Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 36


__ADS_3

Ibu Davi terduduk di ranjang dengan tatapan mata kosong. Kabar mengenai putrinya tak pernah didengarnya lagi bahkan pencarian suaminya selama ini tak membuahkan hasil sama sekali.


"Ibu yang sabar ya?" Hibur ayah Davi yang sudah terlihat menyerah mencari putrinya, usahanya mulai bankrut karena tak diurus. Dia terlalu sibuk dan fokus pada pencarian putrinya yang sudah membuang banyak uang yang tak berujung apapun.


"Putriku yah, putriku dimana? Perasaan ibu tak enak. Apa putri kita baik-baik saja." Ucap ibu Davi putus asa. Setelah lama berdiam dia pun mengeluarkan suaranya baru kali ini.


"Kita berdoa semoga putri kita baik-baik saja Bu." Jawab ayah Davi terlihat putus asa menghibur istrinya.


"Dimana putriku yah, dimana dia? Hiks...hiks..." Tangisan ibu Davi semakin kencang saja. Selalu seperti itu hampir setiap hari dan berujung pingsan dan tertidur pulas.


***


"Apa masih belum ada perkembangan dok?" Tanya Davin pada dokter yang rutin memeriksakan keadaan Davi.


"Maaf tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun keinginan hidup nyonya sepertinya sudah menghilang. Sudah lebih sebulan nyonya koma. Sungguh keajaiban juga sampai saat ini bayi di dalam kandungannya sehat dan baik-baik saja." Jelas dokter itu tersenyum miris melihat keadaan Davin yang tidak terurus sama sekali.


Kumis tebal, jenggot yang mulai tumbuh lebat di dagunya. Meski tetap kelihatan tampan, tapi wajah putus asa tercetak jelas di wajahnya.


"Saya permisi tuan." Pamit dokter itu tak mampu bicara banyak meski sebenarnya dia harus mengatakannya namun melihat mata keputus asaan dari sang suami membuat dokter menunda untuk mengatakannya.


Davin terdiam sendiri di ruang ICU perawatan istrinya. Dia menatap tubuh lemah yang semakin kurus itu.


"Hei, bukan matamu istriku." Sapa Davin terdiam lagi.


"Kau mau pulang kan? Aku akan mengizinkanmu pulang ke rumahmu untuk bertemu orang tuamu." Ucap Davin lagi menjeda kelimatnya.


"Dan aku juga akan menceraikanmu. Mungkin itu akan lebih baik asal kau masih bernafas." Dada Davin semakin sesak saat mengatakan hal itu.


"Aku... akan pergi jauh darimu. Tak akan menampakkan diriku dihadapanmu atau keluargamu. Tapi... beri kesempatan kehidupan untuk anak kita." Bisik Davin sambil mengusap air matanya yang menetes tanpa izinnya.


"Maaf membuatmu menderita, maaf."


"Aku tak akan mengambil anak itu jika kau mau merawatnya. Tapi biarkan aku melihatnya meski dari kejauhan. Itu.. adalah buah cinta kita...tidak hanya buah cintaku...kau kan... sudah tidak mencintaiku." Bisik Davin lagi.


"Kalau kau tak menginginkannya jangan kau bunuh dia, berikan padaku, aku akan merawatnya dengan sepenuh hatiku seperti aku mencintaimu. Tapi jangan gugurkan dia, kumohon!" Bisik Davin menutup matanya rapat.


"Kau harus hidup lebih baik dan bahagia saat aku tidak berada di sisimu. Berjanjilah akan bahagia selamanya."

__ADS_1


"Aku akan tetap mencintaimu meski tak berada di sisimu. Sekarang bangunlah, jangan membuatku semakin merasa bersalah. Maaf...maaf..." Bisik Davin berdiri meninggalkan ruang perawatan ICU. Air mata tanpa sadar menetes dari sudut mata Davi saat Davin meninggalkan ruang perawatan Davi.


***


"Tuan baik-baik saja." Tanya Fero melihat Davin melamun sambil menatap berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.


"Ah, tidak apa-apa." Elak Davin sambil meneruskan pekerjaannya meski tak masuk ke dalam otaknya.


