Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 41


__ADS_3

Hari pernikahan, para tamu undangan yang telah hadir menunggu prosesi pemberkatan. Arthur sudah berdiri di depan altar dengan seorang pendeta yang akan menjadi saksi pernikahannya dengan kekasihnya. Arthur terlihat tenang dan datar meski sebenarnya dirinya sangat gugup, dia pernah mengucapkan janji pernikahan saat menikahi siri kekasihnya itu beberapa waktu lalu.


Dan lancar-lancar saja saat dia mengungkapkan janji pernikahan. Namun sekarang mungkin karena banyaknya tamu undangan yang datang membuat Arthur gugup. Namun tak ada yang tahu isi hati seorang Arthur yang sebenarnya karena dia pandai menutupi rasa gugup, resah dan gelisahnya dengan sempurna karena hanya kesempurnaan yang akan ditunjukkan Arthur. Itulah sebabnya dia tak tampak raut kegelisahannya.


Pengantin wanita muncul di sisi berlawanan Arthur berdiri dengan digandeng oleh ayahnya berjalan mendekat dimana Arthur berada. Iringan musik klasik yang membuat suasana sakral hari itu. Saat Ji Sung sudah sampai mendekati Arthur, beliau menyerahkan genggaman tangannya pada sang menantu.


"Aku serahkan putriku sepenuhnya padamu." ucap Ji Sung dengan nada serak menahan air matanya jatuh.


Hanya mata yang berkaca-kaca agar dirinya tetap kuat untuk harus berpisah dengan putri tunggalnya.


"Ayah..." bisik Ji An tanpa sadar air matanya mengalir.


"Percayalah padaku ayah, aku akan membahagiakannya." jawab Arthur yakin dan tegas.


"Aku percaya sepenuhnya padamu." jawab Ji Sung menepuk pundak Arthur pelan.


Upacara pemberkatan pernikahan pun dimulai. Kedua mempelai menghadap pendeta untuk sama-sama mengucapkan janji pernikahan.


Hingga pendeta menyatakan kedua mempelai telah sah menjadi suami istri sehidup semati.

__ADS_1


"Silahkan pasang cincinnya!" ucap pendeta itu.


Masing-masing memasangkan cincin yang telah disiapkan Arthur jauh hari sebelumnya. Cincin berlian bertahtakan permata merah untuk sang pujaan hati. Kemudian mereka mencium saling mencium bibir sekilas sebagai tanda mereka sudah sah sebagai suami istri baik secara agama maupun hukum. Semua tamu undangan bertepuk tangan untuk kedua mempelai yang berbahagia.


Setelah pemberkatan pernikahan, resepsi acara pernikahan dilanjutkan di hotel milik keluarga Aftano. Disinilah kedua mempelai itu sekarang berdiri di pelaminan bagaikan raja dan ratu sehari menyalami semua tamu undangan yang hadir.


Hingga pukul sebelas malam acara pun selesai. Ji An kembali ke kamarnya karena sudah nampak kelelahan. Sedang Arthur masih menemui tamu undangan yang notabene adalah rekan bisnisnya yang turut hadir dalam acara pernikahannya. Sedang Matty diambil Ji Sung untuk menemani sang ayah mertuanya yang mulai hari ini akan sendiri.


Matty hanya menurut sesuai apa yang dikatakan sang papa dan mamanya namun orang tuanya tidak memaksa untuk harus menuruti. Matty pun memahami keinginan sang opa dan akan menginap di opa nya.


Cklek


Arthur mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mencoba mencari sosok istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar. Namun sejauh mata Arthur memandang tak menampakkan wajah istrinya ada di dalam kamar itu. Arthur masuk ke kamar mandi yang tidak terkunci.


"Baby...baby..." panggil Arthur mulai tak tenang.


Namun senyumnya langsung terpatri di bibirnya mendapati istrinya sedang berendam dalam bathtub kamar mandi dan ya, dia tertidur. Mungkin karena kecapekan dan pikiran beratnya juga menjelang pernikahannya. Arthur mendekat. Terpapanglah tubuh mulus istrinya tanpa busana dengan buih sabun yang tidak menutupi seluruh tubuhnya yang terendam dalam air.


"Kau capek ya?" bisik Arthur lembut di pipi istrinya, tak lupa satu kecupan di pipi dan kening istrinya lembut.

__ADS_1


Arthur membelai pipi istrinya lembut membuat sang empu membuka matanya perlahan merasakan kelembutan pada belaian tangan itu.


"Sayang..." bisiknya lirih mengecup telapak tangan suaminya lembut.


"Bersihkan tubuhmu, tidurlah di ranjang?" saran Arthur lembut.


"Tak apa, aku hanya sedikit berendam untuk meredakan rasa lelahku." jawab Ji An.


"Sudah lebih baiklah?" tanya Arthur masih setia membelai pipi yang mulai berani turun hingga mencapai dada istrinya dan memainkan areola istrinya membuat Ji An tanpa sadar mendesah kenikmatan.


Ji An mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Arthur mencium bibir istrinya yang merekah. Yang dibalas dengan luma*tan, hisap*an dan kulum*an yang semakin memanas. Merasa pasokan udara istrinya mulai menipis, Arthur melepas ciumannya. Nafas keduanya memburu. Ji An meraup udara sebanyak-banyaknya karena ciuman panas mereka.


Arthur mulai mencium bibir istrinya lagi, lagi dan lagi. Bahkan pakaian Arthur sudah terlepas semua dari tubuhnya. Dia pun ikut masuk ke dalam bathtub dengan menyalakan air hangat yang sudah mulai dingin tanpa melepaskan ciumannya.


Ciuman Arthur mulai turun ke rahang istrinya, leher mencecapnya, memberikan tanda kepemilikan yang tak hanya di satu tempat. Ji An mendongak nampak memberikan ruang untuk suaminya menikmati setiap jengkal tubuhnya.


Suara desahan mulai terdengar di dalam kamar mandi itu. Pasangan pengantin baru mulai malam pengantinnya yang panas dan bergairah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2