Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 3


__ADS_3

Suara ciuman dan decapan kedua bibir yang beradu memenuhi ruangan Davin yang kedap suara. Tanpa sadar lengan Davi melingkar di leher Davin. Davin tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ciumannya turun ke leher Davi yang sudah mendongak seolah memberikan akses padanya untuk memberikan lebih dari sekedar ciuman di lehernya.


Davin mengecupnya dan meninggalkan jejaknya di leher jenjang Davi. Davi mendesah kenikmatan.Davin tak menghentikan gerakannya, jemari tangannya mulai menelusuri lekuk tubuh Davi yang tampak menonjol dalam kemejanya yang tidak terlalu ketat namun terlihat pas di lingkaran lengan Davin.


Tangan satunya meraih pinggang mungil itu untuk mengikis jarak di antara keduanya.


Nafas keduanya memburu, sudah berkabut gairah dan mata yang menyiratkan hasrat. Hingga semakin lama terpapang nyata di depan Davin dada kembar yang sudah membuatnya sesak sejak tadi yang masih terbungkus bra warna merah.


Hingga dering ponsel milik Davi membuyarkan akal sehat Davi yang langsung merona memerah karena malu dengan dirinya yang begitu mudah terlena. Davi sontak mendorong dada Davin dan langsung terdorong menjauh.


Davin yang belum siap masih menikmati keindahan di depan matanya terkejut dan terdorong ke belakang menubruk lemari tempat mereka mencari berkas tadi. Davi buru-buru membenahi pakaiannya dan keluar dari ruangan CEO nya. Davi merutuki kebodohannya karena terlena dengan ciuman atasannya yang sempat ditolaknya.


Namun pesona Davin begitu besar hingga dirinya terlena. Davi sungguh merasa bersalah pada kekasihnya yang sedang menuntut ilmu S2nya di luar negeri sambil mengurus bisnis orang tuanya.


Ponsel yang sejak tadi berdering kini berdering kembali menampakkan nama my love pada ponselnya. Davi ragu mengangkat panggilan itu. Dia sungguh merasa bersalah karena mengkhianati kekasihnya.


Flashback on


Davi melirik atasannya yang menatapnya penuh kemesuman. Tatapan matanya seakan ingin menelanjangi dirinya.


"Maaf pak." ucap Davi menghentikan dirinya meraih berkas laporan tadi dan menoleh menatap Davin yang masih menatapnya dengan tatapan lapar.


"Saya... keluar sebentar." pamit Davi namun berkas-berkas yang tak jadi diambil Davi tadi hendak jatuh mengenai kepala Davi, spontan Davin langsung menarik tubuh Davi untuk menghindari berkas-berkas itu hingga menjadikan tameng tubuhnya agar berkas-berkas itu mengenainya.


Tanpa sadar Davin mendekap erat tubuh Davi ikut terbenam di dalam dada bidang Davin. Sesaat Davi tak mampu berpikir jernih karena merasakan wangi maskulin pada tubuh atasannya. Wangi yang membuat Davi nyaman dan terlena. Entah siapa yang memulai, keduanya telah saling berciuman mesra.


Flashback off


"Ah shit... apa aku harus bermain solo?" umpat Davin kesal, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi di ruangannya untuk menuntaskan hasratnya yang sudah di ubun-ubun.


"Ah... shit... ahh... Davi... oh shit..." umpat Davin mencapai pelepasannya dengan membayangkan tubuh Davi yang hampir didapatkannya.


"Ah sial, aku hanya membayangkannya saja tapi kenapa masih bangun juga?" umpat Davin berkali-kali dengan nada emosi.

__ADS_1


**


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Davi segera membereskan meja kerjanya dan langsung pergi meninggalkan ruangannya. Dia tak mau berpapasan dengan Davin atasannya. Dia masih sangat malu karena kejadian tadi.


Davin melirik jam dinding ruangannya sudah waktunya jam kantor berakhir. Dia segera meninggalkan ruangan setelah Fero muncul ke ruangannya. Saat Davin keluar ruangan, dia melirik meja sekretaris namun sudah kosong.


'Melarikan diri! Huh...'batin Davin tersenyum sinis.


Namun saat tiba di lobi gedung, Davin melihat pemandangan yang membuatnya mengepalkan erat tangannya, rahangnya mengeras. Matanya memerah menahan amarah.


"Mari tuan!" Fero membuyarkan lamunannya, Fero mengikuti arah pandang tuannya.


