
Acara pertunangan yang akan diadakan keluarga Aftano dua minggu lagi sudah menyebar di kalangan rekan bisnisnya. Namun siapa nama calon juga siapa nama putra keluarga Aftano juga belum resmi diumumkan tapi sudah gempar di kalangan bisnis. Semua orang sudah bisa menebak siapa calon mempelai pria yang dimaksud putra keluarga Aftano kalau bukan Matthew Davino Zion Aftano. Putra pertama Arthur Zion Aftano yang juga cucu dari Ferderian Zion Aftano pendiri Aftano corporation yang namanya sudah terkenal sejak beliau masih hidup. Yang dikenal karena ketegasannya dalam memimpin dunia bisnis. Yang sekarang menurun pada cucunya Matthew Davino Zion Aftano.
Brak
Davin membuang majalah bisnis yang menampilkan tentang pertunangannya yang bahkan tidak disetujuinya itu. Fero terdiam berdiri di dalam ruangan Davin tak jauh dari tempat Davin berada berdiri menatap keluar jendela kaca. Pemandangan lalu lalang mobil di jalan raya yang terlihat kecil dari jendela tersebut.
"Siapa yang menyebarkannya?" Tanya Davin masih berusaha mengendalikan emosinya agar tidak meledak.
"Saya tidak bisa melacaknya tuan." Sesal Fero.
Davin memijit pelipisnya merasakan pening di kepalanya. Dia sudah bisa menebaknya siapa yang melakukan hal itu kalau bukan suruhan orang tuanya. Orang tuanya hanya ingin menunjukkan padanya kalau mereka tidak main-main dengan keputusan pertunangan itu.
Davin bukannya menolak sepenuhnya. Dia hanya tak mau berita ini terdengar istrinya bukan calon mantan istrinya. Bagaimana pun dia sedang hamil, Davin tak mau dia berpikir kalau dia mengkhianatinya setelah mengatakan akan melakukan apapun untuk anak yang dikandungnya. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri tidak mau berhubungan dengan wanita manapun sebelum anaknya lahir dengan sehat dan selamat di dunia ini.
"Sudah sampai mana berita ini tersebar?" Tanya Davin lagi.
"Seharusnya semua orang yang mengenal keluarga Aftano sudah melihatnya." Jawaban Fero sekali lagi membuat Davin frustasi.
"Bagaimana jika semua ini benar-benar terjadi?" Davin menatap Fero penuh arti. Fero terdiam masih belum paham maksud ucapan Davin.
"Jika itu harus terjadi, tidak ada pilihan lain untuk anda tuan muda." Jawab Fero yakin.
"Kau yakin?" Tanya Davin menatap Fero tajam. Seketika Fero bungkam sontak menutup mulutnya.
"Saya..."
"Apa kau yakin akan menjadikan kekasihmu sebagai tunanganku?" Seru Davin membuat Fero terdiam menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Maaf tuan." Lirih Fero merasa bersalah.
"Selesaikan segera! Aku tak mau merebut hal yang bukan hak ku." Jawab Davin berbalik menatap kembali ke luar jendela dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya mengepal kuat.
"Maaf tuan. Bukannya kami ingin merahasiakan... tapi..."
__ADS_1
"Lakukan yang kukatakan! Aku tak mau ada kesalahan." Potong Davin tanpa menatap wajah Fero yang terdiam.
"Baik tuan." Fero segera keluar dari ruang kerja Davin sambil menghela nafas panjang dan berat.
"Sepertinya kau sangat tertekan." Ucapan Su Jin yang tiba-tiba muncul di hadapan Fero membuatnya mendongak menatap kekasihnya yang baru didapatkannya beberapa waktu lalu itu.
"Tuan muda mengetahui hubungan kita." Su Jin melotot menatap Fero.
"Kau yang mengatakannya?" Ucap Su Jin.
"Sepertinya dia mengetahui segala hal yang terjadi pada kita." Su Jin sontak menutup mulutnya terkejut.
