Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 38


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Davin mendarat di jam sebelas siang waktu setempat Kore*. Davin segera membawa kopernya bersiap untuk mencari taksi. Namun belum sampai keluar bandara. Seseorang yang dikenali sebagai orang kepercayaan mamanya membuat Davin urung untuk pulang sendiri.


"Selamat datang tuan muda." Sapa pria paruh baya itu sambil membungkukkan badannya sopan.


"Aku bisa pulang sendiri." Jawab Davin ngeloyor pergi tanpa memperdulikan pria itu.


"Saya mendapat titah langsung dari nyonya tuan. Mohon ikuti saya tuan!" Pinta pria itu memelas mengikuti langkah Davin dengan sedikit berlari. Karena langkahnya selalu tertinggal dengan langkah Davin yang lebar.


Davin menghentikan langkahnya ketika beberapa orang seperti pengawal yang juga mengikuti pria paruh baya itu. Davin berdecak kesal sambil menoleh menatap pria yang mengikuti dengan nafas tersengal-sengal itu.


"Maaf tuan. Ini juga menyangkut masa depan keluarga saya." Pria itu seolah mengerti arti tatapan kesal Davin padanya hanya mampu membungkukkan badannya lagi dengan sopan dan ramah.


"Aku bukan anak kecil lagi paman." Kesal Davin terpaksa mengikuti perintah mereka langsung masuk ke dalam mobil mewah yang disiapkan mereka. Setelah salah seorang pengawal meletakkan koper milik Davin di bagasi. Mobil pun melaju membelah jalanan kota Se*ul.


Davin menatap ke luar jendela kaca mobil menatap gedung-gedung di kota yang tidak banyak berubah itu. Dia memang belum ada setahun yang lalu kembali dari negara asal ibunya itu.


Tak sampai satu jam mobil terparkir apik di halaman mansion gedongan milik kakeknya dulu atau lebih tepatnya ibunya sebagai pewaris satu-satunya dalam keluarga Kim.


Davin keluar dari mobil setelah pria paruh baya yang dipanggilnya paman itu membuka pintu mobil untuknya.


"Kau sudah datang nak?" Sapa Ji An pada putra sulungnya, dia merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk putranya itu.


"Apa kabar ma?" Ucap Davin terpaksa menerima pelukan dari mamanya. Karena sebenarnya Davin sudah sangat malu untuk dipeluk seperti anak kecil oleh mamanya.


"Kau sendiri?" Tanya Ji An menatap ke belakang tubuh Davin tak menemukan siapapun lagi selain sopir yang mengantarkan koper Davin.


"Tentu saja sendiri. Memangnya mama mengharapkan siapa yang datang lagi?" Ucap Davin balik bertanya.


"Istrimu mungkin?" Jawab Ji An enteng.

__ADS_1


"Apa maksud mama?" Jawab Davin balik pura-pura tak paham ucapan sang mama.


"Jangan coba mengelabui mama Matt, mama selalu tahu apa yang kau lakukan disana termasuk menikahi seorang gadis!" Ucap Ji An menatap putranya lekat penuh intimidasi.


"Kami sudah bercerai." Jawaban singkat Davin membuat Ji An tersentak kaget.


"Kalau kau berniat untuk bermain-main saja, seharusnya kau tak menikahinya atau mendekatinya."


"Aku memang sudah bosan padanya." Bohong Davin sambil menyeruput teh nya yang disiapkan pelayan tadi.


"Apa itu alasanmu tak minta restu mama untuk pernikahan kalian?"


"Aku capek ma, mau istirahat dulu!" Pamit Davin beranjak dari duduknya. Dia melihat sekeliling tak ada siapapun. Padahal dia ingin membuat perhitungan pada salah seorang adik kembarnya itu.


"Okay, nanti malam bersiaplah untuk janji makan malam. Kita lanjutkan perjodohan kalian." Ucap Ji An enteng sembari meninggalkan ruang tamu.


***


Davin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena perjalanan pesawat yang tidak sebentar itu. Bayang-bayang istrinya terlihat selalu menari-nari di pelupuk matanya membuat Davin merasa frustasi.


"Apa yang kulakukan sudah benar?" Guman Davin dalam guyuran shower di dalam kamar mandinya.


"Aku tak mau mengekangnya karena tak mau kehilangan anak kami lagi."


"Aku hanya berharap dia bahagia meski tak disisiku. Karena disisiku pasti akan membuatnya menderita." Guman Davin berulang kali.


"Maaf... maafkan aku...." Bisik Davin memilih untuk keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai bath rope kamar yang sudah disiapkan di dalam kamarnya.


***

__ADS_1


"Kenapa sepi pak?" Tanya Davi saat memaksa sopir Davin mengantar ke villa tempat tinggalnya dulu.


"Memang sepi nyonya. Tak ada alasan bagi mereka yang bekerja di villa karena tak ada yang dilayani mereka lagi." Jelas sopir itu masih sama-sama berada di dalam mobil.


"Bisa kita masuk sebentar pak?" Pinta Davi.


"Maaf nyonya. Pintu gerbang telah digembok. Dan tuan Fero yang membawa kuncinya." Sesal sopir itu.


"Apa tidak ada orang yang membersihkan villa ini pak?"


"Tuan muda telah menyewa jasa bersih-bersih setiap minggu. Itu pun tuan Fero yang mengaturnya." Davi terdiam cukup lama di dalam mobil juga enggan keluar karena gerbang villa yang digembok.


"Antarkan aku pulang pak!" Titah Davi akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang telah lama ditinggalkannya.


"Baik nyonya." Sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Davi menatap lama villa yang menjadi tempat tinggalnya selama beberapa bulan ini. Disana banyak tersimpan segala hal yang terjadi selama dia menjadi tahanan Davin. Pria yang dicintainya juga ayah dari anak yang dikandungnya sekarang.


'Apa yang akan dikatakan ayah dan ibu tentang diriku nanti?' Batin Davi bimbang.


'Apa aku akan mengatakan yang sebenarnya pada ayah dan ibu tentang penculikanku? Kalau sampai aku melapor pada polisi. Davin pasti akan dipenjara. Apa yang akan kukatakan pada anak kami nanti jika sudah besar? Apa aku berani berterus terang? Dan apa masuk akal jika aku menjelaskan pada anakku nanti kalau masuknya ayahnya ke penjara karena laporan ibunya karena telah menculikku dan sampai hamil kamu?' Batin Davi menggeleng-gelengkan kepalanya.


'Tidak. Aku akan menjelaskannya nanti pada orang tuaku.' Batin Davi menyemangati dirinya sendiri.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2