"Saya sudah mengurus apa yang tuan muda perintahkan. Kita hanya tinggal menunggu tanda tangan nyonya." Jelas Fero membuat Davin sontak mendongak menatap Fero.


"Pakai saja cap sidik jarinya!" Titah Davin mengalihkan pandangannya ke arah berkas-berkasnya.


"Anda yakin ingin mengakhiri pernikahan anda?" Tanya Fero menatap Davin yang terlihat tak bersemangat.


"Pergilah!" Titah Davin acuh.


"Apa itu juga menjadi keinginan nyonya?" Davin mendongak lagi menatap Fero tajam.


"Jaga batasanmu Fero!" Marah Davin menatap Fero nyalang.


"Kau hanya perlu melakukan apa yang aku perintahkan!" Jawab Davin.


"Apa dengan melepaskan nyonya, anda akan bahagia?"


"Asal dia bahagia." Davin pun menyerah dengan pertanyaan Fero.


"Apa nyonya akan bahagia dengan tuan melepaskannya?"


"Bukannya selama ini dia selalu ingin kabur dariku? Aku sudah melepaskannya, bukannya itu yang dia inginkan?"


"Tapi tuan..."


"Pergilah! Dan urus seperti apa yang kukatakan, termasuk tunjangan biaya hidup anakku dan dia." Usir Davin berdiri dari duduknya menatap keluar jendela kaca di ruang kerjanya.


Sudah lima hari ini Davin tak menemui Davi. Setelah dia meninggalkan ruang perawatan ICU Davi, dokter mengabari kalau Davi sudah bangun. Meski Davi masih linglung dengan apa yang terjadi padanya. Kabar kehamilannya membuatnya bersemangat hidup dan ingin merawat anak dalam kandungannya.


Davin sendiri betah berdiam diri di ruang kerjanya di perusahaan tak menemui istrinya yang baru saja siuman dari koma panjangnya.

__ADS_1


Davin malah mengutus asisten kepercayaannya Fero untuk mengurus perceraian mereka dengan tunjangan uang yang tidak sedikit untuk anak dan calon mantan istrinya itu. Davin memutuskan untuk melepas istrinya jika itu untuk kebahagiaannya.


Davin mulai membenahi dirinya yang terlihat buruk dengan cambang dan kumis tebal dia mencukurnya habis hingga terlihat Davin yang dulu. Dingin dan tajam dengan tampang datar yang terkenal dengan kekejamannya tanpa pandang bulu.


***


Davi lagi-lagi harus kecewa saat melihat pintu ruang perawatannya terbuka bukan suaminya yang muncul. Hanya beberapa perawat yang bergantian menjaganya. Bahkan kepala pelayan dan para pelayan di villa milik suaminya tak ada yang mengunjunginya setelah dirinya siuman.


Cklek


Seorang pria dengan jas mahal dan tas yang ditenteng di tangan kanannya masuk ke dalam ruangan Davi dirawat. Setelah mendengar dari dokter tentang keadaan Davi yang sudah stabil dan sehat. Pengacara itu langsung menemui Davi sesuai titah tuan mudanya.


"Selamat siang nyonya." Sapa pengacara itu basa-basi.


"Selamat siang tuan." Sapa balik Davi.


"Bisa kita bicara berdua?" Pinta pengacara itu sambil melirik kedua perawat yang menunggui Davi.


"Saya akan tunggu diluar nyonya." Kedua perawat yang merasa peka langsung pamit yang diangguki Davi.


"Silahkan duduk tuan." Persilahkan Davi pada pria paruh baya itu.


"Saya pengacara tuan Davi mengantarkan berkas untuk anda."


"Berkas? Untuk saya? Apa maksud anda?" Tanya Davi mengernyit heran.


"Silahkan dibaca!" Jawab pengacara itu menunjuk pada berkas yang baru diserahkan pada Davi. Davi menatap berkas dan pengacara itu bergantian. Dia merasa perasaan tak enak yang begitu mengganjal.


Davi membuka perlahan berkas itu. Seketika dia membelalak terkejut melihat berkas itu.


"I..ini... Bercerai?" Tanya Davi menatap pengacara itu tak percaya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2