
"Kau sudah menemuinya Davi?" tanya ayahnya saat melihat putrinya melintas di ruang keluarga hendak ke kamarnya secara diam-diam.
Davi langsung menghentikan jalannya begitu mendengar teguran ayahnya yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran.
"Dia sedang perjalanan bisnis yah?" jawab Davi gugup menunduk sambil berdiri di hadapan ayahnya.
Dia ingin segera berlari saja ke kamarnya untuk menghindari ayahnya. Dia tadi sudah menghubungi Davin, namun sepertinya ponselnya mati. Dalam benak Davi bertanya-tanya dimana Davin?
Ayahnya terlihat menghela nafas berat. Meletakkan kacamata bacanya.
"Apa kau berniat menolak Gio dengan alasan punya kekasih yang lain?" tanya ayahnya kurang puas dengan jawaban putrinya.
"Tidak ayah... sungguh tidak seperti itu..." elak Davi menggelengkan kepalanya kuat.
"Lalu?"
"Davin sungguh tak ada di rumah. Pelayan di rumahnya bilang, dia sedang perjalanan bisnis ke luar negeri." bela Davi menatap ayahnya yakin.
"Baiklah. Ayah tunggu sampai tiga hari lagi. Kalau Gio kemari, ayah akan coba mencari alasan." ucap ayah Davi akhirnya.
"Terima kasih ayah." Davi mendekati ayahnya dan memeluknya.
"Kau tidak sedang diphp nya kan?" tebak ayahnya.
"Tidak ayah, sungguh. Mungkin sekarang dia sedang sibuk dan tidak bisa memberi kabar padaku." bela Davi lagi.
***
Malam itu setelah pulang dari perjalanan bisnisnya ke pulau B, Davin mendapat kabar dari mamanya untuk segera pulang ke Korea, karena kakeknya sakit.
Dan tentu saja, Davin langsung pergi dengan penerbangan pertama malam itu. Bahkan mobilnya yang dikendarai sopir belum betul-betul sampai rumah. Dan dia harus mengutus sopirnya kembali lagi ke bandara.
__ADS_1
Sampai di bandara Incheon,
sopir keluarga kakeknya menjemputnya. Davin bahkan lupa menghubungi Davi sesuai janjinya setelah pulang dari pulau B. Saat hendak menyalakan ponselnya dalam perjalanan menuju mobil keluarga mamanya.
Ponsel Davin disenggol oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab yang tiba-tiba lari di depannya membuat ponselnya terlempar entah kemana. Sopir dan sekretaris papanya mencarinya di tempat yang mungkin terjatuhnya ponsel. Davin mengumpat kesal, karena bandara hari itu sangat ramai. Pasti akan membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menemukannya.
"Biarkan saja! Kita pulang." titahnya membuat orang-orang itu menunduk memberi hormat dan mengikuti langkah Davin menuju mobil mereka.
"Pinjam ponselmu!" titah Jo pada sekretaris papanya.
Sekretaris itu langsung gelagapan meraba tubuhnya dan berpikir kira-kira dimana diletakkannya ponselnya.
"Ini tuan." sekretaris itu menyerahkan ponselnya. Jo meraihnya dan membuka tombol panggilan.
"Ah, sial... aku tak nomernya." umpatnya kesal mengacak rambutnya.
Tak sampai satu jam mobil diparkir di halaman rumah megah yang bisa disebut mansion. Mansion milik kakeknya.
Yang juga ditinggali oleh orang tuanya dan ketiga adiknya, karena mamanya adalah satu-satunya putri kakek, jadi mau tak mau papa dan mama yang melanjutkan usaha kakeknya dan menemani kakeknya di masa tuanya tentu saja adik-adik laki-lakinya ikut membantu orang tuanya mengurus bisnis kakeknya.
Sedang adik bungsunya, dia sedang melanjutkan pendidikannya di London university. Davin sudah mengira semua orang pasti berkumpul disana.
"Matt..." panggil mamanya saat melihat Davin masuk ke mansion itu.
"Mama.." Davin memeluk mamanya menumpahkan kerinduannya.
"Hei boy .."sapa papanya yang juga sedang bersama mamanya duduk di sofa ruang keluarga.
"Papa..." Davin ganti memeluk papanya.
"Kau tak pernah mengunjungi kami, apa pekerjaanmu lebih penting?" protes mamanya mendelik pada Davin.
__ADS_1
"Mama kan tahu, hanya aku yang mau meneruskan bisnis opa, aku tak mau mengecewakan beliau." jawab Davin diberi senyuman oleh papanya.
"Aku merindukanmu, sayang." bisik Ji An di pelukan putra sulungnya.
"Ya, kami apalah... yang setiap hari bertemu. Pasti sudah bosan." protes si kembar Dika dan Diko yang tiba-tiba muncul dari arah tangga. Ketiganya menoleh ke arah suara.
"Dika, Diko..." seru Ji An pura-pura marah. Semuanya tertawa bersama.
"Hei brothers..." sapa Davin dan kedua adik kembarnya pun berlari memeluk kakaknya.
Ya, setelah Davin berumur sebelas tahun, mamanya melahirkan si kembar adiknya. Dika yang meneruskan bisnis kakeknya yang dibantu mama. Dan Diko lah yang sekarang menjadi artis KPop terkenal dengan nama panggung Zion Kim diambil dari nama tengah keluarga mereka Diko Zion Aftano dan Dika Zion Aftano.
"Hyung..." seru keduanya dalam pelukan sang kakak. Mereka tetap akur meski usia terpaut jauh.
"Oppa..." seru suara cempreng gadis kecil yang baru turun dari tangga langsung berlari ke pelukan Davin.
"Kau juga pulang?" tanya Davin saat melihat adik bungsunya, Kim Ji Won berlari memeluknya.
"Hyung, dia selalu bikin masalah di kampusnya." adu Dika bercanda.
"Tidak oppa, tidak seperti itu. Aku selalu menjadi gadis yang baik." rayu Ji Won sambil menatap Davin dengan tatapan puppy eyes nya.
"Ssshh... jadi benar?" tanya Davin tak tergoda rayuan adik bungsunya.
"Tidak, sungguh... Aku selalu mengingat nasehat oppa." jawabnya sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya pertanda peace.
"Bohong Hyung..." seru Diko ganti menggoda.
"Eomma... Appa..." seru Ji Won mengadu pada kedua orang tuanya.
"Dika, Diko..." keduanya malah tertawa saat Ji An menegurnya.
__ADS_1
Ji Won pun cemberut dan Davin mengusap sayang rambut Ji Won yang masih memeluknya. Begitulah keempat bersaudara itu. Sejak kecil, setiap si bungsu digoda kedua kakak kembarnya, Davin lah yang selalu membela adik bungsunya itu.
TBC