"Termasuk saat kita mabuk?" Fero mengangguk penuh penyesalan karena dia lupa satu hal, apartemen tuan mudanya itu penuh cctv tersembunyi yang sengaja dipasangnya untuk keselamatan tuan muda.
"Aku sungguh bodoh." Sesal Fero mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kasar.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Su Jin yang wajahnya tiba-tiba memerah saat mengingat pergulatan panas mereka disaksikan secara langsung oleh pria yang disukainya sejak kecil itu meski sekarang Fero lah yang menggantikannya.
"Hati-hati." Fero mengangguk sambil berlalu.
***
Davi terdiam di sofa kamarnya menatap berita viral di layar ponselnya. Tawa getir terdengar di dalam kamar minimalis milik Davi. Hari ini dia malas keluar rumah setelah sarapan. Harapannya ingin istirahat lebih lama diurungkan karena banyaknya notifikasi pesan viral yang mengatakan.
PUTRA KELUARGA AFTANO AKAN BERTUNANGAN.
Davi ingin membanting ponselnya jika dia tak ingat kalau itu adalah kenang-kenangan satu-satunya pemberian suaminya. Meski dia mengiyakan dan menyetujui perceraian itu dia masih mencintainya suaminya itu. Tanpa sadar air matanya mengalir deras tanpa dimintanya hingga terisak sendiri di kamarnya terdengar menyayat hati.
"Begitu cepatnya kau melupakanku?"
"Seperti inikah cinta yang kau maksud?"
"Kalau tahu begitu sakitnya mencintaimu lebih baik aku melupakanmu."
__ADS_1
Gumaman terdengar diantara isakan tangis di kamar Davi membuatnya tak mampu membendung kesedihannya lagi. Tangisan terdengar kencang di kamarnya membuat bi Sum langsung berlari menuju kamar nona majikannya. Bi Sum juga sudah melihat berita itu terlihat dari ponsel yang digenggam Davi.
Dia juga mendapat amanah dari kurir pengantar makanan Davi tadi untuk menemani Davi karena mungkin akan ada berita yang mengejutkan tentang suami nyonya. Dan kurir itu berpesan untuk mengatakan kalau berita itu tidak benar sepenuhnya. Namun Davi terlalu cepat mengambil kesimpulan sendiri kalau hal itu sungguh menyakitinya.
Tok tok tok
"Masuk bi." Titah Davi setelah dia terlihat tenang.
"Ada tamu non." Beri tahu bi Sum.
"Siapa bi?" Davi menebak kalau tamunya adalah pengacara dari pihak suaminya yang mungkin mengantarkan surat sah perceraiannya.
"Masih muda non, bibi lupa menanyakan namanya. Dia hanya memaksa untuk bertemu nona." Davi terlihat menimbang mencerna dan menebak-nebak siapa tamu yang dimaksud. Kalau pengacara pasti bi Sum langsung tahu.
"Aku lelah bi. Kalau dia ada pesan suruh menghubungiku. Aku sedang malas untuk bertemu siapapun." Tolak Davi membaringkan tubuhnya dengan susah payah karena kehamilan lima bulannya yang sudah terlihat lebih membuncit di perutnya saja.
"Baik non." Bi sum pasrah jika nonanya sudah menolaknya bi Sum hanya harus menyampaikannya meski pria muda itu tak percaya.
Bi sum turun kembali ke bawah ke ruang tamu tempat tamu tadi berada.
"Nona sudah tidur tuan. Sepertinya dia capek." Tolak bi Sum membuat pria itu menghela nafas berat.
"Sampaikan padanya kalau saya Fero ingin bertemu. Membicarakan hal penting tentang berita itu. Suruh nona menghubungi saya bi!" Jelas pria muda yang ternyata adalah Fero, asisten kepercayaan Davin.
"Baik tuan." Jawab bi Sum sopan.
Bi Sum hanya menghela nafas panjang berdoa agar sang nona diberi kebahagiaannya. Bagaimana pun juga dia sedang hamil, bi Sum juga berharap nonanya bisa bersatu kembali dengan suaminya.
.
.
TBC
__ADS_1