
Davin mondar-mandir kesana-kemari di luar kamar tempat Davi dikurung. Setelah dokter datang melihat keadaan tubuh Davi yang mengenaskan, dokter mengusir Davin keluar kamar. Dengan dibantu kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya.
Dokter itu memeriksa kondisi pasien yang terlihat lemah itu. Bahkan saat dokter itu sampai, lagi-lagi Davi sudah keburu pingsan karena terlalu kesakitan.
Davin menanyai satu persatu pelayan yang keluar masuk dari dalam kamar dengan membawa sesuatu yang diperintahkan dokter di dalam. Namun semuanya hanya menggeleng tak tahu. Karena mereka hanya mengikuti perintah dokter.
Dan dokter pun muncul dari dalam kamar menatap Davin dengan tatapan cemas dan sedikit takut. Karena kepala pelayan yang ditanyainya tadi, Davin sangat bahagia dengan kehamilan calon istrinya.
"Ada apa? Bagaimana keadaannya?" Tanya Davin menatap dokter itu penuh selidik.
Karena wajahnya menyiratkan kalau Davi tidak baik-baik saja.
"Maaf tuan. Saya turut berdukacita. Nona mengalami keguguran. Mungkin karena janin terlalu lemah dan kurang asupan makanan. Dan nona sendiri sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Mungkin juga karena janin itu terlambat diketahui." Jelas dokter itu penuh penyesalan.
Davin terdiam terpaku. Dia sangat sedih, tentu saja karena itu harapan satu-satunya yang mungkin membuat Davi luluh dan akhirnya bisa menerimanya.
"Lakukan yang terbaik untuknya! Selamatkan hidupnya jika kau juga ingin selamat!" Ucap Davin tegas sarat akan ancaman juga pada dokter itu yang hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya dengan reaksi tuan muda.
Davin segera meninggalkan tempat itu tanpa melihat keadaan Davi yang masih belum selesai diatasi oleh dokter.
Kini Davin hanya duduk di dalam ruang kerjanya menatap kecewa. Dia lagi-lagi meneguk minumannya hingga entah sudah berapa kali dia minum-minuman haram itu. Itu adalah salah satu cara pelampiasan Davin. Setelah beberapa waktu lalu, kepala pelayan memberinya kabar kalau dokter sudah pamit dan Davi sudah sedikit lebih baik meski masih dalam keadaan terlelap.
Dokter tadi juga menjelaskan, kalau saja Davi segera dibawa ke rumah sakit dan dirawat dengan alat-alat yang memadai mungkin masih bisa diselamatkan. Namun karena keegoisan Davin yang tak mau Davi meninggalkan villanya dan akan diketahui banyak orang tentang keberadaan Davi, Davin melarang dokter itu membawa Davi ke rumah sakit.
Cukup merawatnya di villa itu saja dan dibantu beberapa pelayan. Namun karena keegoisannya itu, dia harus rela kehilangan janin yang bahkan baru berusia beberapa minggu itu. Davin meneguk minumannya lagi berulang kali meratapi dan menyalahkan dirinya sendiri karena dirinya janinnya keguguran.
"Hahahaha....." Tawa Davin menggelegar di dalam ruang kerjanya yang kedap suara itu.
Namun juga terdengar getir dan miris dalam tawanya itu.
***
__ADS_1
Sudah tiga hari pasca kejadian, Davi terdiam begitu mendengar kabar yang diceritakan kepala pelayan pagi itu. Dirinya sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Aku hamil... dan bahkan aku sudah kehilangannya sebelum aku tahu dirimu... maafkan ibu nak...hiks...hiks... maafkan ibu..." Bisik Davi sambil mengelus perutnya yang rata.
"Maaf nak, ibu tak tahu kamu ada di perut ibu...hiks...hiks .. maaf...maaf..." Bisik Davi lagi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dia menyesal karena menuruti keegoisannya menolak makanan yang disiapkan pelayan untuknya. Bahkan dia belum sempat mengetahui kabar kehamilannya dan sampai janin itu sekarang telah pergi meninggalkannya.