Terlihat Davi dengan seorang pria berpelukan mesra. Pria itu tampak mengecup kedua pipi Davi. Davin semakin emosi, Huh, dasar wanita murahan! umpat Davin masuk ke dalam mobilnya yang sudah dibuka pintunya oleh Fero.


Matanya masih menatap Davi yang berperilaku mesra pada pria itu. Apakah dia suaminya, tapi bukannya statusnya masih lajang? Ataukah pacarnya. Pasti pacarnya. Tidak, Davi hanya milikku. batin Davin mengepalkan tangannya melihat Davi masuk ke dalam mobil pria itu yang memperlakukan Davi romantis dengan membukukan pintu mobil untuk penumpang.


"Fero..."


"Ya tuan?"


"Baik tuan."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Davin masih menatap mobil itu yang sudah menghilang di tikungan depan namun Davin harus lurus ke arah depan.


***


Keesokan harinya, pagi itu Davi datang tepat waktu karena kekasihnya mengantarkannya berangkat kerja. Oh ya, kekasihnya sudah pulang ke negerinya yang sudah wisuda dari gelar S2nya. Davi senang sekali, apalagi semalam saat kekasihnya mengajaknya makan malam, kekasihnya akan seterusnya tinggal di sini.


Tentu saja Davi sangat senang sekali, dia sekarang tak akan LDR an lagi dengan kekasihnya. Dan kekasihnya berjanji setelah menjalankan bisnis orang tuanya disini sedikit mengalami kenaikan dia akan melamarnya pada orang tua Davi.


Maka dari itu senyum Davi sejak berangkat ke kantor tak pernah luntur dari bibirnya. Bahkan dia sudah melupakan kejadian memalukan kemarin saat di ruangan atasannya.


Davin yang baru saja tiba melihat Davi banyak tersenyum melihat Davin juga ikut tersenyum senang.

__ADS_1


'Huh, pagi-pagi sudah senyum-senyum tak jelas. batin Davin mendekati meja Davi, namun Davi belum sadar jika sedang diperhatikan.


"Ah, selamat pagi pak." sapa Davi melihat bayangan kaki yang berdiri di dekat mejanya. Davin berdehem.


"Ikut ke ruangan saya!" titah Davin.


"Tapi pak..." Davin berbalik menatap Davi yang ketakutan.


"Kenapa? Kau takut kejadian kemarin terjadi lagi! Atau..." Davin mendekati Davi lagi yang malah mundur, wajahnya sudah memerah mengingat kejadian kemarin lagi "kau menginginkan hal kemarin terjadi lagi?" goda Davin tersenyum penuh arti.


"Tidak!" teriak Davi tanpa sadar menutup mulutnya karena berteriak "Maaf pak." Davi menundukkan kepalanya meminta maaf berulang-ulang.


Wajah Davin tampak kecewa, seketika teringat yang dilihatnya kemarin saat pulang kerja, kemesraan Davi dengan seorang pria. Wajah Davin ganti terlihat tajam dan dingin menatap Davi yang juga menatapnya ketakutan. Davin langsung berbalik menuju ruangannya.


Davin duduk di kursi kebesarannya. Mengepalkan tangannya kesal, entah kenapa dia sekesal ini mengingat Davi dengan pria lain. Dia sungguh tak rela gadis itu selain dengan dirinya.


"Ah, sial.... brengsek." umpat Davin.


Fero memasuki ruangan Davin yang terlihat sedang menahan amarahnya.


"Tuan, ini jadwal anda hari ini!" Davin tampak memicingkan mata.


"Kenapa kau yang mengantarnya?" tanya Davin tak suka.


"Ah, gadis itu maksut saya Davi sedang ke bawah mencari berkas meeting hari ini. Saya yang memintanya." jawab Fero tanpa rasa bersalah.


"Kau... kenapa kau tak mencarinya sendiri?" ucap Davin semakin kesal.


"Selain itu, saya ingin memberikan hasil laporan yang anda minta kemarin." Fero menyodorkan sebuah map.


Davin mengernyitkan dahinya masih belum mengerti. Namun dia tetap menerimanya. Dan membuka map itu perlahan.


"Ah, jadi pria kemarin adalah kekasihnya?" tanya Davin menatap Fero yang menganggukkan kepalanya mengiyakan.

__ADS_1


"Dan mereka selama ini LDR an dengan pria itu yang bernama Revano Saputra menempuh pendidikan S2 nya di London atas perintah orang tuanya. Dan kemarin dia baru pulang dari bandara dan langsung menjemput Davi." jelas Fero membuat Davin semakin emosi hingga membuang map itu di meja dengan kasar.


TBC


__ADS_2