
"Apa? Apa yang kau lakukan? Bujuk dia sampai mau makan!" Teriak Davin di seberang telpon kepala pelayan di villanya tempat Davi 'disekap'.
"Tapi nona tetap tak menyentuh tuan. Nona hanya terdiam duduk dengan pandangan kosong mengarah ke jendela hingga seharian penuh. Dia terlihat lemas, kurus dan wajahnya pucat. Saya kasihan jika harus memaksanya tuan." Rintih kepala pelayan menyerah karena sudah empat hari ini Davi menolak makanan yang disiapkan.
Seolah wanita itu sudah kehilangan semangat hidup. Dia tak terlalu semangat. Bahkan dia hanya menurut saat dimandikan dan dipakaikan pakaiannya. Tatapan matanya tetap kosong. Kepala pelayan itu takut jika tiba-tiba wanita itu pingsan tak sadarkan diri dan meninggal karena tak diisi apapun perutnya.
Sudah lebih dari setengah bulan Davin mengurus perusahaan ibunya di Kore*. Namun tak ada tanda-tanda masalah itu selesai. Dia sendiri tak bisa konsentrasi karena pikirannya terbagi mengingat kondisi kekasihnya tidak baik-baik saja seperti yang disampaikan kepala pelayan di villanya.
Pernah dia melakukan video call dengan Davi namun bukan ditanggapi oleh Davi dengan amarah atau teriakan. Gadis itu bukan wanita itu tak merespon apapun padanya. Dia seperti orang lain yang kehilangan jiwa kehidupannya. Dan yang didengarnya adalah rengekan menyebut ayah dan ibunya. Begitulah yang didengar kepala pelayan yang disampaikan padanya.
"Kau sudah menghubungi dokter Stefan lagi?" Tanya Davin.
"Dokter mengatakan kalau nona Davi stres dan depresi. Dia meminta saya menghubungi seorang dokter psikiater." Jawab kepala pelayan takut-takut.
"Kondisinya sekarang bagaimana?" Tanya Davin tetap datar dan dingin meski raut wajah cemasnya sedikit terlihat di matanya.
"Dokter hanya memberikan infus sebagai nutrisi pengganti makanannya tuan. Dan nona terlelap seperti orang...maksud saya... dia..."
"Kau jaga terus, aku akan sampai besok siang." Ucap Davin menutup ponselnya.
"Fero."
"Ya tuan."
"Siapkan tiket pesawat untuk pulang besok. Hanya aku, sementara kau urus semua disini. Aku percaya padamu." Titah Davin sambil mendongakkan kepalanya menyandar di kursi kerja ruangannya.
"Baik tuan." Fero memilih meninggalkan ruangan majikannya yang terlihat kusut dan gelisah dari pada akan menambah kekesalan tuannya nanti.
__ADS_1
***
"Bagaimana dia hanya meninggalkan sebuah surat tanpa kejelasan seperti ini yah?" Tanya ibu Davi saat ada surat yang katanya dikirim putrinya.
"Sabar buk, sabar... polisi juga sedang menyelidiki surat itu apa benar dari putri kita." Hibur ayah Davi yang tak kalah cemasnya dengan keadaan putrinya.
Dan dia yakin itu bukan tulisan putrinya meski hampir sama bentuknya. Ayah Davi yakin, putrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Ayah bilang sabar? Ini sudah setengah bulan yang lalu yah, bagaimana keadaan putri kita sekarang kita tidak tahu. Ayah tahu sendiri, putri kita tidak pernah seperti ini sebelumnya." Keluh ibu Davi membuat emosi jiwanya.
"Ayah juga tahu itu bu, kita juga sudah meminta polisi dan beberapa detektif untuk melacak dimana putri kita. Dan hasilnya nihil semua. Seolah memang sudah dipersiapkan agar tidak terlacak siapapun." Keterangan ayah Davi malah membuat ibu Davi semakin menangis histeris sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
***
"Bagaimana kondisinya saat ini?" Tanya Davin begitu dia tiba di villa miliknya.
Setelah pesawat yang ditumpangi mendarat, Davin langsung menuju villa karena mencemaskan keadaan calon istrinya. Dia sudah menyuruh seseorang untuk mengirim surat ke rumah orang tua Davi dengan berpura-pura surat yang ditulis Davi.
"Nona pingsan lagi tuan, sekarang dia sedang terlelap karena dokter memberinya obat tidur agar beristirahat." Jawab kepala pelayan.
Davin menghela nafas berat, menarik dasinya yang terasa mencekik leher.
"Aku akan melihatnya. Antarkan makanan saat dia sudah sadar." Titah Davin menuju kamar di sebelah kamarnya dan kamar tempat istirahat Davi.
Davin mengguyur tubuhnya di bawah shower kamar mandi dengan air dingin. Berharap dapat menghilangkan rasa cemas dan bersalah di dalam dadanya. Dia yang telah membuat wanita yang dicintainya mengalami hal seperti ini.
Namun tak ada cara lain lagi, dia terpaksa menggunakan cara kekerasan dengan memper**sanya secara paksa. Davin tak bisa kehilangan wanita yang sudah memenuhi ruang hatinya yang selama ini kosong.
__ADS_1
"Ah, ****." Umpatnya saat merasakan inti tubuhnya menegang membayangkan kejadian saat dia merenggut paksa kehormatannya.
Dan keadaan wanitanya yang terlihat lemah tak mungkin membuatnya memaksanya untuk melayani ***** bejatnya.
Cklek
Davin keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya selembar handuk yang melilit di pinggangnya menutupi inti tubuhnya. Tubuh sixpack yang menarik dan menggiurkan pasti membuat siapa saja menelan ludahnya kasar. Hanya kekasihnya yang tidak tergila-gila pada tubuhnya.
Davin mengambil kaos kasual putih tipis dan celana pendek kain yang terlihat pas di bentuk tubuhnya. Dia pun masuk ke kamar sebelah dimana Davi sedang beristirahat.
Cklek
Davin sontak melirik ke arah ranjang menatap wanitanya yang masih setia memejamkan matanya. Davin mendekat menatap tubuh ringkih itu. Pipinya tirus, matanya cekung dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya. Davin seketika merasa bersalah meninggalkannya saat pagi hari setelah merenggut kehormatannya.
Seharusnya dia menghiburnya sebentar, karena bagaimanapun juga pasti akan menyebabkan trauma saat melihatnya nanti. Davin meraih jemari tangan Davi yang tidak terpasang infus.
Menggenggamnya erat seolah takut terlepas. Namun tubuh lemah dan ringkih itu tak digenggamnya erat lagi seolah takut akan meremukkan tangan kecil nan mungil itu.
"Maaf.. sayang... maafkan aku..." Bisik Davin yang merasakan jemari tangan yang digenggamnya itu bergerak perlahan.
"Sayang, kau sudah sadar?" Tanya Davin antusias saat melihat mata Davi terbuka yang hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar itu.
Seketika wajah Davin kembali suram dan rasa bersalah kembali menyeruak di dadanya.
Maaf. Batinnya tersayang benda tak kasat mata.
.
__ADS_1
.
TBC