Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 10


__ADS_3

"Apa?" Fero menjauhkan ponselnya saat tuannya berteriak di seberang telpon.


"Saya baru mendengar kabar tersebut dari orang kita tuan." Sesal Fero mendesah penuh penyesalan.


"Kau awasi terus, aku akan mengambil penerbangan besok pagi sekali." Jawab Davin mengepalkan tangannya.


Davin segera memesan tiket pesawat tujuan paling awal penerbangan. Dia harus mencegahnya, dan kejadian itu sudah terjadi sepuluh hari lalu. Dan lamarannya akan datang besok malam. Dia sungguh kesal karena tidak segera bisa langsung kesana.


***


Jam sepuluh pagi, pesawat mendarat di bandara internasional tanah air. Fero sudah menjemput tuannya di depan pintu keluar bandara.


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Davin terlihat tidak sabaran.


"Semua persiapan sudah selesai tinggal menunggu mempelai datang." Jelas Fero.


"Apa? Kau... apa yang kau lakukan sebenarnya?" Teriak Davin menghentikan langkahnya menatap tajam Fero.


Fero tak berani menjawab hanya menunduk terdiam merasa bersalah.


"Aku tak mau tahu hal itu terjadi. Kalau perlu culik dia. Dan bawa ke villa rahasia milikku. Bahkan keluargaku jangan sampai tahu." Titah Davin sambil masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintunya oleh Fero.


"Baik tuan." Fero menundukkan kepalanya ikut masuk kedalam mobil di sebelah sopir.


Dia memilih duduk menjauh dari tuannya karena yakin tuannya sedang tidak baik-baik saja.


***


Davi merenung di depan meja rias kamarnya. Sudah sepuluh hari ini dia tidak bisa menghubungi Davin. Dan tekad Gio yang tak bisa ditolaknya terpaksa menerima lamarannya. Dan sudah diputuskan pernikahannya seminggu kemudian karena Gio akan pindah ke luar negeri tempat perusahaan ayahnya yang harus diurusnya.


Gio terpaksa memajukan pernikahan karena ingin sekaligus memboyong calon istrinya yang hendak menjadi istri beberapa jam kedepan.


"Kau sudah siap nak?" Teriak ibu Davi dari luar kamar setelah mengetuk pintu.


"I..iya Bu, sebentar." Jawab Davi sambil mengusap air matanya yang entah sejak kapan menetes.


Jika memang Gio jodohku aku terima Tuhan. Mohon Davi dalam hati membukakan pintu kamarnya.


"Kok belum siap, tinggal tiga jam lagi Lo. Dan dua jam lagi MUA datang." Ucap ibu Davi melihat putrinya yang masih belum siap apa-apa.


"Masih panas Bu, sebentar lagi." Jawab Davi tersenyum lembut menatap ibunya.


Ibunya terdiam menatap Davi.

__ADS_1


"Bisa ibu masuk?" Pinta ibu Davi.


Dia langsung masuk begitu Davi masuk ke dalam lebih dulu tanpa menutup pintu. Keduanya duduk di tepi ranjang kamar. Ibunya meraih jemari tangan putrinya dengan lembut.


"Apa kau... bahagia nak?" Tanya ibu Davi lembut menatap Davi lekat.


"A.. apa... maksud ibu, tentu saja aku bahagia? Ini kan pernikahanku." Jawab Davi setengah gugup yang berusaha ditutupinya.


Namun insting seorang ibu bisa melihat dari sorot mata putrinya. Kalau ada sesuatu yang membuat hati putrinya gundah dan gelisah.


"Bagaimana dengan atasanmu itu?" Tanya ibunya yang mengejutkan Davi karena seolah ibunya bisa membaca pikirannya.


Padahal dia tidak pernah menceritakan pada ibunya. Hanya ayahnya saja, namun tidak seluruhnya.


"A.. apa yang ibu katakan?" Jawab Davi gelagapan membuang pandangannya ke arah lain.


"Davi, aku ibumu. Orang yang mengandungmu selama sembilan bulan lebih. Aku juga yang melahirkanmu nak. Ibu tahu betul, ada sesuatu yang mengganjal bukan?" Tanya ibu Davi membuat dirinya terdiam seketika.


"Tidak ada apa-apa bu. Aku hanya gugup, mungkin?" Jawab Davi setenang mungkin, tak mau membuat ibunya cemas.


Sejak kecil ibunya seperti cenayang saja baginya. Selalu tahu kegelisahannya.


"Baiklah kalau kau tak mau cerita pada ibumu." Ucap ibunya dengan nada kecewa.


Ibunya tampak menghela nafas panjang.


"Ya, sudah. Sekarang cepat mandi dan siap-siap. Jangan sampai terlambat!" Saran ibunya akhirnya.


Davi mendongak dan mengangguk mengiyakan saran ibunya kali ini.


