dari villa.
***
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Davin begitu dia sampai di bandara dan dalam perjalanan pulang ke mansion kakeknya yang sekarang hanya diurus oleh beberapa pelayan.
Sedang kedua orang tuanya dan adik-adiknya tinggal di mansion orang tuanya sendiri.
Sore tadi, Davin mendapatkan kabar dari orang tuanya yang sedang perjalanan bisnis ke Eropa karena ada yang harus diurus. Jadi papa Davin meminta Davin ke Korea untuk mengurusnya karena dia tak mungkin meninggalkan urusannya di Eropa yang belum selesai.
Davin terpaksa mengiyakannya karena tak mungkin adiknya akan mampu melakukannya karena masih labil dan memang menolak mengurus perusahaan.
"Baiklah. Awasi terus! Mungkin aku agak lama disini!" Jawabnya sambil memejamkan matanya karena merasa kesal tak ada di sisi gadis ah bukan wanita kesayangannya.
__ADS_1
TBC