Davi sungguh menyesal sangat menyesal. Bahkan dia juga melakukan hal-hal yang berat termasuk melarikan diri berulang kali tanpa memikirkan janinnya yang sudah tumbuh. Dan kata kepala pelayan sudah hampir memasuki usia satu bulan dalam rahimnya.
"Maaf... maafkan aku...hiks...hiks..." Bisik Davi terdengar menyayat hati.
***
Davin terduduk di kursi kerja di kantornya. Setelah kejadian hari itu dia masih belum menemui Davi sama sekali. Dari kabar yang didengarnya dari kepala pelayan. Davi sudah sadar dan mulai makan makanan yang disiapkan pelayan tanpa menolak sedikitpun meski belum banyak yang bisa masuk ke dalam perutnya karena terlalu lama tidak makan makanan.
Selama ini Davi hanya mendapatkan asupan pengganti makanan dari infus karena dia sering pingsan karena tidak makan.
"Tuan, meeting segera dimulai." Ucapan Fero membuyarkan lamunan Davin.
Dia hanya mengangguk dan beranjak menuju ruang meeting.
***
"Nona, ini susu yang bisa memulihkan kondisi tubuh anda." Davi menoleh menatap kepala pelayan dan beralih ke minuman putih kental itu.
"Terima kasih bi." Jawab Davi lembut dan ramah.
Dia meraih susu itu dan meminumnya perlahan. Dia sudah lelah mengamuk dan berteriak. Dia akan menuruti apa yang dikatakan dan diberikan padanya. Baik itu ucapan atau makanan yang diberikan pelayan.
Dia sudah tak berniat untuk melarikan diri dari villa itu yang dia tahu hal itu tetap tak akan berhasil. Dia akan duduk diam dengan tenang, berusaha menerima keadaannya yang entah akan sampai kapan dia akan terus berada di tempat itu.
__ADS_1
Kepala pelayan itu tersenyum bahagia, melihat Davi menghabiskan susu yang dibuatnya. Setelah keguguran itu, sudah seminggu ini nonanya sangat penurut dan pendiam.
Kepala pelayan itu tahu, Davi sebenarnya gadis yang baik dan ceria. Namun keadaan yang terus menerus menekannya dan membuatnya mungkin frustasi atau tertekan di dalam kamar itu.
"Apa ada lagi anda butuhkan nona?" Tanya Kepala pelayan itu ramah dan sopan.
"Tidak. Terima kasih." Jawab Davi tanpa menatap kepala pelayan itu masih setia menatap keluar jendela.
"Kalau begitu saya pamit nona. Jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa menghubungi saya lewat telepon di meja nakas dengan menekan angka satu." Davi hanya mengangguk masih tanpa menoleh.
Kepala pelayan hanya menghela nafas panjang melihat nona mengacuhkannya.
***
"Sedang apa dia?" Tanya Davin saat pulang kerja memilih untuk datang ke villa setelah tiga hari tidak datang ke villanya.
"Nona hanya duduk diam di depan jendela tanpa bicara apapun setelah mandi tuan muda." Jawab kepala pelayan itu. Davin menghela nafas lega.
"Dia... baik-baik saja?" Tanya Davin ragu.
"Nona baik-baik saja. Dia sudah tidak mengamuk atau berteriak lagi. Bahkan nona melahap semua makanan yang saya siapkan!" Davin menghela nafas lega. Dia sangat mencemaskan beberapa hari ini tidak melihatnya. Dia masih merasa bersalah untuk menemuinya.
"Siapkan air untuk aku mandi!" Titah Davin menuju kamar yang ada di sebelah kamar Davi berada.
"Baik tuan." Jawab kepala pelayan itu mengikuti tuannya menuju kamar.
.
.
TBC
__ADS_1