***


Satu jam lagi acara segera dimulai. Davi sudah bersiap dan berdandan cantik. Gaun putrih menjuntai kelantai membuat dirinya semakin cantik saja. Ayah dan ibunya sudah berangkat ke tempat acara. Tinggal dirinya yang menyelesaikan dandanannya oleh MUA yang disiapkan dari pihak mempelai pria.


Kini dandanan itu sudah selesai dan sempurna. Davi tampak cantik, anggun dan mempesona. Dia berkaca di depan cermin seluruh badannya. Berputar-putar di depan cermin dengan senyum menghiasi wajah cantiknya. MUA pun meninggalkan kamar Davi menunggu jemputan untuk pergi ke tempat acara.


"Davin, selamat tinggal!" Bisik Davi lirih.


Dia sudah mengurus surat pengunduran dirinya kemarin. Dan sudah disetujui pula karena alasannya yang sudah jelas. Awalnya bagian HRD menyayangkan atas pengunduran diri Davi namun karena alasan yang harus membawanya meninggalkan tanah air membuat terpaksa mengundurkan diri karena dia akan ikut kemanapun suaminya pergi.


"Waktunya sudah siap. Mari kita berangkat nona!" Suara ketukan pintu diikuti instruksi dari seseorang di luar kamarnya membuatnya tersentak.


"Iya." Davi segera membuka pintu dan terdapat seorang pria yang mungkin saja sopir itu dikirim untuk mengantarkannya ke tempat acara pesta pernikahan.

__ADS_1


Davi mengikuti langkah pria itu turun ke bawah dan bersiap untuk masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan olehnya.


"Terima kasih pak." Davi mengangguk sopan saat hendak masuk ke dalam mobil.


Sopir itu tak menjawab hanya menunjukkan raut wajah datar.


Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata dan santai. Namun Davi di belakang tak bisa santai. Dadanya berdetak kencang karena gugup. Dirinya merasa bimbang, antara ragu dan yakin bercampur aduk. Dalam hati kecilnya ingin sekali berlari menuju tempat dimana Davin berada namun dia tak tahu harus menemui pria itu kemana.


Setidaknya dia ingin mengucapkan selamat tinggal pada cintanya. Ya, cinta... namun entah apa yang dirasakannya pada Gio saat ini, cinta atau suka, entahlah...


Saat melintasi jalanan yang dilewatinya, Davi sudah mulai mengernyit heran. Sepertinya ini jalanan yang asing? Batin Davi berpikir keras. Dia melirik sopir yang berwajah datar tadi. Dia mencubit lengannya memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi.


"Maaf pak, kok jalannya berubah ya?" Tanya Davi meyakinkan dirinya.


"Jalan biasanya sedang ada kecelakaan nona, jadi kita dialihkan ke jalan alternatif terdekat." Jawab sopir itu tetap berwajah datar.


"Tapi, kurasa terlalu jauh ya?" Tanya Davi lagi tak yakin dengan ucapan sopir tersebut.


Sopir itu hanya diam tak menjawab membuat davi semakin takut saja. Dia menoleh di sekeliling jok mobil mencoba mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan senjata jika sopir itu macam-macam padanya. Namun kosong, tak ada apapun yang bisa dijadikan senjata.


"Pak, tolong berhenti!" Davi memohon mungkin saja sopir itu mau berbelas kasih melepaskannya.


Bahkan dia tak membawa ponsel, tas atau dompetnya. Davi mulai panik karena sopir itu hanya diam fokus menatap jalanan yang semakin memasuki pepohonan seperti kawasan hutan. Davi mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil dengan kencang sambil berteriak panik minta tolong.


Namun sopir itu agaknya cuek tak menghiraukannya. Davi semakin cemas, air mata mulai menggenangi manik matanya. Davi mengusap air matanya menatap sekeliling luar mobil semakin jauh dari tujuan.


"Pak, please. Lepaskan saya pak! Saya... saya... salah apa sama bapak." Pinta Davi sambil berderai air mata dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.


Namun sopir itu tetap tak bergeming sedikitpun. Davi memaksa membuka hendel pintu namun tetap nihil. Terkunci rapat otomatis dengan pengendali di dekat kursi sopir. Davi mulai menangis kencang ketakutan. Didekapnya lengannya mencoba berlindung, namun semua itu sia-sia.


Hingga mobil berhenti di sebuah villa mewah di dalam sebuah hutan. Davi mencoba keluar dengan menarik paksa hendel pintu namun tetap percuma.


Meski sopir sudah turun menemui seseorang yang menunggunya di depan pintu villa membuat Davi terpaksa menghentikan tangisannya, mencoba menguping percakapan mereka namun dia tak mendengar apapun.


TBC


Hai-hai... aku mulai up lagi ya?


Semoga kalian masih setia membacanya...


Tetap tinggalkan jejak


Beri rate, like dan vote nya

__ADS_1


Makasih 🙏🙏


__ADS_2