Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 43


__ADS_3

"Salam ma." ucap Ji An memberi salam pada Karina yang terduduk di ranjang kamarnya.


Terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usia sudah tak lagi muda. Tampak anggun dan elegan meski hanya duduk di ranjang karena kesehatannya yang terus menurun. Karina menarik Ji An ke dalam pelukannya.


"Ji An?" ucap Karina lembut tersenyum menatap menantunya yang pernah muncul dalam mimpinya. Dilepasnya pelukan itu.


"Iya ma." Ji An mengecup punggung tangan Karina sopan setelah menyalaminya.


"Kau sangat cantik." Ji An tersenyum tersipu malu.


"Mama juga."


"Kau pasti sangat mencintai Arthur." lagi-lagi wajah Ji An tersipu malu. Karina hanya tersenyum melihat menantunya malu-malu.


"Terima kasih sayang, sudah mencintainya. Tetaplah di sisinya apapun yang terjadi, kalian sudah berjanji saat pernikahan. Sehidup semati sampai maut memisahkan kalian." ucap Karina membuat mata Ji An berkaca-kaca terharu karena ternyata mama mertuanya sungguh wanita yang baik.


"Iya mama, aku mencintainya, Lebih dari diriku sendiri." jawab Ji An tegas. Karina tersenyum.


"Nenek. Apa kabar?" sapa Matty sopan menundukkan kepalanya memberi salam.


"Ah, cucuku. Davino." Karina merentangkan kedua tangannya siap menerima pelukan cucu barunya.


Matty menatap Ji An yang menganggukkan kepalanya mengiyakan. Matty mendekati Karina dan memeluknya erat.


"Nenek." bisik Matty lagi.


"Ya Davino, aku nenekmu. Aku sudah lama menunggumu. Mamamu terlalu lama menyembunyikannya." ucap Karina setelah melepas pelukannya menatap Matty dan Ji An bergantian yang nampak heran. Karina hanya tersenyum tanpa menjelaskan apapun.


"Mama." sela Arthur yang baru datang di ambang pintu.


"Putraku yang tampan." ucap Karina terkekeh melihat Arthur. Arthur mendekat memeluk mamanya penuh kasih.

__ADS_1


"Mama, baik-baik saja?" tanya Arthur dengan raut wajah cemas.


"Tentu saja baik. Dikunjungi menantu perempuanku," menatap Ji An " dan cucuku Davino." beralih menatap Matty yang duduk di tepi ranjang Karina.


"Aku mencintai mereka ma." ucap Arthur tersenyum bahagia.


"Baguslah kau sudah mendapatkan kebahagiaanmu. Mama menjadi lega." ucap Karina serak.


"Mama baik-baik saja?" tanya Arthur semakin cemas melihat mamanya terlihat lemah.


"Mama hanya perlu istirahat. Sudah lebih dari lima jam mama bangun. Dokter melarang mama untuk selalu istirahat setiap lima jam." jelas Karina membaringkan tubuhnya di ranjang. Wajahnya terlihat pucat dan sayu. Namun terpancar kebahagiaan di matanya.


"Baiklah, mama istirahat. Aku akan menemani mama." Karina hanya mengangguk dan mulai memejamkan mata, efek obat sudah mulai menggantung di pelupuk matanya.


**


"Apa mama baik-baik saja?" tanya Ji An begitu keluar dari dalam kamar Karina setelah terlihat tertidur pulas karena efek obatnya.


"Tak apa. Mama akan baik-baik saja." hibur Arthur mengecup puncak kepala istrinya lembut.


Cklek


Pintu kamar Arthur terbuka, terlihat kamar tipe Arthur sekali. Tipe manly dengan aroma maskulin, warna abu-abu dan hitam. Sangat jelas kalau pemiliknya sungguh sangat dingin dan datar. Ji An tersenyum setelah menatap sekeliling kamar itu, ada ranjang king size yang mungkin sangat lebar untuk tidur mereka bertiga.


"Kenapa tersenyum?" tanya Arthur sambil memeluk istrinya dari belakang, mengecupi tengkuk istrinya lembut, meninggalkan tanda disana.


Dia sungguh sudah menahannya tadi saat di mobil perjalanan pulang ke rumah dari bandara.


"Geli Art..." bisik Ji An menggeliatkan lehernya.


"Tapi kau suka kan? Aku selalu membayangkan membuatmu mendesah di bawahku di kamarku." bisik Arthur mesum.

__ADS_1


"Ya..." Arthur malah mencium bibir istrinya lembut, semakin dalam semakin menuntut.


Ji An tak menolaknya. Dia malah mengalungkan lengannya di leher suaminya menikmati ciuman mereka. Bahkan lidah mereka sudah saling membelit. Ji An semakin terbuai. Arthur menggiring tubuh istrinya ke ranjang melanjutkan kegiatan mereka yang pasti akan berakhir panas. Dan tak mungkin akan selesai beberapa waktu saja.


Desahan pun terdengar di seluruh kamar yang kedap suara itu. Hingga membuat keduanya semakin larut dalam percintaan panas yang menggebu diantara keduanya. Arthur mulai melucuti pakaiannya dan juga pakaian istrinya yang entah sudah sejak kapan keduanya kini sudah sama-sama naked dan siap adik kecil Arthur menghentak dibawah sana.


Ji An tampak melenguh menikmati hujaman dari suaminya yang membuatnya semakin terbuai dalam percintaan panas mereka.


"Aku mencintaimu sayang." desis Arthur di sela-sela percintaan mereka.


"Aku juga... sangat..." desis Ji An diiringi desahan sensual yang semakin membuat nafsu Arthur semakin membara.


Hujamannya kini semakin cepat membuat Ji An menggeliat ikut bergerak karena mendekati pelepasannya.


"Aah...sayang... A... aku datang...ahh." desah Ji An dengan seksinya.


"Bersama baby..." desis Arthur.


Hingga keduanya menegang, Arthur semakin membenamkan ke dalam titik sensitif di dalam tubuh istrinya. Setelah dirasa cukup, Arthur menarik adik kecilnya namun tetap memegang kedua paha istrinya.


Cup


Ji An tampak heran dengan suaminya. Akhir-akhir ini suaminya sering sekali melakukan hal itu padanya.


"Semoga adik Matty akan segera hadir." bisik Arthur sensual. Ji An hanya tersenyum kecil melihat perlakuan lembut suaminya.


TBC


Hai para pembaca, baca juga karyaku yang lain ya...


__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya, makasih 🙏


__ADS_2